Langsung ke konten utama

Swara Hijau Farm, Asa dan Inovasi Urban Farming Bersama Pemulung di Kampung Sumur Klender

Area Melon
Wasriyah, pemulung yang menjadi petani hidroponik bersama Lisna M. pengurus Swara Hijau Farm (dok.windhu)

Hari masih menunjukkan  pukul 7.00 saat Wasriyah mengawali rutinitasnya untuk mengecek kondisi tanaman melon hidroponik  di rumah kaca (green house)  Swara Hijau Farm, Kampung Sumur, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Perempuan paruh baya ini bertanggung jawab agar buah bulat hijau itu  dapat tumbuh subur dan optimal sejak penanaman, perawatan, hingga saat panen. 

Wasriyah tak sendiri berkebun hidroponik di Swara Hijau Farm Secara berkelompok ada beberapa ibu yang bertugas secara bergilian untuk merawat tanaman hidroponik lainnya, seperti Siomak dan Pokcoy.

“Saya disuruh ngurusin melon,” ujar Wasriyah saat ditemui di Swara Hijau Farm.

Perempuan ini sebelumnya tidak pernah membayangkan bisa menjadi petani hidroponik dalam sebuah kelompok tani Swara Hijau Farm selama bertahun-tahun. Menanam hal yang baru baginya. Apalagi, Wasriyah sehari-hari hanya bekerja sebagai pemulung yang mengumpulkan barang bekas di jalanan.

Swara Hijau Farm
Swara Hijau Farm, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur (dok.windhu)

Kebun Hidroponik di Kampung  Pemulung

Munculnya kebun hidroponik di kampung pemulung bukanlah suatu hal yang tiba-tiba. Pandemi covid-19 dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran penyakit, yang diberlakukan di Jakarta membuat ruang gerak para pemulung untuk mencari barang bekas juga terbatas.  Begitupun halnya di daerah Klender, Duren Sawit,  Jakarta Timur.

“Para pemulung nggak punya aktivitas keluar, jadi diciptakan aktivitas untuk mengisi waktu luang mereka dengan berkebun,” tutur Endang Mintardja, Pendiri sekaligus Ketua Kelompok Tani Swara Hijau Farm.

Endang Swara Hijau
Endang Mindtardja, pendiri sekaligus ketua kelompok tani Swara Hijau Farm (dok.windhu)

Swara Hijau Farm, kata Endang, didirikan pada tahun 2020, sebagai unit kegiatan dengan fokus urban farming dari Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta.  Yayasan yang semula fokus pada pemberdayaan anak terlantar mulai masuk wilayah itu sejak tahun 2015. Kawasan Kampung Sumur  RT.007 RW.10  memang dikenal sebagai Kampung Pemulung.

Sepanjang jalan seukuran satu mobil yang dilewati di jalan Kampung Sumur, dengan mudah ditemui gerobak pemulung ataupun mobil truk yang membawa berbagai tumpukan barang bekas, seperti galon dan kardus dari pengepul.

Bangunan berdinding kayu,triplek, seng, batako tanpa plester, serta beratapkan asbes  terlihat di sisi kiri dan kanan jalan. Debu berterbangan saat melintas di RT dengan jumlah padat penduduk itu. Anak-anak yang bermain di jalan.

Kampung pemulung
Kampung Sumur, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur (dok.windhu)

Namun, menurut Endang,  kondisi Kampung Sumur yang menjadi tempat tinggal para pemulung dari berbagai etnis itu  jauh lebih baik sekarang. Lahan garapan seluas 5 hektar yang sudah dihuni selama 32 tahun lalu itu kini jalannya sudah dicor secara swadaya.

Dulu jalan-jalan disitu masih tanah yang becek ketika hujan datang. Belum ada listrik dan internet yang masuk. Sejumlah pemulung bahkan tidak memiliki kartu identitas, kartu tanda penduduk. Apalagi, memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah BPJS Kesehatan.

Kp Pemulung
Truk pengangkut barang bekas pengepul  di Kampung Sumur (dok.windhu)

Dimulai dari Melon Hidroponik

Melalui Swara Hijau Farm, Endang Mintardja ingin para pemulung yang sebelumnya hanya mengharapkan bantuan sosial bisa hidup lebih mandiri dan memiliki hidup yang lebih baik.  Apalagi, tak dipungkiri jika sejumlah pemulung sering membawa anak saat memulung bukan sekedar mencari barang bekas, tapi sekaligus untuk mengharapkan belas kasihan orang yang lewat.

