Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Saatnya Bekerja Bersama #UbahJakarta dengan Ubah Gaya Hidup Gunakan Transportasi Publik MRT

Coba tanya orang yang tinggal atau pernah hidup di Jakarta. Sebagai ibu kota negara, Jakarta itu ya nggak jauh-jauh dari macet. Jadi, kalau ada yang berani bilang telat datang ke kantor atau ke sebuah kegiatan karena macet, siap-siap saja ditertawakan alasannya.
 Sebagai konsekuensi menghindari macet selama ini, mau tidak mau harus rela berangkat dari dan pulang ke rumah dengan waktu tempuh yang berjam-jam lamanya.  Minimal harus menyediakan satu jam perjalanan baru bisa menarik napas lega dan merasa selamat sentosa di tempat tujuan dan terhindar malu telat.  



Saya pernah menempuh perjalanan dari arah Slipi ke Thamrin nyaris satu setengah jam saat jam sore pulang kantor jam 5-an. Pernah juga meringis berdiri kecapekan di atas bus kota dari arah Pancoran hingga Slipi sekitar dua jam. Gregetan banget!
Termasuk melakukan perjalanan dari arah Palmerah ke Cikarang pun sampai membutuhkan waktu tempuh hampir 4 Jam. Gelisah dalam perjalanan sudah tentu. Kalau dapat tempat duduk, dari belum tidur…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…