Langsung ke konten utama

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Pengunjung menikmati pameran lukisan Koleksi Istana Kepresidenan RI di Galeri Nasional (dokpri)

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.

Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.

Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.


Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur (dokpri)

Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Pertiwi yang ada di punggung tangan kanan. Dua buah tanda pengenal bertali merah tergantung di leher saya. Satu untuk penitipan barang dan satu sebagai pengunjung terdaftar.

Saya tersenyum senang. Akhirnya saya bisa menyaksikan karya-karya maestro lukisan yang luar biasa koleksi istana kepresidenan. Sejak membaca di media massa, pameran Senandung Ibu Pertiwi yang resmi dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla terbuka untuk umum, saya langsung tertarik menjadikannya agenda.

Tidak boleh terlewat. Kapan lagi ada momen langka seperti ini? Saat kunjungan Istana Untuk Rakyat (Istura) Bogor 2017  yang lalu, hanya diperbolehkan sebatas teras istana. Tak bisa menyaksikan beragam keindahan lukisan yang terpasang di Istana Bogor
.
Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan menampilkan 48 lukisan (galerinasional.ori.d)

Apalagi, pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan ini berasal dari lima istana kepresidenan yang ada di Indonesia, yakni Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Tampak Siring, Istana Merdeka, dan Istana Yogya. Kapan coba, bisa kesemua Istana Kepresidenan untuk menikmati koleksi lukisan dari para legenda lukis? 

Karenanya, pameran lukisan koleksi Istana Kepresiden Indonesia 2017 berjudul Senandung Ibu Pertiwi seakan menjawab keingintahuan dan rasa penasaran. Pameran yang merupakan rangkaian perayaan HUT RI ke-72 ini, diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Sekretariat Negara, Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) dan Mandiri Art.

Tiap nomor antrian maksimal  orang. Pengunjung Weekend mencapi 2000 orang  (dokpri)


Hanya Smartphone dan Dompet
Untuk menikmati pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan, ada dua cara pendaftaran, yaitu melalui offline dan online. Pendaftaran secara online, memudahkan para pengunjung agar tidak lama mengantri. Tidak ada biaya masuk alias gratis untuk seluruh pengunjung.

Minggu siang itu, saya mendaftar secara offline alias on the spot di pameran yang dibuka mulai pukul 10.00-20.00. Benar juga, tiba di galeri nasional sudah banyak orang mengantri. Setelah meminta nomor antrian, saya dipersilahkan menunggu panggilan untuk menitipkan barang dan mendaftar.

Waktu masih pukul 13.00 lewat,tapi saya sudah mendapatkan nomor urut antrian 431. Satu nomor antrian bisa berlaku maksimal untuk 5 orang. Wah, pantas saja terlihat banyak orang. Tua dan muda. Dewasa dan anak-anak. Laki-laki dan perempuan.
Teman-teman saya  yang juga penyuka sejarah, salah satunya Titis, sudah lebih dulu tiba di Galeri Nasional.


Tiap nomor antrian maksimal  orang. Pengunjung Weekend mencapi 2000 orang  (dokpri)

Sambil menunggu, saya tertarik dengan seorang anak dan ayahnya yang tampak ceria melakukan scan gambar lukisan yang dipamerkan dengan barcode, setelah mengunduh aplikasi Calibre melalui ponsel. Penasaran, saya pun ikut mencobanya sebelum akhirnya nomor antrian dipanggil.  Menjadi lebih tahu lukisan sebelum melihat langsung.    

Setelah menitipkan tas dan mendaftar dengan menyebutkan no ponsel, dua pengenal akhirnya tergantung di leher saya sebagai pengunjung. Tidak ada yang boleh dibawa ke dalam ruang pameran, kecuali smartphone dan dompet. Tas dan jaket dititip.Termasuk bila membawa sesuatu yang berbahan logam, seperti kunci.


Untuk masuk ke ruang pameran, hanya boleh membawa smartphone dan dompet (dokpri)


Begitu punggung tangan kanan diberi cap Senandung Ibu Pertiwi, langkah kaki pun menuju ke gedung  A, tempat pameran lukisan koleksi istana kepresidenan. Disana pun, pengunjung masih diminta membentangkan tangan untuk diperiksa satu persatu dengan metal detector oleh seorang petugas keamanan.