Karena itulah Endang memaksa diri belajar  secara otodidak setiap hari minimal selama dua jam dari YouTube mengenai tanaman hidroponik. Berkebun hidroponik dinilai sebagai solusi tepat. Selain mengisi waktu luang, menciptakan ketahanan pangan  di lingkungan, dan tentunya berpeluang mendapatkan tambahan penghasilan.  

Menurut Endang, kemampuan budidaya tanaman hidroponik yang sudah dipelajarinya kemudian ditularkan kepada para pemulung. Budi daya ikan dalam ember (budikdamber) menjadi cikal bakal terbentuknya Swara Hijau Farm.

Namun, saat itu tak berjalan mulus. Dari 50 pemulung yang diminta untuk merawat ikan lele dalam ember yang di atasnya ditanami kangkung, sebanyak 50% gagal total. Salah satunya karena kangkung yang dimakan tikus.

bibit SH
Semai bibit Swara Hijau Farm (dok.windhu)

Akhirnya, diputuskan para pemulung  lah yang datang ke lokasi bangunan Swara Hijau Farm, sekaligus menandai berdirinya kegiatan pertanian hidroponik. Secara bersama-sama, para pemulung itu yang akan melakukan penyemaian bibit, penanaman, perawatan, hingga tahap pemanenan.

Melon hidroponik jenis premium  dipilih sebagai buah yang dibudidaya karena masa panennya yang lebih cepat dibandingkan jenis buah lainnya. Sekitar 30 pemulung, yang sebagian besar para perempuan, ikut serta menjadi anggota pertanian hidroponik.

Agar berjalan lancar, para pemulung ini dibagi ke dalam lima kelompok. Ada kelompok yang mengurusi tanaman setiap hari dengan sistem piket,  pada pagi hari mulai pukul 7.00-9.00 dan sore hari pukul 15.00-17.00.

Di luar jam itu, para pemulung bebas untuk melakukan aktivitasnya. Entah memasak,mengurus anak, ataupun memulung untuk mencari nafkah. Setiap minggu biasanya dilakukan evaluasi mengenai kekurangan dan pencapaian selama pengerjaan pertanian.

Ayam SH
Endang Mintardja di depan kandang ayam petelur semi umbaran (dok.windhu)

Bertani hidroponik merupakan hal yang baru di kawasan itu. Menurut Endang, pada awalnya para ibu pemulung ini bingung karena tidak memiliki latar belakang tanam menanam sama sekali. Selain itu, terbiasa bekerja instan. Sehari-hari hanya memunguti barang bekas.

“Di awal mereka bingung. Selama ini kan aslinya instan. Cari barang, dapat uang buat makan hari itu. Menanam butuh proses dan waktu. Harus semai dulu, pindah tanah, dirawat, kemudian panen baru bisa merasakan hasil,” kata Endang.

Namun, dengan sinergi yang baik para pemulung bersedia belajar untuk berproses dan bersabar menunggu hasil. Untuk menjaga konsistensi, mereka saling mengingatkan dan memberi semangat melalui whatsapp grup.

Swarahijaufarm
Anggota kelompok tani Swara Hijau mayoritas perempuan (dok.windhu)

“Mereka belajar secara praktek 90 % dan sisanya 10% teori. Mereka nggak suka terlalu banyak teori,” ujar Endang, yang saat itu didampingi sejumlah ibu pengurus Swara Hijau Mandiri.

Perjalanan budidaya melon hidroponik di awal masa belajar tak selalu seperti yang diharapkan. Pernah, di kala awal mengalami hasil melon yang rasanya anyep seperti mentimun. Upaya untuk  menemukan racikan nutrisi melon yang tepat pun terus dilakukan.

Usaha tak mengkhianati hasil. Saat ini, melon hidroponik varietas Sweet net dan Fukusawa yang diproduksi bisa dipanen dengan tingkat kualitas pengukuran kemanisan memuaskan di 15-16 % Brix.  Berat melon yang dipanen bisa mencapai berat dua kilogram dan bisa menghasilkan 200 melon.  

