Langsung ke konten utama

Kerja sama dan Persahabatan dalam film anak Thomas&Friends Journey Beyond Sodor


Thomas&friends, salah satu film  anak yang menarik unttuk ditonton (dok.universal) 


Somebody has to be the favourite! The one that everybody wants to see!
Somebody has to be better than the rest! 
Somebody has to be so good that they're the best! 
Somebody has to be the favourite. Somebody has to be me!

Thomas, kereta uap kecil  berwarna biru dengan tulisan nomor satu di sisi kiri dan sisi kanannya. Thomas sedih, saat James mengatakan harus ada yang menjadi favorit. Dengan mengolok-olok, James menyanyikannya bahwa itu adalah dia.

Semua berawal dari kecelakaan yang dialami oleh kereta Henry saat mengantar gerbong ke Bridlington, tempat  yang ada di luar Sodor. Selama masa perbaikan di bengkel, Henry tidak bisa melaksanakan tugasnya.


Pengawas Sir Topham Hatt yang bertugas mengatur perjalanan kereta api, lalu menyuruh James  untuk menggantikan tugas Henry. Semula James merasa agak keberatan untuk menerima tugas membawa kereta barang, tapi kemudian bangga karena akan menjadi kereta asal  Sodor pertama, yang bertugas di Daratan Utama (Mainland).

Kesempatan itu digunakan James untuk meledek Thomas dengan mengatakan, dialah yang penting sedangkan Thomas tidak. Hanya berada di Sodor. Akibatnya, Thomas merasa kecewa dengan keputusan pengawas gendut karena tidak mempercayainya untuk membawa gerbong milik Henry. 


Menonton film Thomas and Friends, Journey Beyond Sodor The Movie di Cinemaxx Plaza Semanggi, saya larut dalam cerita yang digulirkan.  Film animasi yang sudah bisa disaksikan di seluruh jaringan bioskop Cinemaxx, CGV, dan Flixx  di Indonesia mulai 26 Januari 2018 ini, sarat dengan pesan edukasi.

Kisah mengenai kereta Thomas& Friends, memang sangat menyenangkan untuk disimak. Bukan hanya karena sudah menggemarinya, dalam bentuk tampilan seri layar kaca televisi.

Thomas the Tank Engine yang awalnya diciptakan seorang ayah untuk putranya 73 tahun yang lalu, saat ini telah disaksikan oleh para keluarga di lebih dari 185 negara dan 30 bahasa. Si kereta biru Thomas dan teman-temannya bisa membawa anak-anak ke dalam petualangan imajinasi yang menyenangkan.

Alat transportasi kereta memang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga film ini disukai oleh anak-anak. Bahkan oleh orang yang sudah dewasa seperti saya.  Selalu saja, Thomas dan kawan-kawannya bisa memberikan pesan moral yang bisa membangun karakter anak, seperti persahabatan, kerjasama, tanggung jawab, kejujuran, dan rendah hati. 

Menonton film Thomas and Friends, Journey Beyond Sodor ini, saya pun menyukai apiknya susunan cerita moral yang disampaikan. Bukan hanya sekedar  dongeng belaka.

Dalam pertemanan, keinginan untuk menjadi yang terfavorit dan unggul dibandingkan dengan  yang lain merupakan hal yang biasa muncul. Sikap meledek atau menjahili kawan pun terkadang ada agar bisa mendapatkannya.

Data Film :

Judul    :Thomas and Friends, Journey Beyond Sodor
Durasi  :73 menit
Genre   :Animasi
Director : David Stoten
Distributor  :PT Vision Interprima Pictures

Pengisi Suara :

Thomas (John Hasler)
Henry dan Pengawas Gendut (Keith Wicksham) 
James (Rob Rackstraw)
Lexi (Lucy Montgomery)
Theo (Darren Boyd)
Beresford Crane (Colin McFarlane)
Hurricane (Jim Howick)
Frankie (Sophie Colquhoun) 

Artikel yang sama ada di sini


Komentar

  1. Wah, asik bgt ditonton sama keluarga nih. Anakku pasti seneng bgt lihat kereta Thomas ����

    BalasHapus
  2. Waaah, saya juga lagi banyakin nonton kartun anak biar update, Mbak..

    BalasHapus
  3. Karakter fav nya anak aku yang kecil nih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…

Menyantap Martabak yang Bikin Bahagia di Martabak Factory

Potongan martabak itu langsung lumat di dalam mulut. Manisnya langsung menguasai dan larut. Seulas senyum kemudian muncul di wajah Melinda, perempuan manis berkerudung itu. Masih ada sisa martabak di piring yang sedang dipegang. Seakan tak ingin berhenti untuk segera menghabiskannya.
“Martabaknya Enak. Green tea-nya terasa,” ujarnya.
Saya pun mengangguk-angguk. Sepotong green tea martabak dari piring yang sama, juga baru saja masuk ke dalam mulut saya. Kami pun tertawa. Sesimpel itu tawa terlepas di Martabak Factory.


Saya jadi ingat tulisan besar berlatar warna ungu yang ada di dinding lantai dasar kafe. Money can’t buy happines, but it can buy Martabak which is pretty much the same thing.
Betul juga, pikir saya. Bahagia itu sederhana. Uang pun tidak bisa membelinya.  Namun lewat martabak yang dibeli pakai uang, bahagia bisa datang. Setidaknya lewat rasa manis yang menyatu  dalam mulut.  
Apalagi bila disantap bersama teman-teman. Martabak, kuliner yang sangat populer di Indonesia ini mem…