Langsung ke konten utama

Perhatikan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), Cegah Stunting Selalu Penting !

Anak Sehat
Punya anak sehat dengan tumbuh kembang baik dambaan orang tua. Cegah stunting selalu penting (dok.windhu)


Apa sih bedanya stunting dengan pendek? Hingga saat ini pertanyaan ini seringkali muncul pada saat pembahasan mengenai stunting. Setiap orang tua tentu tak ingin tumbuh kembang buah hatinya terganggu dan ketinggalan dari teman-teman seusianya.

 Setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional. Peringatan yang dilakukan setiap tahun untuk membentuk kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kebutuhan gizi dalam pertumbuhan tubuh dan kesehatan manusia.

 Dalam peringatan ke-62 pada tahun 2022, pemerintah mengambil tema "Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas". Perlu upaya bersama dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui perbaikan gizi.

Ya, Cegah Stunting Selalu Penting. Dalam webinar hari gizi nasional ke-62 yang diselenggarakan Direktorat Gizi Masyarakat Kemenkes, Kamis 3 Februari, ditekankan pentingnya melakukan aksi pencegahan stunting.

Webinar menghadirkan Ida Budi G Sadikin (Penasihat DWP Kemenkes), Dr. Dhian P Dipo, MA (Direktorat Gizi Masyarakat) dan tiga pembicara, yakni Ninik Sri Sukotjo (Nutrition Specialist UNICEF), Fransisca Wulandari (General Manager Tanoto Foundation), dan Andriyani Wagianto (Nutrition&Health Manager PT.Unilever Indonesia).

Webinar Dir Gizi Kemenkes HGN ke-62 Cegah Stunting Selalu Penting (tangkaplayar webinar)

Menurut SSGI tahun 2021, prevelansi stunting di Indonesia sebesar 24,4 % sedangkan pada SSGBI 2019, prevalensinya sebesar 27,7 %. Trendnya mengalami penurunan namun angkanya masih jauh dengan prevalensi yang ditargetkan berdasarkan amanah RPJMN 2020-2024, yakni menjadi 14 % pada 2024.  Menurut Dr. Dhian P Dipo, MA dari Direktorat Gizi Masyarakat Kemenkes, kondisi ini harus diperbaiki.

Lalu apakah stunting sama dengan pendek?

Tentu saja berbeda. Menurut Kemenkes, Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit, punya tingkat kecerdasan di bawah normal dan produktivitasnya rendah. Jika prevalensi stunting tinggi maka negara tercinta Indonesia akan rugi besar secara ekonomi. Bahaya nih kalau bomus demografi

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan, anak-anak stunting umumnya memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari rata-rata usianya. Tidak akan bisa mencapai tinggi badan yang ideal sampai dewasa.

Prevelelansi stunting di Indonesia (sumber:Kemenkes)


“Kalau stunting lebih kepada public health (kesehatan masyarakat). Stunting sangat beda dengan genetik. Gunakan kartu menuju sehat untuk mengetahui adanya tumbuh kembang anak.Stunting lebih kompleks,” kata Ninik Sri Sukotjo (Nutrition Specialist UNICEF).

Upaya pencegahan stunting harus dilakukan melakukan melalui pola konsumsi gizi, pola asuh, lingkungan sehat, akses kepada layanan kesehatan. Pemberian makanan balita dan anak (PMBA) untuk cegah stunting selalu penting dalam 1000 hari pertama kelahiran (HPK).

Mengapa PMBA penting dalam 1000 HPK?

Kebutuhan Gizi anak usia 0-23 bulan sangat tinggi. Hasil SSGI 2019 menyebutkan jika stunting meningkat secara cepat pada rentang usia 6–23 bulan  Pada periode 1000 HPK, terjadi pertumbuhan pesat.

Bahkan, pertumbuhan otak hingga 75% ukuran otak dewasa. Selain itu, sebih dari 1 juta koneksi saraf dibentuk setiap detik, Berat badan meningkat 4x  lipat, Tinggi badan meningkat hingga 75%. 

Menurut Ninik Sri Sukotjo (Nutrition Specialist UNICEF), dampak kurang gizi pada Awal Kehidupan terhadap Kualitas SDM  akan berpengaruh pada :  

- Kekurangan gizi tidak saja membuat stunting, tetapi juga menghambat kecerdasan, memicu penyakit, dan menurunkan produktivitas.

