Langsung ke konten utama

Berkat “Gak Beres”, Usaha Dagang Es Yudi Efrinaldi Jadi Viral dan Capai Omset Ratusan Juta


Yudi Efrinaldi
Yudi Efrinaldi dengan merek Es Gak Beres yang viral (sumber foto:IG yoediefri)

Apa yang terlintas saat mendengar ada yang menyebut “Gak Beres”? Pasti sesuatu yang  tidak benar, tidak teratur, tidak rapi, ataupun tidak bagus. Namun, jangan salah. Berkat “Gak Beres”, Yudi Efrinaldi malah jadi pengusaha muda dan CEO yang menginspirasi sehingga mendapatkan apresiasi pertama kategori Kewirausahaan di Satu Indonesia Awards 2021.

 Yudi  Efrinaldi, Lelaki asal Asahan, Sumatera Utara ini tidak menyangka mampu melewati proses seleksi dari 13.148 peserta sehingga mendapatkan apresiasi ketika itu. Sama sekali tidak menduga jika brand yang nyeleneh malah bisa membawa manfaat yang banyak bagi masyarakat.

 “Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga yang awalnya tidak pernah jualan dan wirausaha bisa berjualan es sederhana yang dikemas dengan kekinian di rumahnya,” kata Yudi, dalam webinar Inspiranation: Wirausaha Muda Kreatif dan Inspiratif, di channel  youtube Satu Indonesia,.

“Es Gak Beres” merupakan nama merek dagang es kekinian milik Yudi Efrinaldi. Berbeda dengan nama mereknya yang aneh dan tidak lazim, Yudi sangat beres dengan rasa es yang dijualnya dan beres juga dalam menjalankan usahanya.  

Es Gak Beres
Es Gak Beres dijual gerobakan (sumber :IG @yoediefri)

Belajar Membuat Es Mudah dan Enak dari Youtube

Merek  Es Gak Beres terinspirasi dari ucapan  temannya yang sering berlangganan tapi tidak pernah kebagian. Saat itu tahun 2019. Yudi memulai usaha di pinggir jalan dengan menjual es buah yang diblender dan ditempatkan dimasukkan dalam tong seharga Rp.5.000. Es yang dijualnya laku dan bisa habis sebelum jam berbuka puasa pukul. 18.00.  

Dari semua yang jualan di lokasi itu, es buatan Yudi cepat habis.  Sayangnya, penjualan musiman es buah usai ramadan justru tidak laku karena waktu penualan yang panjang yakni dari pagi hingga suore. Waktu berjualan setelah lebaran yang  lebih lama dibandingkan saat jelang buka puasa, yang hanya beberapa jam sajaMulailah timbul keluhan. Yudi dibully karena rasanya nggak enak dan aneh. Sudah asam.

 “Nah dengan bully-bullyan itu, saya belajar satu malam di youtube, dari internet, mencari resep baru, yang bisa diterima masyarakat banyak  dengan pembuatan yang mudah dan tahan lama,” tutur Yudi.

Es Gak Bere Yudi ((sumber :IG @yoediefri)

Yudi mencari resep es yang mudah dibuat dan rasanya enak. Akhirnya berhasil ketemu satu resep yang menurutnya pas. Paginya mencoba, sorenya langsung jualan.

Esnya terdiri atas sirup campur susu dan jelly. Mirip seperti minuman boba yang saat ini tren, selain minuman Green Tea ataupun Thai Tea. Lelaki lulusan SMA 8 Muhammadiyah Kisaran ini pun memutuskan berjualan es dengan tetap menggunakan brand “Es Gak Beres”.

Awalnya, Es Gak Beres Tidak Diterima

Kisah usaha Yudi memang tak selalu mulus. Di awal-awal penjualan, es Gak Beres sempat nggak diterima. Banyak yang bertanya, Kok mereknya Gak Beres? Ditertawakan. Namun, setelah mereka mencoba rasanya, Es Gak Beres malah disukai. Banyak yang kemudian membawa teman hingga tembus seribu porsi satu hari. Semakin hari bahkan semakin naik penjualannya.