Kehati-hatian terlihat sangat menonjol, meski tak menyulitkan pengunjung karena prosesnya cepat. Wajar saja sih, ketelitian dilakukan. Soalnya koleksi lukisan Istana Kepresidenan RI sungguh tak ternilai.Lukisan yang dipamerkan berusia lebih dari seabad atau setengah abad. Menakjubkan!

 48 Lukisan dari 44 Perupa
Pameran koleksi Istana Kepresidenan RI tahun 2017 merupakan yang kedua kalinya.  Tahun 2016, digelar pameran bertema Goresan Jurang Kemerdekaan. Sejumlah koleksi lukisan yang dipamerkan kali ini berbeda karena menampilkan juga karya pelukis yang namanya kurang begitu populer di masyarakat umum.

Pengunjung tampak antusias memotret karya legenda lukis (dokpri)

Tahun lalu, pameran memperoleh antusias yang besar dari masyarakat hingga berbagai negara.Tahun ini, dengan mengambil tema Senandung Ibu Pertiwi, pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang bermutu tinggi ini juga menyedot keingintahuan masyarakat.

Itu yang saya lihat. Antrian yang panjang dengan jumlah pengunjung yang banyak. Menurut seorang petugas pendaftaran bahkan mencapai sekitar 2500 saat akhir pekan dan 800 orang pada hari kerja.

Selain orang lokal Indonesia, wisatawan Asia dan wisatawan Eropa yang terlihat dari wajah, warna kulit, dan rambut, serta dialeknya pun tak ketinggalan tampak berbaur.
Mereka sibuk memotret karya lukisan yang ada.


Dabitha, seorang pemandu sedang menjelaskan kepada pengunjung pameran (dokpri)

Pengunjung semangat berfoto di depan lukisan yang dikagumi, baik sendiri atau bersama teman-temannya meski tak boleh menggunakan lampu kilat (flash). Saya pun tak ingin ketinggalan. Apalagi, saya berencana menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Senandung Ibu Pertiwi diartikan sebagai  tanah air. Ibu Pertiwi juga diwujudkan dalam  sosok, imajinasi, dan gambaran feminim. Penuh kasih sebagai penjaga dan pelindung bagi semua.

Secara keseluruhan, pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan Senandung Ibu Pertiwi, menampilkan 48 buah lukisan 44 pelukis. Lukisan dengan beragam ukuran itu berasal dari abad ke-18 dan abad ke-19, karya pelukis Indonesia dan mancanegara. Sebagian besar merupakan koleksi Presiden RI ke-1 Soekarno, yang dihibahkan kepada Istana Negara.

Presiden Soekarno, selain negarawan, juga dikenal sebagai kolektor benda seni (www.merdeka.com)

Tak hanya negarawan yang andal, Soekarno memang dikenal sebagai penggemar seni yang sangat luar biasa. Di Istana Kepresidenan yang ada di Indonesia, terdapat sekitar 3.000 lukisan yang akhirnya hanya dipilih 48 untuk dipamerkan oleh kurator Asikin Hasan, Amir Sidharta, Mikke Susanto, dan Sally Texania.

4 Sub Tema Lukisan
Tema pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan Senandung Ibu Pertiwi masih dibagi  atas empat subtema, yakni keragaman alam, dinamika keseharian, tradisi dan identitas, serta mitologi dan religi. Selain karya pelukis Indonesia, juga terdapat karya para pelukis asal luar negeri yang melukiskan Indonesia dari berbagai sudut pandang dan daerah.

Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan memiliki 4 sub tema yang lekat dengan Indonesia (dokpri)

Setiap tema dibedakan berdasakan warna dinding ruangan. Sebuah penjelasan singkat ada di setiap dinding. Untuk lebih membantu memahami lukisan yang dipamerkan, sejumlah pemandu berseragam merah berdiri di sepanjang ruang pameran.

Ini sangat membantu sekali karena saya jadi bisa banyak bertanya, sehingga lebih paham. Saya pun jadi semakin bersemangat untuk mengamati satu persatu lukisan legendaris. Memahami lukisan tak hanya sekedar melihat gambar. Keempat sub tema pameran lukisan Senandung Ibu Pertiwi adalah keragaman alam, dinamika keseharian, tradisi dan identitas, mitologi dan religi.  Penjelasannya sebagai berikut.