Secara perlahan tapi pasti,  Swara Farm tak lagi hanya membudidayakan melon hidroponik. Bertahap berkembang luas menjadi integrated farming. Terbentuk sistem pertanian terpadu, yakni konsep pengelolaan pertanian  dalam satu lokasi yang menggabungkan tanaman, peternakan, dan perikanan.

Kolam ikan SH
Kolam ikan Nila Swara Hijau Farm (dok.windhu(

Swara Hijau Farm beranjak menuju urban farming secara total alias pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas.  “Sekarang Swara Hijau Farm fokusnya ke integrated farming, bagaimana menciptakan pertanian terintegrasi,” ujar Endang.

Kini, di atas lahan garapan Kampung Sumur yang dikelola Swara Hijau Farm, terdapat total  650 meter lahan  yang digunakan untuk pertanian terpadu perkotaan. Lahan seluas 500 meter lokasinya menyatu dengan sekretariat Swara Hijau dimanfaatkan untuk rumah tanaman hidroponik siomak dan kangkung. Selain ada juga budidaya ikan nila dengan sistem teknologi RAS (Recirculating Aquaculture System), ternak ayam dengan kandang semi umbaran, dan kandang maggot untuk budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly). 

Berjarak beberapa ratus meter, sebuah green house melon hidroponik dan bank sampah  Swara Cipta Mandiri, yang berdiri di atas lahan sekitar 150 meter. Ini merupakan green house kedua yang dimiliki Swara Hijau Mandiri seluas 50 meter dengan 160 lubang dan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technology).  

EM SH
Endang Mintardja di kolam budidaya ikan Nila (dok.windhu)

Perubahan Perilaku dan Tambahan Penghasilan  Pemulung

Dari pertanian hidroponik Swara Hijau Farm yang dimulai dari melon, para pemulung mendapatkan tambahan penghasilan di luar mengumpulkan barang bekas. Setidaknya, berhasil menambah penghasilan bagi mereka sekitar 10-50 % dari penghasilan mereka sebenarnya.

Setiap bulan dilakukan bagi hasil usaha dengan pemulung yang jadi petani hidroponik, mulai dari budidaya maggot,penjualan maggot fresh,penjualan ikan marinasi, penjualan sayuran,dan penjualan sayuran.

“Itu kita bagi setelah dikurangi ongkos operasional, seperti nutrisi, bibit, pakan ayam, dan pakan ikan,” tutur Endang.

Para pemulung minimal bisa menghasilkan dari Swara Hijau paling kecil Rp.150.000, paling besar Rp.300.000. Namun lebih dari itu, ada yang lebih penting, yakni terjadi perubahan perilaku dari para pemulung. Mereka belajar untuk lebih menghargai proses dan lebih berdaya karena sudah bisa menghasilkan dari berkebun. Tak lagi hanya berharap bantuan sosial (bansos).

Siomak
Siiomak (dok.windhu)

Para pemulung belajar tidak semua bisa instan untuk menghasilkan uang. Dari tidak tahu, para pemulung  menjadi tahu, kemudian paham, mau dan bisa melakukan kegiatan berkebun hidroponik.  Bahkan, pengalaman menanam hidroponik yang menyenangkan  telah membuat Wasriyah  jatuh suka.

Perempuan ini  kemudian memutuskan untuk tidak lagi memulung. Selain pertimbangan usia, menjadi petani hidroponik membuatnya lebih leluasa.Baik dari segi kepastian penghasilan dan waktu istirahat yang dimiliki. Ada ilmu pertanian  yang didapat. Teman pun bertambah banyak. “Yang tadinya mulung jadi nggak lagi. Jadi  berhenti mulung,” ucapnya.

Menurut Wasriyah, ada perbedaan besar antara menjadi pemulung atau berkebun. Dulunya, dia terbiasa berangkat mulung pukul 5 sore dan pulang jam 1 dini hari.Setelah memulung, masih harus memilah barang yang didapat sesuai jenis dan kategorinya, yang masing-masing  memiliki harga jual berbeda.

“Kalau kita mulung, kita nyari sampai nyortir, sampai ngitung. Sampai tiga kali kerja. Kalau disini  kalau sudah kerja ya sudah, kita bisa istirahat, masak, atau nyuci,” tutur Wasriyah, yang salah satu anaknya juga membantu dalam pakan ikan.