Penjualan Es Ga Beres Langsung Laris (sumber :IG @yoediefri)

“Alhamdulilah saat jualan pertama, masyarakat banyak yang suka dan kemudian viral karena mereknya dan diterima oleh banyak orang, melebar kemana-mana sampai keluar provinsi,” ujar Yudi.

Lelaki ini masih ingat saat usahanya masih  tidak diterima masyarakat. Ada anak sekolah SD ingin membeli Es Gak Beres, merengek kepada orang tuanya tapi tidak diiizinkan  karena mereknya dianggap nggak bener.

Namun sejalan dengan waktu, ketika orang tuanya coba, eh ternyata esnya enak. Harganya murah dan terjangkau.


Nama Es Gak Beres yang Unik Bikin Penasaran (sumber :IG @yoediefri)

Kenapa berani menggunakan branding Es Gak Beres?

Mendengar “Gak Beres” , bisa saja mengubah asumsi seseorang berkonotasi negatif. Yudi megakui sebenarnya, di saat awal pun takut menggunakan nama merek Es Gak Beres ini. Namun  di satu sisi lain, Yudi berpikir jika penggunaan Es Gak Beres sebagai brand agar orang datang.

 Dengan merek yang unik, orang akan bertanya-tanya, kenapa namanya Es Gak Beres. Karena penasaran, calon pembeli pun datang. Kemudian malah menjadi viral karena nama merek yang nyleneh. Strategi marketing Yudi berhasil.  

 Dalam sebuah status instagramnya @yoediefri, Yudi menulis jika merek itu adalah magnet. Entah berapa yang banyak bertanya tentang es ini, atau tertawa sambil membaca dan memberi tahu teman yang di sebelahnya. Eh, eh lihat itu.hahahaha gak beres, Tanpa disadari es gak beres ini sudah tertanam cantik di setiap kita. Salam Wirausaha.


Terpilih sebagai peneruma apresiasi Satu Indonesia Awarf 2021 (sumber :IG @yoediefri)

Bahkan, suatu hal yang tidak diduga Yudi adalah mendapatkan apresiasi kategori wirausaha dari Satu Indonesia pada tahun 2021.

“Saya mendirikan es gak beres  dengan brand yang tidak wajar dan tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat Indonesia, bahkan sekarang diterima masyarakat banyak. Ya Alhamdulillah, membawa saya menjadi pemenang satu Indonesia Award.,” kata Yudi.  

Dari Honorer Bergaji Rendah, Lalu Jadi Pengusaha Kaya

Sebelum menjadi pengusaha sukses, Yudi hanyalah karyawan honorer sejumlah institusi. Gajinya hanya Rp.500.00 hingga Rp.1 juta. Karena faktor ekonomilah yang membuatnya tertarik untuk membuat usaha jualan es.


Berkat Es Gak Beres, Bisa buka cabang ke luar provinsi (sumber :IG @yoediefri)

Yudi mengundurkan diri dari status pekerja honorer tahun 2017  dengan niat untuk menjalankan usaha. Mulailah saat itu Yudi berjualan bubur ayam, pisang goreng, buka ojek online di Kisaran. Keberuntungannya  muncul pada usaha Es Gak Beres yang membawanya viral dan bisa membuka cabang di berbagai tempat.

“Dasar awal berani melakukan jual beli atau berdagang adalah faktor ekonomi. Karena kita susah, kita sulit ekonomi, jadi harus buat ide kreatif harus jual apa. Untuk makan besok apa,” tukas Yudi.  

Kini usahanya sudah berjalan 3 tahun dengan perkembangan pesat. Padahal Yudi tidak terpikir sampai sana.  Perkembangan mitra usaha berjalan secara alami (organik). Kalau usaha Es Gak Beres yang memakai gerobak di kabupaten sebelah viral, ada ya1ng kemudian meminta untuk membuka cabang.


Yudi E, CEO Es Gak Beres (sumber :IG @yoediefri)

Semuanya berkembang dari mulut ke mulut. Tanpa Iklan. Awalnya murni karena faktor ekonomi ingin menambah penghasilan. Yudi pun masih ingat mitra pertamanya. Seorang ibu yang minta

Supaya bisa bergabung karena sedang kesulitan ekonomi. Biasanya ibu itu jualan buah.  Yudi pun menolongnya dan mengizinkan untuk jadi mitra meski saat itu belum ada niatan untuk buka cabang.