Lukisan Pantai Flores karya Basoeki Abdullah hasil salinan lukisan Soekarno saat di pengasingan Flores (dokpri)

Keragaman Alam 
Tema lukisan pemandangan alam yang langsung tertangkap mata adalah Pantai Flores karya Basoeki Abdullah ukuran 120x185, yang dibuat tahun 1942. Lukisan ini disalin sesuai pesanan Presiden Soekarno yang melukiskan keindahan alam pantai Flores saat menjalani pengasingan oleh Belanda. Sebelumnya, Soekarno sudah menuangkannya melalui media cat air.

Lukisan Raden Saleh berjudul Harimau Minum, yang dibuat tahun 1863 dan merupakan yang tertua di pameran ini, mengundang banyak orang berfoto di depannya.
Harimau Minum berukuran 160x116 cm, dengan lengkungan di atasnya memiliki unsur magis. 


Lukisan Harimau Minum karya Raden Saleh, koleks tertua dari tahun 1863 (dokpri)

Warnanya yang redup menambah kesan syahdu seekor harimau yang sedang minum di tengah hutan yang luas dengan pepohonan lebat. Konon, Soekarno sering merepresentasikan harimau itu adalah dirinya di tengah dunia yang luas.

Lukisan lain yang membuat saya jatuh cinta adalah Jalan di tepi sawah karya S.Soedjono. Lukisan koleksi Istana Cipanas itu benar-benar memukau karena unsur ilusi optiknya. Keren sekali, seakan-akan saya berada di dalamnya. Tampak depan, samping kiri, dan samping kanan, jalan itu seakan mengikuti. Saya sampai memotretnya berulang kali.

Jalan di Tepi Sawah karya S.Soedjono membuat saya terpukau karena ilusi optiknya (dokpri)

Ada 12 lukisan keragaman alam. Lukisan pemandangan alam banyak menghiasi Istana Kepresidenan Indonesia, terutama di Istana Negara/Merdeka Jakarta, Istana Bogor, dan Istana Cipanas.

Keindahan dan kekayaan alam berbagai daerah seperti Jawa Barat,  Jawa Tengah, DKI Jakarta, Bali, Sulawesi, dan Sumatera mewujud dalam lukisan apik dari beraneka sudut pandang. Pelukis Wakidi menghadirkan  alam berbukit-bukit di Sumatera Barat melalui Senja di Dataran Mahat (1954).

Senja di Dataran Mahat, Sumatera Barat karya Wakidi, tahun 1945 (dokpri)

Saya melihat Pemandangan Sekitar Merapi (1930) karya Abdullah Suriosubroto, keindahan pantai Pelabuhan Ratu (1927) karya Mas Pirngadi. Keindahan panorama Dieng dilukiskan Kartono Yudhokusumo dalam bertamasya ke Dieng (1949).Lukisan Henk Ngantung, putera Manado yang menjadi Gubernur DKI masa Soekarno, antara tahun 1964-1965 menyajikan alam Sulawesi.

Tak hanya pelukis asal Indonesia, kekayaan alam Indonesia juga menginspirasi pelukis Eropa untuk menghadirkannya dalam kanvas.  Awal abad ke-20, sejumlah pelukis Eropa memutuskan untuk menetap di  Indonesia dan melukis keindahan alam Hindia Belanda. Lukisan seperti ini diistilahkan Mooi Indie atau Hindie Molek. Istilah ini membuat keingintahuan saya bertambah.


Sebuah Pemandangan Sudut Kota di Jakarta karya Ernest Dezentze, (dokpri)

Ernest Dezentze, pelukis indo Belanda menghadirkan Sebuah Pemandangan di Sudut Kota Jakarta dalam bentuk Sungai Ciliwung, yang di sisi-sisinya terdapat rumah. Carel Lodewijk Dake menampilkan keindahan Pura di Atas Bukit Bali.   

Dinamika Keseharian
Kehidupan sehari-hari masyarakat yang dialami hadir dalam 11 lukisan. Rutinitas pencaharian hidup sebagai nelayan, petani, pedagang. Hingga kini, semua itu masih melekat dengan rakyat Indonesia.  

