Langsung ke konten utama

Menuangkan Imajinasi Stasiun Bogor Masa Depan Melalui Doodle

Menuangkan imajinasi Stasiun Bogor Masa Depan (dokpri)


Doodle itu, keren ! Cara yang asyik buat mengekpresikan diri...

Itu ucapan salah seorang teman tentang doodle, yang saya ingat. Saya hanya tersenyum kala itu. Namun, diam-diam merasa tertarik dan ingin tahu. Penasaran mengenai doodle. Apalagi, doodle sedang naik daun. Semakin berkembang dan semakin banyak yang mempelajari maupun mempraktekannya.
Kesempatan belajar doodle secara langsung akhirnya datang saat ada Workshop Doodle yang diselenggarakan oleh Kriya Indonesia, pada hari Minggu 22 Januari 2017.
Minggu pagi dengan udara masih segar, saya melaju menggunakan kereta commuter line dari Stasiun Cawang menuju Stasiun Bogor. Kereta selalu menjadi kendaraan favorit bagi masyarakat, terutama yang tinggalnya dekat dengan stasiun. Kendaraan saat ini yang murah, cepat, dan nyaman.
Workshop Doodle betul-betul diadakan di dalam stasiun kereta api Bogor. Ah, apa hubungannya doodle dan kereta? Ternyata, ada penjelasan mengenai perekeretapian dengan berkeliling Stasiun Bogor.
 
Stasiun Bogor, tempat nge-doodle (dokpri)

Stasiun Bogor yang Bersejarah   
Stasiun Bogor atau yang dulunya bernama Buitenzorg merupakan stasiun kereta api tua, yang dibangun pada masa zaman Belanda, tahun 1881. Maka tak heran, bila stasiun ini merupakan sebuah cagar budaya.
Stasiun Bogor kini dikenal sebagai stasiun yang melayani rute penumpang commuter line Jabodetabek.  Setiap harinya ada puluhan perjalanan dari stasiun bergaya Eropa yang masih apik ini.  Sejarah perekeretapian Indonesia sendiri dimulai dari Semarang, yang dibuka untuk umum pada tahun 1867.
Stasiun Bogor merupakan bagian daerah operasional (Daop) I. Kadaop I PT KAI Jhon Berto mengungkapkan, jika Stasiun Bogor sebagai tempat pemberangkatan dan tempat pemberhentian terakhir kereta terus berbenah.

Stasiun Bogor, stasiun kereta bersejarah dengan tempat inspirasi gambar doodle (dokpri)

Sistem penjualan tiket dan  keluar masuk stasiun kini rapi. Kebersihan pun lumayan terjaga meski dengan jumlah seliweran penumpang kereta yang banyak. Pesona Stasiun Bogor dengan segala keunikan bangunan tuanya tetap memancar.    
Nah, pesona Stasiun Bogor sejak dulu  kala zaman kolonial yang masih dapat pertahankan hingga saat ini ternyata bisa dijadikan inspirasi membuat doodle. Stasiun Kota Bogor di masa depan, yang tetap memikat dan selalu dapat menarik perhatian pengunjung. Selain juga melayani penumpang kereta dengan baik.

Stasiun Bogor Masa Depan dalam Doodle
Mengimajinasikan Stasiun Bogor masa depan melalui  doodle, adalah hal yang harus dituangkan oleh para peserta workshop doodle yang dipandu Tanti Amelia. Perempuan yang menekuni doodle ini mengajak peserta membayangkan sebuah stasiun modern, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan transportasi kereta yang juga canggih.



Penjelasan mengenai Doodle oleh Tanti Amelia (dokpri)

Untuk menggambar doodle saat itu, disediakan alat dan bahan berupa kertas berwarna putih, stabilo pen 68 tiga warna, papan jalan untuk alas menggambar, dan sebuah pigura kosong untuk menempatkan hasil gambar doodle. 