- Gagal tumbuh menyebabkan berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus

- Hambatan perkembangan kognitif & morik berpengaruh pada perkembangan

otak dan keberhasilan pendidikan.

- Gangguan metabolik pada usia dewasa Meningkatkan risiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung).

Dampak Stunting (sumber:Kemenkes)


 Untuk mengatasi hal ini, UNICEF & WHO memberikan rekomendasi yang disebut  Standar Emas PMBA, yakni berupa Inisiasi Menyusu Dini dan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama. 

Pemberian MP-ASI berkualitas pertama pada saat bayi usia 6 bulan, dengan alasan memperkenalkan MP-ASI terlalu dini meningkatkan risiko kontaminasi patogen dan mengganti pemberian ASI dengan nilai gizi tinggi. Serta mperkenalkan MP-ASI yang terlambat membuat bayi tidak mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang Selain itu, terus menyusui hingga anak berusia dua tahun atau lebih dengan MP-ASI yang tepat dan berkualitas

Dalam praktek PMBA usia 6-23 bulan, harus diberikan ASI, protein Hewani,buah dan sayur, densitas gizi (telur, daging), dan keanekaragaman pangan.Minimum diberikan 5 dari 8 kelompok pangan,yakni ASI, biji-bijian, akar dan umbi-umbian, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Selain  itu, pemberian turunan susu (yoghurt, keju), hewani (daging, ikan, ayam, hati, dll, telur, buah dan sayur mengandung vitamin A, buah dan sayur lainnya, vitamin dan  suplemen (hanya bila diperlukan). Hindari makanan dengan nilai gizi rendah dan penambahan Gula (dalam makanan dan minuman).

(Sumber : Ninik S Unicef)


Angka Menyusui Turun Pada Masa Pandemi

Menurut Ninik, muncul berbagai pendapat terkait keamanan menyusui. Sejak awal, WHO/UNICEF menganjurkan IMD dan menyusui dengan melakukan prokes yang tepat. Saat ini, semua telah sepakat bahwa IMD danmenyusui penting dilakukan/ diteruskan pada masa pandemi.

Meski demikian, diakui jika kesan yang tidak seragam dan hoax menyebabkan ketakutan pada orang tua sehingga mereka memutuskan untuk berhenti menyusui. Selain itu, minimnya konseling karena PPKM dan Social Distancing. Di sisi lain, ibu dan nakes merasa teknik menyusui lebih mudah dipahami bila dilakukan secara tatap-muka, tidak secara virtual. 

Situasi PMBA di Perkotaan di Indonesia (SDFU-I, 2020*) COVID-19 telah memperburuk kualitas asupan makanan baduta (6–23 bulan) dan anak usia 24–59 bulan. Kenapa?

1. Rumah tangga mengurangi pembelian bahan mentah atau pangan bergizi

2. Berkurangnya daya beli menyebabkan rumah tangga membeli lebih sedikit protein

hewani seperti daging dan telur, juga kacang-kacangan, buah dan sayur.

3. Permasalahan utama bukan karena akses tetapi lebih keterjangkauan

4. Balita masih sering mengonsumsi makanan tidak sehat dan minuman berpemanis

“Permasalahanya bukan pada masalah akses. Masalahnya, 2-5 tahun konsumsi masyarakat tidak sehat terlalu tinggi, tukas Ninik.  

Ufrejutek (sumber:Ninik UNICEF)


Dalam praktek PMBA, menurut Ninik, hal yang perlu diingat “UFREJUTEK VARES BERSIH”. Apa saja? Pemberian Makanan Pertama pada Usia 6 Bulan, frekuensi Makan sesuai Usia, jumlah/porsi sesuai Usia, tekstur sesuai usia, penyiapan, penyimpanan dan pemberian makan secara aman, pemberian makan secara responsive dan pengasuhan, pemberian makan saat anak sakit dan sesudahnya

Di sisi lain, praktek Pemberian MP-ASI memiliki tantangan berupa kurangnya keragaman pangan/tidak bervariasi, frekuensi pemberian MP-ASI yang rendah, konsumsi makanan kemasan tinggi GGL seperti ultraprocessed food, konsumsi minuman berpemanis dan makanan gurih.