Lukisan Menggaru Sawah di Jawa karya Romualdo Locatteli, kesdehanaan petani (dokpri)

Saya mengagumi lukisan Menggaru Sawah di Jawa karya Romualdo Locatelli, pelukis Italia. Petani digambarkan menggunakan peralatan sederhana untuk bertani.  Sementara Renato Christiano (1958) mengambil sisi Keluarga Nelayan sederhana  yang hendak melaut. Pun Itji Tarmidji menyajikan kerasnya kehidupan nelayan yang harus adu transaksi dengan pemodal besar melalui Lelang Ikan (1963).

Gadis Penggembala dalam lukisan Ketjintaan karya Tino Sidin (dokpri)

Saya senang saat menjumpai lukisan gadis penggembala tiga kambing dalam Ketjintaan karya Tino Sidin (1963), yang diberikan pada Presiden Soekarno. Tino Sidin guru gambar favorit saya.  

Lee Man Fong menggambarkan orang Indonesia yang akrab dengan Pendjual Sate (1958). Kesukaan orang Indonesia mengisi hidup dengan tarian daerah dihadirkan dalam Tari Redjang (1952-1953) oleh Theio Maier.  


Pendjual Sate karya Lee Man Fong. Gambaran orang Indonesia menyukai sate (dokpri)

Tradisi dan Identitas
Di bagian ini ditampilkan yang berkaitan dengan kebaya.Tahu dong, kebaya merupakan pakaian tradisional yang menjadi identitas bangsa. Kebaya melekat dalam keseharian rakyat Indonesia dan terus ada sejak dulu hingga kini. Uniknya, berasal dari manapun, perempuan yang memakai terlihat cantik dan mandiri. Dari 50 lukisan bertema kebaya yang dimiliki Istana Kepresidenan, sekitar 15 lukisan dihadirkan dalam pameran Senandung Ibu Pertiwi.


Wanita Yogya yang berkebaya karya Trubus (dokpri)

Banyak pengunjung yang berdecak kagum dengan kecantikan alami lukisan  Wanita Berkebaya Hijau (1955) karya Thamdjidin sehingga berfoto-foto di depannya. Apakah modelnya asli perempuan secantik itu? Saya pun terkagum-kagum dengan ragam tampilan perempuan berkebaya lainnya.


Dua Gadis Bali yang berkebaya  karya Fadjar Sidik (dokpri) 

Wanita Yogya (1952) berkebaya dihadirkan Trubus.  Dua Gadis Bali berkebaya dilukiskan Fadjar Sidik.  Gaya perempuan berkebaya yang tengah santai bersandar meja ditampilkan Sudarso dalam Tiyul (1952). Perempuan Berkebaya Kuning (1964) dengan tema pemandangan alam muncul dari Sumardi.


Perempuan berkebaya yang sederhana dalam Tiyul karya Sudarso (dokpri)

Selain kebaya, juga dihadirkan perempuan berpakaian tradisional Kalimantan dalam Penari Wanita Kalimantan Timur karya Wardoyo, Gadis Toradja karya Henk Ngantung, dan Halimah gadis Atjeh (1951) karya Dullah.

Mitologi dan Religi
Kepercayaan lokal Indonesia  yang digambarkan melalui kisah pewayangan dan mitos hadir dalam dua lukisan karya Basoeki Abdullah, yang  sangat menyedot pengunjung untuk berfoto bergantian.  Meskipun Indonesia menganut keyakinan agama, mitos tetap ada. Bisa dibilang, di depan lukisan inilah pengunjung paling banyak mengabadikannya. 


Pengunjung berlama-lama di lukisan Nyai Roro Kidul, perempuan penguasa Pantai Selatan (dokpri)

Nyai Roro Kidul (1955), perempuan cantik penguasa Pantai Selatan ini memang sangat mengundang rasa penasaran sehingga banyak pengunjung menghabiskan waktu berlama-lama melihatnya. Lukisan Gatot Kaca dengan anak-anak Arjuna Pergiwa-Pergiwati, yang mengambil kisah Mahabrata versi Jawa,  juga tak kalah memikat pengunjung.  

Dalam bentuk Religi, berbagai rupa bentuk keyakinan di Indonesia dihadirkan dalam lukisan Madonna (1955) karya Sudarso. Menurut pemandu Dabitha, ini menggambarkan sosok perempuan dihormati sedang menggendong anak, seperti Bunda Maria versi Jawa dengan bayi Isa.