Sebelum menggoreskan gambar menggunakan stabilo di depan peserta, Tanti Amelia menjelaskan mengenai seni doodle. Sesuai istilah, doodle merupakan coretan, yang dimulai dari masa purbakala di dalam gua. Maknanya juga sebagai penyampai pesan.

Doodle juga diartikan sebagai gambar bodoh. Maksudnya karena doodle awalnya hanyalah berupa coretan-coretan iseng tidak fokus. Dulu, para tnetara Amerika pada abad 1700-an sering melakukannya. Sekarang pun, tanpa sadar seringkali seseorang melakukan coretan-coretan saat melamun ataupun saat waktu senggang untuk mengisi waktu. Coretan ini kemudian berkembang menjadi seni doodle yang indah.Tidak ada ketentuan khusus mengenai coretan doodle. 


Menuangkan garis lengkung, garis lurus, dan arsir dalam doodle (dokpri)

Cukup menggambar sebebasnya dengan menuangkan imajinasi yang dimiliki. Lantaran workshop diselenggarakan di stasiun kereta, tentunya doodle yang harus dibuat saat itu pun mengenai Stasiun Bogor masa depan. 

Meski demikian, perlu diingat, jika ingin mempunyai kemampuan menggambar doodle yang bagus, mencari berbagai inspirasi gambar tetap penting dilakukan. Berbagai contoh doodle, baik beraneka gambar maupun huruf dapat dengan mudah ditemukan dengan bantuan sarana internet. Banyak channel youtube yang mengajarkan tentang doodle. Salah satunya, akun youtube Tanti Amelia.  

Dimulai dari Sebuah Goresan 

Doodle Stasiun Bogor yang dicontohkan Tanti Amelia dimulai dengan melakukan sebuah goresan. Ada goresan melengkung, garis lurus, garis gelombang, dan garis arsir. Gambar yang terbentuk kemudian diperkaya dengan berbagai warna agar menghasilkan doodle yang menarik. Goresan-goresan yang dibuat Tanti Amelia semakin apik terlihat setelah diberikan pewarnaan dengan menggunalan beragam warna stabilo. Wow, ternyata perwarnaan berperan cukup penting dalam membuat doodle yang indah.


Perwakilan dari Stabilo menjelaskan tentang keunggulan pen stabilo (dokpri)

Ini sesuai dengan yang disampaikan Rei, perwakilan Stabilo yang menjadi sponsor kegiatan workshop. Dijelaskan, stabilo lebih dari sekedar pena biasa. Variannya banyak, ada yang untuk menulis, highligting, dan mewarnai, dengan kualitas yang tidak mudah kering dan tidak mudah pudar. Terdiri atas beragam tipe ujung pena dan sistem tinta.
Stabilo juga memiliki kelebihan ergonomis, ramah lingkungan, dapat digunakan dalam industri kreatif dan dunia pendidikan, mengikuti tren, serta tidak beracun. Jadi, produknya cocok digunakan oleh siapa pun, mulai anak-anak, orang dewasa, hingga pekerja professional. Maka tak berlebihan jika Stabilo terkemuka di Eropa dan tentunya juga di Indonesia.
Doodle berupa coretan garis lengkung, datar, bergelombang, dan arsir, plus pewarnaan (dokpri)

Stasiun Bogor Masa Depan Goresanku 

Sebagai seni yang tidak memiliki batasan apa pun, saya pun memulai doodle pertama Stasiun Bogor masa depan versi saya dengan mengikuti contoh. Menggunakan garis lengkung, garis lurus, mengarsir, dan menebalkan gambar yang telah dibuat. 

Sebagai  pelengkap, saya menambahkan dengan gambar awan, bintang, dan gunung sebagai penamda daerah Bogor. Saya pun memberikan gambar gerbong kereta, kios-kios, bangku, dan orang-orang yang sedang menunggu kereta seperti layaknya di stasiun kereta. 