Tantangan lainnya adalah banyak makanan tinggi gula, garam, dan lemak trans dan jenuh (kue kering, keripik, minuman berpemanis termasuk jus), memberikan energi, tetapi memiliki kandungan gizi yang rendah.

Adanya kadar gula, garam yang tidak sesuai, serta lemak yang tidak sehat, juga dapat ditemukan di beberapa makanan yang disiapkan secara komersial yang ditargetkan untuk anak baduta/balita.

“Konsumsi makanan tersebut seringkali menggantikan makanan yang lebih bergizi, mengatur preferensi/pilhan rasa seumur hidup, dan berkontribusi terhadap kelebihan berat badan dan obesitas,” kata Ninik.

Nah, perlu dilakukan pendekatan secara Sistem Untuk Perbaikan Asupan Anak Usia 6-23 bulan yakni dengan cara memperluasi akses konseling berkualitas dan dukungan praktek PMBA,  meningkatkan ketersediaan, akses dan keterjangkuan akan pangan sehat.

Selain itu, perlu implementasi standar dan kebijakan nasional untuk melindungi anak dari pangan tidak sehat seperti ultra processed food serta praktek pemasaran yang tidak etis. Penggunaan berbagai saluran komunikasi untuk menjangkau pengasuh atas informasi faktual terkait Pemberian Makan Bayi dan Anak yang tepat.



Dibutuhkan desain program bantuan sosial yang ramah gizi dengan memberikan bantuan berupa pangan sehat dan aman untuk bayi dan anak usia 6-23 bulan, termasuk untuk bantuan bencana. Penggunaan platform program perlindungan sosial untuk meningkatkan pengetahuan pengasuh tentang praktek Pemberian Makan Bayi dan Anak.

Pentingnya PMBA dalam 1000 HPK, kunci pesannya adalah konsumsi makanan bergizi secara rutin (setiap kali makan), perbanyak konsumsi buah dan sayur untuk meningkatkan imunitas,hindari makanan tinggi Gula Garam Lemak (ultra-processed food), aktivitas fisik dan perbanyak minum air putih, lakukan kegiatan menyenangkan bersama keluarga (memasak bersama, berkebun bersama, dll).


Nutrimenu

Sementara itu, Andriyani Wagianto, Nutrition and Health Manager Southeast Asia Unilever  mennyampaikan jika Unilever memiliki program Nutrimenu yang diluncurkan sejak 2019 dengan tujuan untuk memberikan edukasi dan membangun kebiasaan keluarga Indonesia dalam memasak dan mengonsumsi makanan yang lezat dan bergizi seimbang sesuai panduan Kementerian Kesehatan “Isi Piringku.”

Penelitian IPB University pada tahun 2019 di Kabupaten Garut menunjukkan bahwa program Nutrimenu telah meningkatan perilaku ibu secara signifikan, dilihat dari aspek pengetahuan, sikap dan praktik memasak dan mengonsumsi makanan sesuai panduan Isi Piringku yang semakin membaik. 

Nutrimenu dilakukan selama 21 hari untuk membentuk pola kebiasaan. Panduan sesuai dengan konsep “Isi Piringku”, yakni 42 resep masakan berpasangan yang mudah dipraktikkan Ibu setiap hari, resep disusun oleh Chef dan nutritionis dengan mempertimbangkan cita rasa, harga, dan kandungan gizi, serta Kandungan energi dan zat gizi telah dihitung dan dicantumkan pada masing-masing resep. 




Pendekatan berbasis masyarakat untuk praktik PMBA

 Fransisca Wulandari selaku General Manager Tanoto Foundation mengatakan studi dilakukan untuk endapatkan pemahaman mendalam tentang perilaku kunci pemberian makan bayi dan anak usia 6-23 bulan (PMBA) serta Ibu pada kelompok populasi yang berbeda.

