Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Yuk Berkurban dan Terbitkan Senyum Buat Mereka di Daerah Terpencil

TERTEGUN.  Itu yang saya rasakan saat melihat tayangan video mengenai  pemberian  hewan kurban di Oi Ketupa, Tambora, Bima. Muhidin Dami, salah seorang penduduk desa mengatakan, jika di desa terpencil yang memiliki jalanan belum diaspal itu tidak pernah mendapatkan bantuan hewan kurban sebelumnya.
Video yang diputar dalam acara Bincang Kurbanesia di Gedung Kospin 3 Agustus 2017 itu, merupakan salah satu kegiatan Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa di wilayah-wilayah pedalaman yang sebelumnya tak pernah terjangkau daging kurban.
Ironis! ingatan saya langsung terbayang pada pelaksanaan pembagian hewan kurban yang ada di Jakarta, kota tempat saya besar dan tinggal selama ini. Setiap tahun, masjid-masjid dekat rumah selalu ada pemotongan hewan kurban.
Bahkan beberapa hari menjelang hari raya Idul Adha tiba, biasanya  hewan-hewan kurban sudah didatangkan dan ditempatkan di kandang-kandang dadakan, yang dibangun hanya untuk keperluan ibadah setahun sekali ini.
Saya bahkan masih ingat saat masih…

Belajar Dubbing dari Agus Nurhasan, Si Pria Bertopi Kuning

Hai George, Jadilah monyet yang baik. George, kau tidak boleh nakal, ya?
Dengan nada yang berwibawa, lelaki itu  berbicara seakan-akan George si monyet kecil yang selalu menyertainya, ada di hadapannya. Tak lama, suaranya pun berubah biasa saat memberikan penjelasan. Belasan pasang mata tak berkedip memandang lelaki yang mengenakan kaus bergambar George dan  Pria Bertopi Kuning itu, saat  perubahan suara itu terjadi.
Sabtu 12 Agustus 2017, belasan orang menyimak penjelasan Agus Nurhasan dalam In House Training BRID Dubbing & Voice Over,  yang dilaksanakan di wisma RIAT, Jl. Pengadengan, Jakarta Selatan. Dalam dunia dubbing atau sulih suara, Agus Nurhasan merupakan dubber senior.
Dialah pemilik suara Pria Bertopi Kuning, dalam film kartun berjudul Curios George, yang diputar di sebuah stasiun televisi swasta sore hari pukul15.30. Kartun ini  sangat digemari oleh anak-anak.  
Orang tua pun tak berkeberatan menonton film kartun yang menceritakan tentang seorang monyet yang suka penasar…

Mengenal Astronomi di Planetarium

Malam yang indah. Langit bertabur bintang . Matahari yang bersinar derah. Bulan, planet, meteor, komet dan awan putih. kehadiran benda-benda langit begitu memukau bila dipandamg dari  bumi.
Ada benda langit yang mirip bintang dan selalu bergeser hari demi hari di lautan bintang. Maka muncullah planet, julukan untuk pengembara.

Sejak zaman dulu, nenek moyang sudah mengenal Matahari, Bulan, dan 5 planet di luar bumi. Dari ketujuh hal tersebut, lahir konsep 7 hari dalam seminggu, yang namanya berkaitan. Seperti halnya hari Raditya (Matahari) yang kini hari Minggu. Hari lainnya dikena; dengan Sma/Bulan/Senin/, ANggara/maris/Mars, Selasa, Buda/Merkurius, Rabu/Respati/Wrhaspati/Jupiter/Kamis, SUkra/Venus/Jumat dan Tumpak.Saniscara/Saturnus/Sabtu.

Semua hal yang berkaitan dengan dunia IPTEk keastronomian di Indonesia ada di Planetarium dan Observatorium, Jakarta.