Semakin lama semakin banyak yang join cabang “Es Gak Bener”, sehingga membutuhkan 40 karyawan untuk membuat bubuk es.  Sekarang, pada tahun 2022 dalam jangka waktu 3 tahun sudah ada 550 cabang yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Sumatra, merambah Kalimantan,  Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Cabang terbanyak ada di Suamatera Utara, Riau, dan Aceh.

Yudi memberikan peluang usaha. Jika ingin bergabung, cukup menghubungi Yudi dengan DM Instagram ataupun whatsapp. Modalnya Rp. 3,9 juta untuk mrnggunakan merek dagang Es Gak Bener.

Kewajiban mitra hanyalah berbelanja bahan baku es padanya.  Omzet Yudi bisa mencapai Rp.100 juta hingga Rp.150 juta rupiah per bulan dengan penjualan bahan baku ke mitra cabang. Usaha Es Gak Bener pun sudah didaftarkan pada DKJ Kemenkumham agar tidak ada yang menyalahgunakan merek dalam bermitra.


Ambulans gratis untuk masyarakat umum (sumber :IG @yoediefri)

Sedekah Keroyokan dan Ambulans Gratis

Tidak hanya mengejar keuntungan hasil usaha, Yudi Efrinaldi menggagas sedekah keroyokan berupa komunitas sedekah untuk mereka yang tidak mampu setiap hari Jumat. Minimal yang disedekahkan adalah apa yang dijual.

Misalnya bubur ayam maka sedekahkan bubur ayam. Pelanggan pun ditawari jika ingin ikut bersedekah setiap hari Jumat dengan Rp.1.000 per satu mangkuk bubur. Hingga kini sedekah keroyokan mampu bertahan. Bahkan dari es Gak Beres mampu menyumbang satu unit mobil ambulan gratis untuk masyarakat.

Saatnya Bangkit, Jangan Takut Berwirausaha

Yudi menyadarai jka sampai saat ini ketika bicara mengenai kewirausahaan masih banyak yang takut. Padahal dengan menjadi wirausaha mampu meningkatkan taraf ekonomi, seperti yang dirasakannya. Banyak orang Indonesia berpikir tapi belum berani action.Tidak berani ambil tindakan. Tidak berani buka usaha.

Minimarket Es Gak Beres (sumber :IG @yoediefri)
 

Yudi berani untuk membuka sebuah usaha yang terus dikembangkan. Hingga kini pun terus belajarmengelola tim, mengelola usaha atau manajemen.Selain itu, Yudi melihat adanya tantangan sebagai UMKM pinggir jalan.Pengetahuan digital marketing mereka yang berjualan di pinggir jalan masih terbatas.

“Tidak semua orang mampu  untum melakukan digital marketing. Membuat konten, sewa infuencer, menjadi tanangan sendiri.”ujar Yudi,

Saat ini Yudi fokus pada jualan minuman dan selalu berinovasi, seperti yang diterapkan di Es Gak Beres yang tadinya cuma punya tiga varian rasa, kini 50 varian. Yudi pun merambah bisnis Kafe dann resto agar bisa bertahan lebih lama ke depan.  Selain itu membuka minimarket Es Gak Beres Mart.

Pasti takut awalnya apalagi jika belum pernah terjun jadi pedagang atau wirausaha. Mindset yang pertama adalah membuang keraguan dalam diri kita untuk tetap berani berusaha

Terbukti benar, Yudi Efrinaldi yang berasal dari Kisaran, Asahan, Sumatera Utara ini mampu menggapai harapannya dengan melangkah optimis untuk bangkit dari kondisinya semula ke kondisi hidup berkecukupan yang lebih baik.

Bahkan, membuka lapangan kerja dan mampu berbagi untuk kepentingan umat melalui wirausaha yang dijalankannya.  Selain hibah mobil ambulan gratis, Yudi memfasilitasi kegiatan sosial secara rutin, seperti pembagian sembako, nasi bungkus, dan sunatan massal.

Ke depannya, Yudi bahkan berharap bisa memfasilitasi rumah sakit dan membuka yayasan untuk memberikan beasiswa pendidikan untuk anak kampung yang berprestasi. Ya, tidak ada yang tidak mungkin. Yudi mampu melakukannya dan menebarkan inspirasi sekaligus. Terlebih pasca pandemi, saatnya bangkit!