Wasriyah di depan green house melon dampingan Yayasan Astra YDBA  (dok.windhu)

Mendapatka Pendampingan Yayasan Astra-YDBA

Endang menyadari untuk bergerak maju, sinergi dan akselerasi dibutuhkan. Swara Hijau Farm terbuka dengan berbagai pihak untuk mendapatkan penguatan kapasitas, menambah literasi, dan memperluas pasar.

Salah satunya pendampingan dari Yayasan Astra- YDBA sejak tahun 2023. Awalnya, Endang tak menyangka akan menjadi salah satu UMKM binaan CSR PT United Tractors Tbk. Ternyata LPB Cakung telah memetakan pelaku pertanian hidroponik yang ada di wilayah Jakarta Timur.  

Sejak saat itu, Swara Hijau Farm pun mengikuti berbagai kegiatan pendampingan. Spanduk penadan UMKM dampingan terpampang pada bagian depan green house melon hidroponik. “Pelatihannya praktek langsung.Untuk pertanian hidroponik, alat harus punya tempat sendiri. Ada SOP di Green House seperti apa, penanganan hama seperti apa, pengecekan nutrisi bagaimana, “ ujar Endang.

Saat ada rombongan datang ke Green House, tidak semua orang bisa langsung masuk begitu saja. Ada jumlah maksimalnya. Segala sesuatunya ada SOP. Hal yang sebelumnya tidak diketahui Endang.  “ Kita jadi memahami bagaimana bisa membuat SOP. Juga yang namanya 5 R,yakni Ringkas, Rapi,Resik, Rawat, dan Rajin. Sampai akses jalan diperhatikan,” tuturnya.

Begitupun dengan halnya pencatatan keuangan yang dulu hanya dilakukan manual sehingga ada yang tidak tercatat. Untuk keuangan sekarang lebih rapih dan ada yang menangani khusus. Sejumlah

 pelatihan yang telah diikuti Swara Hijau adalah pelatgab Scale up bisnis hidroponik, Racik Nutrisi, Pengendalian Hama, 5 R dan K3L, pencatatan keuangan, dan manajemen produksi tanaman hidroponik.

Gerobak pemulung (dok.windhu)

Mengembangkan Produk Turunan

Tak ingin berpuas dengan hasil yang telah dicapai sejak didirikan, Endang mengatakan jika Swara Hijau Farm terus berupaya untuk terus meningkatkan kualitas dan tambahan penghasilan, dan kemandirian pemulung.

Untuk sayuran, seperti siomak saat ini telah memiliki supplier khusus. Untuk ikan marinasi dupasarkan ke pelanggan terdekat dan berkeliling. Setiap kali ada bazar selalu ikut serta, termasuk yang diadakan suku dinas ketahanan pangan kelauatan dan pertanian (KPKP) Jakarta. Selain itu, ada juga penjualan online.

Misalnya, untuk ikan yang jika dijual segar hanya Rp.40.000 per kilogram, sementara jika dijual marinasi bisa Rp. 50.000. Ada selisih harga yang bisa didapatkan. Untuk ikan, dengan kapasitas 8 kolam berjumlah sekitar 2000 ikan. 

Begitupun dengan budidaya maggot,yang bisa dikembangkan untuk pakan ikan dan pakan ayam alternatif. Kebutuhannya terus meningkat mencapai harga sekitar Rp. 450.000 per kilogram, padahal sebelumnya hanya Rp. 410.000 dan Rp.420.000  per kilogram. Jadi ada kenaikan sekitar 10-20 %.

Untuk ayam petelur sudah bisa produktif dan menghasilkan usia 5 bulan. Dari kandang yang berisi 18 betina dan 2 jantan rata-rata menghasilkan 10-12 terlur per hari.  Untuk siomak dari 250 lubang hidroponik dapat dihasilkan panen 20 kilogram dengan silus 25-27 hari.

Lisna SH
Lisna di depan Bank Sampah Kampung Sumur (dok.windhu)

Masih banyak yang ingin dilakukan Swara Hijau Farm. Salah satunya untuk menata kawasan menjadi lokasi wisata urban farming. Masyarakat dan anak sekolah juga belajar mengenai bank sampah. Di Kampung Sumur juga banyak terdapat UMKM

Menurut Linas Marida, pengurus bank sampah, para pemulung diajak untuk membiasakan menabung sampah dari hasil mereka memulung. Biasanya, mereka akan mengambil tabungan itu menjelang hari raya atau saat ada kebutuhan mendesak.