Meskipun nantinya kondisi Stasiun Bogor masa depan lebih bagus dengan kereta yang canggih, imajinasi saya tetap mengharuskan adanya gambar orang. Hal ini sebagai ciri dari sebuah ruang publik yang menyediakan layanan kereta. Transportasu umum yang selalu dicintai dan menjadi pilihan masyarakat. 


Doodle pertama terdiri atas tiga warna (dokpri)

Saya  menyukai gambar dengan warna-wana blok. Warna yang menutupi seluruh ruang gambar yang ada. Lantaran saya hanya memiliki tiga warna, yakni warna hitam, oranye, dan kuning, maka saya menyesuaikan dengan memaksimalkan yang ada untuk membuat doodle Stasiun Bogor masa depan. Membuat doodle tetap menarik.

Dalam workshop, Tanti Amelia sempat mengungkapkan jika karakter seseorang dapat terlihat dari goresan dan gambar yang dihasilkan. Misalnya saja, ada yang bertipe menginginkan kesempurnaan dalam melakukan sesuatu ataupun orang yang memiliki cita-cita tinggi. 



Doodle pertama kubawa ke Kebun Raya Bogor :) (dokpri)

Doodle itu kegiatan menuangkan isi perasaan dalam hati. Meski begitu, tidak ada yang salah dalam membuat doodle. Seni ini membebaskan imajinasi dan ekspresi.Pastinya, workshop doodle di Stasiun Bogor memberikan pengalaman berharga.

Ketertarikan saya pada doodle bertambah dan ingin mencoba untuk membuat berbagai doodle yang dipernuhi warna-warni bagus. Doodle dengan warna-warni eye catching, yang dibuat menggunakan stabilo pen.

Untungnya, hal ini dipermudah stabilo yang memiliki program stabilopreneur, yang memungkinkan pembelian dengan adanya diskon melalui situs online Lazada. Siapa pun juga bisa menghasilkan doodle dengan indahnya warna-warni stabilo ! 


Komentar

  1. keren ih hasilnya....kece beuddd...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih,RiyardiArisman sudah berkunjung. Semoga bermanfaat...

      Hapus
  2. duh ini blogger2 pada bakat nge-doodle, gimanalah itu imajinasinya, aku syusaaaah banget berimajinasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mbak Maria Soraya. Semua bisa berimajinasi, kok...

      Hapus
  3. Reportase menarik mba..mampir dan sejenak berkomentar di sini http://charlesemanueld.blogspot.co.id/2017/01/teman-terbaik-membidani-ekspresi-diri.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap meluncur, kakak Charles. Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  4. Acara nya seru banget ya. Aq baru sekali ke stasiun bogor

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…

Ketangguhan Kingkong, keapikan foto Pureshot Plus II, dan Kemeriahan Hisense di ICS

SELAIN memiliki fitur-fitur canggih yang sangat dibutuhkan pada era modern saat ini dan harga yang kompetitif, sebuah smartphone dituntut untuk mempunyai keistimewaan lebih, dibandingkan dengan yang sudah banyak beredar di pasaran.
Nah menjawab hal itu, Hisense membuat gebrakan dalam gelaran Indonesia Cellular Show (ICS) pada  2-5 Juni 2016, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.Hisense memperkenalkan empat smartphone 4 G terbarunya, yakni Hisense Kingkong II, Hisense Pureshot Plus 2, Hisense Pureshot Lite, dan Hisense F20.



Sebagai top 5 perusahaan elektronik dunia asal Tiongkok, Hisense mengukuhkan eksistensinya, membuktikan tidak main-main ataupun sekedar ikut-ikutan. Salah satu buktinya adalah dengan mengikuti ajang pameran ponsel bergengsi ini.


Sales Director PT Hisense International Indonesia Stanly Widjaja dan dua pengguna Hisense yang memberikan pengalaman menggunakan produk, menyampaikan ketangguhan dan kemampuan produk Hisense di depan puluhan blogger dan wartawan s…