Fokunya dilakukan di  Indonesia Timur (Kalimantan Selatan, Hulu Sungai Utara dan Sulawesi Barat, Majene), Indonesia Tengah (NTT Alor, Maluku Seram) danIndonesia Barat (Sumatera Barat: Pasaman, Jawa Barat: Garut)




Terdapat sejumlah temuan praktik PMBA yang terjadi di masyarakat saat ini, mulai dari pemberian ASI ekslusif, protein hewani untuk MPASI, porsi dan MPASI kemasan, kudapan untuk bayi dan balita, suasana makan keluarga, pengasuhan kepada anak, praktek gizi dan layanan ibu hamil, dan persepsi akan stunting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D’Flora, Lipstik Untuk Bibir Hitam dengan Pilihan Warna Bagi Perempuan Aktif

Pilihan Lipstik untuk Bibir Hitam saat ini beragam. D'Flora, hadir dengan kandungan Jojoba dan vitamin yang membuat bibir terlihat menarik dan sehat. (dok.windhu) Awalnya saya tidak begitu memperhatikan mengenai masalah bibir hitam. Semua itu baru saya sadari saat Arni, salah seorang kakak perempuan   saya   mengeluhkan warna bibirnya. Jika warna lipstiknya sudah memudar, warna bibir aslinya langsung terlihat. Kakak merasa perlu lipstik untuk bibir hitam yang tepat digunakan sehari-hari.  “Pernah merokok, kali,” ucap saya asal sambil bercanda. Ups, jelas kakak saya tidak terima.Kakak tidak pernah menyentuh ataupun mencoba-coba rokok. Bahkan mencium bau asap rokok di suatu tempat keramaian umum,   kakak sudah tidak suka. Mungkin saya cukup beruntung karena warna bibir saya tidaklah segelap bibir kakak. Saya tahu usaha kakak untuk membuat warna bibirnya lebih merah dan menarik. Sesekali saya juga mengikutinya. Buat perempuan, memiliki warna bibir hitam, bibir g

Beli Buku Hanya Bayar Setengah di Buka Gudang Gramedia

Selama satu bulan, digelar Gudang Buku Gramedia, di Jl. Palmerah Barat, Jakarta. Diskon sebesar 50 % untuk semua jenis buku. Untuk buku komik hanya Rp.1000, dengan ketentuan minimal pembelian 10 buah (dok.windhu) There is no friend as loyal as book . Kalimat kutipan Ernest Hemingway, novelis yang karya-karyanya mendunia itu benar adanya. Buat sebagian orang, termasuk saya, buku sudah menjadi teman yang sangat setia. Sejak masih anak-anak hingga kini dewasa. Nah, begitu mata memandang seluruh ruangan yang disebut Buka Gudang Gramedia, Jl Pamerah Barat dan melihat tumpukan ratusan buku sesuai dengan kategorinya jelas terlihat di depan mata, rasa senang timbul.  Jumlah buku di rumah, si teman setia sudah jelas akan bertambah.Harga buku di zaman sekarang kalau karya top atau penulis bermutu pastilah mendekati Rp.100.000 atau lebih, per satu bukunya. Kegiatan diskon buku seperti Buka Gudang Gramedia, jadi salah satu solusi menambah bahan bacaan.  Ragam pilihan buku ba

Beraktivitas Fisik, Periksa Kesehatan Rutin, Konsumsi Buah dan Sayur, Untuk Sehat dan Cegah Penyakit Tidak Menular

Melakukan aktivitas fisik, selama 30 menit sehari sangat penting untuk mencegah Penyakit Tidak Menular (PTM) yang saat ini prevalensinya meningkat, yakni Kanker, Stroke, Ginal Kronis, Hipertensi, Diabets Melitus (foto: windhu)  Mendengar kata kanker, yang terbayang langsung adalah seketika ngeri. Tahu kenapa? Meski tergolong kategori Penyakit Tidak Menular (PTM), menderita penyakit  ini bisa  berakhir dengan kematian. Datangnya seringkali tidak diketahui. Menghindari faktor risiko dengan pola hidup sehat menjadi jawaban untuk mencegahnya . Mbak, kenapa  sekarang banyak orang yang kena kanker?  Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari Ega, adik bungsu, saat melakukan percakapan dalam grup whatsapp keluarga.   Adik saya itu tampaknya sedang sedih menerima kenyataan beberapa   teman kantornya terkena sakit kanker. Bahkan ada yang meninggal dunia di usia yang belum memasuki usia 50 tahun dan masih memiliki anak yang masih usia sekolah dasar. “Sepertinya kanker mewabah.