Langsung ke konten utama

Langkah Awal






Semua Itu Ada Awalnya...
 

SEBUAH perjalanan selalu dimulai dari sebuah awal. Sekecil apa pun. Tertatih. Perlahan.Merangkak. Merambat. Berpegangan. Mengayun. Kemudian berdiri. Satu Persatu, Langkah demi langkah. Lantas Berjalan Cepat dan Akhirnya Berlari.

Pengetahuan mulai muncul. Pengertian mulai ada. Wawasan mulai berkembang. Mimpi-mimpi mulai datang. Cita-cita mulai bermunculan.

Keindahan dan kepedihan sesekali menghampiri. Kadang satu per satu. Kadang bersamaan, berpapasan atau berbenturan. Harapan dan kekecewaan kadang muncul silih bergantian hadir dengan kesadaran akan keinginan terkadang tak selalu sejalan dengan kebutuhan.

Sebuah perjalanan adalah awal. Langkah mula untuk menjadi SESUATU. Langkah untuk menggapai CITA. Awal untuk menjadi yang TERBAIK. Awal untuk menjadi seorang PEMENANG. 

Inilah langkah awal seorang perempuan energik yang selalu merasa bahagia dan penuh cinta. Perempuan yang senang berbagi manfaat dan memberdayakan orang lain. Perempuan yang gemar membaca dan piawai menulis.

Perempuan yang di saat senggang hobi bersepeda menikmati kesegaran pagi seraya mensyukuri anugrah Illahi atas karunia hidup. Perempuan yang selalu berupaya berpikir, bertindak, dan bertutur positif agar hidup selalu berlimpah.

Sebuah perjalanan dimulai dari awal. Inilah permulaannya. Sebuah CATATAN LANGKAH PEMENANG !



Winners never quit and quitters never win.
(Vince Lombardi)



Jakarta, 28 Oktober 2015


#RindhuHati


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…

Menyantap Martabak yang Bikin Bahagia di Martabak Factory

Potongan martabak itu langsung lumat di dalam mulut. Manisnya langsung menguasai dan larut. Seulas senyum kemudian muncul di wajah Melinda, perempuan manis berkerudung itu. Masih ada sisa martabak di piring yang sedang dipegang. Seakan tak ingin berhenti untuk segera menghabiskannya.
“Martabaknya Enak. Green tea-nya terasa,” ujarnya.
Saya pun mengangguk-angguk. Sepotong green tea martabak dari piring yang sama, juga baru saja masuk ke dalam mulut saya. Kami pun tertawa. Sesimpel itu tawa terlepas di Martabak Factory.


Saya jadi ingat tulisan besar berlatar warna ungu yang ada di dinding lantai dasar kafe. Money can’t buy happines, but it can buy Martabak which is pretty much the same thing.
Betul juga, pikir saya. Bahagia itu sederhana. Uang pun tidak bisa membelinya.  Namun lewat martabak yang dibeli pakai uang, bahagia bisa datang. Setidaknya lewat rasa manis yang menyatu  dalam mulut.  
Apalagi bila disantap bersama teman-teman. Martabak, kuliner yang sangat populer di Indonesia ini mem…