                                                                           ---------

Sumber :

1. Youtube Satu Indonesia

2. Buku InspirasiPara Penerang Negeri

 3. Website Radio Idola

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minggu Pagi di Aksi #TolakPenyalahgunaanObat Car Free Day

MATA saya menatap kemasan kotak bertuliskan Dextromethorphan yang ada di meja BPOM. Di atas meja itu terdapat sejumlah obat-obatan lain bertuliskan warning, yang berarti peringatan. Ingin tahu saya memegangnya. Membaca kotak luar kemasan obat itu.  “Ini obat apa?” tanya saya. Adi, petugas BPOM itu memperlihatkan isi kotak kemasan. Menurutnya, obat Dextromethorpan sudah ditarik dari pasaran. Sudah tidak digunakan lagi karena dapat disalahgunakan oleh pemakainya. Dextromethorpan yang di kotak kemasannya tertera generik dan terdiri dari 10 blister ini masuk dalam kategori daftar G. Banyak yang menyalahgunakannya untuk mendapatkan efek melayang (fly). Fly? Pikiran saya langsung teringat kepada peristiwa penyalahgunaan obat yang menghebohkan negeri ini satu bulan lalu di Kendari, Sulawesi Tenggara. Korbannya yang anak-anak masih pelajar dan mahasiswa ini. Pertengahan September 2017, semua terkaget-kaget dengan kabar yang langsung menjadi topik pembicaraan

Beli Buku Hanya Bayar Setengah di Buka Gudang Gramedia

Selama satu bulan, digelar Gudang Buku Gramedia, di Jl. Palmerah Barat, Jakarta. Diskon sebesar 50 % untuk semua jenis buku. Untuk buku komik hanya Rp.1000, dengan ketentuan minimal pembelian 10 buah (dok.windhu) There is no friend as loyal as book . Kalimat kutipan Ernest Hemingway, novelis yang karya-karyanya mendunia itu benar adanya. Buat sebagian orang, termasuk saya, buku sudah menjadi teman yang sangat setia. Sejak masih anak-anak hingga kini dewasa. Nah, begitu mata memandang seluruh ruangan yang disebut Buka Gudang Gramedia, Jl Pamerah Barat dan melihat tumpukan ratusan buku sesuai dengan kategorinya jelas terlihat di depan mata, rasa senang timbul.  Jumlah buku di rumah, si teman setia sudah jelas akan bertambah.Harga buku di zaman sekarang kalau karya top atau penulis bermutu pastilah mendekati Rp.100.000 atau lebih, per satu bukunya. Kegiatan diskon buku seperti Buka Gudang Gramedia, jadi salah satu solusi menambah bahan bacaan.  Ragam pilihan buku ba

Tumbuh Bersama KBA Warakas, Setia Menjaga Lingkungan dan Iklim Lewat Kreativitas Pengelolaan Sampah

  Seorang ibu membawa kardus untuk dibawa ke Bank Sampah Warakas RW.02, Tanjung Priok, Jakarta Utara (dok.windhu) Terletak di Jakarta Utara, wilayah Warakas, Tanjung Priok tergolong cukup padat penduduk sehingga tak luput dari permasalahan  sampah. Kesadaran dan kepedulian warga, serta konsistensi untuk menjaga lingkungan dan iklim menjadi kunci dalam pengelolaan sampah yang efektif dan ekonomis di KBA Warakas. Langit cerah. Sinar matahari mulai terik. Padahal baru pukul 10.00. Seperti halnya kawasan yang berlokasi tak jauh dari laut, Warakas memang sering diidentikkan dengan cuaca panas serta banyak embusan angin. Penanda Bank Sampah KBA Warakas 02 (dok.windhu) Namun semua itu tak mempengaruhi warga yang berkumpul di Bank Sampah Warakas RW. 02 Senyuman mengembang terlihat jelas di wajah Nela, warga RT. 12, RW 02 yang membawa setumpuk lipatan kardus dan sejumlah botol plastik. Tak hanya Nela yang pagi itu menggunakan baju berwarna merah, ada juga sejumlah ibu-ibu lainnya yang datan