Kok Sudah Besar, Badanmu Masih Pendek?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 sebanyak 27,77 juta orang (10,64%). Sebanyak 11 juta iwa atau sekitar 40 % dari  jumlah penduduk miskin tersebut adalah anak-anak.
Kondisi anak-anak saat ini merupakan gambaran masa depan bangsa. Pemenuhan hak-hak anak, termasuk tumbuh kembang, kesehatan, dan pendidikan menjadi penentu utama masa depan Indonesia.Data di atas menggambarkan jika masih banyak anak-anak Indonesia yang belum dapat menikmatu hak-haknya.
Unicef menyebutkan salah satu indikator deprivasi atau tak terpenuhinya hak-hak dasar anak adalah bila anak tidak mendapat gizi seimbang.
Kemiskinan memang menjadi faktor utama masalah gizi, tidak hanya di Indonesia namun juga belahan dunia lainnya. Namun, di era informasi dan teknologi komunikasi, penyebaran dan perputaran informasi yang berkaitan dengan kesehatan.
Hasil penelitian Sekretaris Dewan Kehorhmatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada awa; tahun ini menunjukkan penyebar…

Sabtu Pagi di Kuburan Karet

Sabtu pagi di kuburan Karet Bivak ! Tiba-tiba itu menjadi agenda yang harus dilalui karena  ketertarikan atas sebuah sejarah bangsa. bukan, bukan karena ada yang meninggal saya kesana. Bukan pula berarti saya belum pernah ke kuburan sebelumnya sehingga harus merasa datang.

Sebuah sejarah pahl awan bangsa ternyata bisa ditemukan di kuburan! Tak percaya? Maka datanglah ke TPU karet Bivak. Banyak sekali tokoh-tokoh nasional dan tokoh perjuangan ,hingga tokoh Ani dimakamkan disini. Mereka yang berjasa kepada negara sesuai dengan bidang keahliannya.

Lewat Gambar, Anak Autis dan Berkebutuhan Khusus Mengukir Prestasi

Melalui coretan dan warna yang dituangkan di atas kertas dan kanvas,gambar indah itu tercipta. Beragam gambar yang ditampilkan, meski yang terlihat lebih banyak berupa obyek binatang. Agaknya, memang itulah yang terasa dekat dengan mereka sehari-hari. Seperti melihat burung yang di pagi hari.

“Saya menggambar pagi hari yang indah. Ada burungnya, tetapi warnaya biru,” kata Jessica Gabriella Suryono, di depan karyanya, saat diwawancara sebuah stasiun televisi.
“Kenapa burungnya berwarna biru?” “Iya, soalnya pagi hari. Jadi burungnya berwarna biru,” tukas Jessica.
Jawaban Jessica membuat pewawacara sedikit gugup, tapi sejumlah ibu yang menyaksikannya tersenyum melihatnya. Termasuk orang tua Jessica.
“Logis banget. Pagi memang biasanya biru,” kata seorang ibu.
Jessica merupakan pemenang pertama lomba gambar berwarna bagi para anak berkebutuhan khusus. Sebuah lomba dukungan untuk para penyandang autisma dan berkebutuhan khusus agar berprestasi dan meraih sukses, yang disebut dengan program KIT…

Balon dan Imunisasi Campak Rubella

Lelaki kecil itu tersenyum-senyum.  Dia menunjukkan balon yang didapatnya dari sekolah. Saat pagi di sekolah, Arya (5) baru saja menjalani imunisasi campak rubella di TK tempatnya bersekolah.
Namun, bukan sekedar balon di genggamannya yang membuat hati Arya senang. Dengan bangga, dia menceritakan jika tak menangis saat disuntik. Tidak seperti sejumlah teman-temannya yang menangis saat diimunisasi.
“Aku nggak nangis dong. Nggak kaya Bagas,” ucapnya bangga.
Sehari sebelumnya, begitu menerimka pengumuman dari sekolah akan diadakan imunisasi Campak Rubella, nenek uti yang selalu mengantarnya sekolah sudah meyakinkan Arya bahwa tidak akan sakit untuk disuntik. Tidak akan ada apa-apa. Uti membandingkannya dengan digigit semut.
“Disuntik nggak akan akan sakit. Arya pernah digigit semut. Nggak apa-apa Cuma sakit sedikit,” kata Uti, menyiapkan mental Arya.
Arya pun mengangguk-angguk. Lebih siap diimunisasi. Perhatiannya juga teralih pada balon yang sudah dipersiapkan ibu guru dan diberikan kepada…