Saat ini Swara Hijau Farm sudah dipercaya melakukan perawatan budi daya melon di Sentra Mulya Jaya, Pasar Rebo  milik Kementerian Sosial. Saat ini juga di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pondok Bambu  juga sedang dibangun budidaya melon. Peserta pelatihan dan pendampingan adalah warga binaan Lapas.

***




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minggu Pagi di Aksi #TolakPenyalahgunaanObat Car Free Day

MATA saya menatap kemasan kotak bertuliskan Dextromethorphan yang ada di meja BPOM. Di atas meja itu terdapat sejumlah obat-obatan lain bertuliskan warning, yang berarti peringatan. Ingin tahu saya memegangnya. Membaca kotak luar kemasan obat itu.  “Ini obat apa?” tanya saya. Adi, petugas BPOM itu memperlihatkan isi kotak kemasan. Menurutnya, obat Dextromethorpan sudah ditarik dari pasaran. Sudah tidak digunakan lagi karena dapat disalahgunakan oleh pemakainya. Dextromethorpan yang di kotak kemasannya tertera generik dan terdiri dari 10 blister ini masuk dalam kategori daftar G. Banyak yang menyalahgunakannya untuk mendapatkan efek melayang (fly). Fly? Pikiran saya langsung teringat kepada peristiwa penyalahgunaan obat yang menghebohkan negeri ini satu bulan lalu di Kendari, Sulawesi Tenggara. Korbannya yang anak-anak masih pelajar dan mahasiswa ini. Pertengahan September 2017, semua terkaget-kaget dengan kabar yang langsung menjadi topik pembica...

Beli Buku Hanya Bayar Setengah di Buka Gudang Gramedia

Selama satu bulan, digelar Gudang Buku Gramedia, di Jl. Palmerah Barat, Jakarta. Diskon sebesar 50 % untuk semua jenis buku. Untuk buku komik hanya Rp.1000, dengan ketentuan minimal pembelian 10 buah (dok.windhu) There is no friend as loyal as book . Kalimat kutipan Ernest Hemingway, novelis yang karya-karyanya mendunia itu benar adanya. Buat sebagian orang, termasuk saya, buku sudah menjadi teman yang sangat setia. Sejak masih anak-anak hingga kini dewasa. Nah, begitu mata memandang seluruh ruangan yang disebut Buka Gudang Gramedia, Jl Pamerah Barat dan melihat tumpukan ratusan buku sesuai dengan kategorinya jelas terlihat di depan mata, rasa senang timbul.  Jumlah buku di rumah, si teman setia sudah jelas akan bertambah.Harga buku di zaman sekarang kalau karya top atau penulis bermutu pastilah mendekati Rp.100.000 atau lebih, per satu bukunya. Kegiatan diskon buku seperti Buka Gudang Gramedia, jadi salah satu solusi menambah bahan bacaan.  Ragam piliha...

D’Flora, Lipstik Untuk Bibir Hitam dengan Pilihan Warna Bagi Perempuan Aktif

Pilihan Lipstik untuk Bibir Hitam saat ini beragam. D'Flora, hadir dengan kandungan Jojoba dan vitamin yang membuat bibir terlihat menarik dan sehat. (dok.windhu) Awalnya saya tidak begitu memperhatikan mengenai masalah bibir hitam. Semua itu baru saya sadari saat Arni, salah seorang kakak perempuan   saya   mengeluhkan warna bibirnya. Jika warna lipstiknya sudah memudar, warna bibir aslinya langsung terlihat. Kakak merasa perlu lipstik untuk bibir hitam yang tepat digunakan sehari-hari.  “Pernah merokok, kali,” ucap saya asal sambil bercanda. Ups, jelas kakak saya tidak terima.Kakak tidak pernah menyentuh ataupun mencoba-coba rokok. Bahkan mencium bau asap rokok di suatu tempat keramaian umum,   kakak sudah tidak suka. Mungkin saya cukup beruntung karena warna bibir saya tidaklah segelap bibir kakak. Saya tahu usaha kakak untuk membuat warna bibirnya lebih merah dan menarik. Sesekali saya juga mengikutinya. Buat perempuan, memiliki warna bibir...