Madonna, perempuan yang dihormati karya Sudarso

Tiga Pedanda alias pendeta Hindu karya Alimin Tamin (dokpri)

Lukisan Kaligrafi A.D Pirous (dokpri)

Lukisan Tiga Pedanda  karya Alimin Tamin, Sembahyang Dewa karya I Gusti Ketut Kobot,  dan Sesaji Dewi Sri karya Ida Bagus Made Polang menunjukkan adanya religi Hindu di tanah air. Religi Islam dihadirkan oleh karya kaligrafi oleh  Ahmad Sadali dan Subuh (Doa) VIII karya A.D Pirous.  Dua karya pelukis abstrak ini sebelumnya milik Presiden ke-2 Soeharto.

Arsip dan Dokumentasi yang Melengkapi
Usai menyaksikan empat tema lukisan Senandung Ibu Pertiwi, pengunjung dapat masuk ke ruang arsip dan dokumentasi. Pengunjung bisa menyaksikan rangkaian perkembangan Seni Rupa dan Budaya di Indonesia, yang diprakarsai oleh seluruh Presiden Indonesia, mulai dari Presiden ke-1 Soekarno hingga Presiden ke-7 Joko Widodo, yang ada di dinding pameran.



Koleksi buku Soekarno di ruang Arsip dan Data (dokpri)

Di ruangan itu, juga terdapat koleksi buku Soekarno mengenai seni rupa dan karya lukisnya. Sebuah etalase panjang berisi dokumentasi terkait kunjungan kepresidenan terkait seni budaya, pencarian seniman, Sarinah, hingga proses restorasi lukisan.

Sungguh, saya menjadi lebih tahu. Setiap presiden memiliki jasa masing-masing dalam pengembangan seni. Presiden Soekano dengan ragam koleksi benda seninya, Presiden Soeharto membanguan Taman Ismail Marzuki, Presiden BJ Habibie era berdirinya Galeri Nasional Indonesia. 




Peran 7 Presiden Republik Indonesia tertera di dinding ruang Arsip dan Dokumentasi (dokpri)


Presiden Abdurrahman Wahid dengan kebebasan berekspresi dan pameran nusantara, Presiden Megawati yang menginventariasai benda seni dan koleksi Istana Kepresidenan, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono melalui berdirinya Museum Balai Kirti  di lingkungan Istana Bogor, dan Presiden Joko Widodo yang memulai tradisi pameran seni rupa koleksi Istana-Istana Kepresidenan RI Goresan Juang Kemerdekaan tahun 2016 dan Senandung Ibu Pertiwi.


Pengunjung membaca dokumentasi seni dan budaya di ruang arsip dan dokumentasi (dokpri)


Tak terasa, saya berada di ruangan pameran Senandung Ibu Pertiwi lebih dari satu jam. Itu pun masih tetap tak puas. Dalam hati berharap, pameran koleksi Istana Kepresidenan untuk masyarakat akan selalu ada di tahun mendatang. 

Melihat lukisan koleksi istana kepresidenan secara langsung terasa beda dan lebih indah ketimbang melihatnya di buku atau media massa. Sebelum melangkah ke pintu keluar dan menyerahkan tanda pengunjung, saya menyampaikan kesan dan pesan di buku yang telah disediakan.  


Komentar

  1. Wow... cuman decakkan kagum dan rasa bangga ya mbak untuk karya anak bangsa. Koleksi buku Soekarno, lukisan tempoe doloe yg masih awet. Andai... aku juga bisa hadir ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, keren banget pameran lukisan koleksi Istana kepresidenan Indonesia Senandung Ibu Pertiwi ini, kakak. Pelukisnya top semua dan luar biasa masih terjaga baik sampai saat ini walaupun banyak di atas setengah abad umurnya. Semoga artikelnya bisa mewakili kehadiran ya, kakak Dennise.

      Hapus
  2. Wah bagus2 nih lukisannya. gwe gk sempet liat kesana u. liat hehehe
    wkt itu kesorean mo kesana ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun depan semoga ada lagi, kakak. Sayang banget kalau dilewatkan pameran lukisan dari 5 Istana Kepresidenan RI. Terima kasih sudah membaca kakak Arum.

      Hapus
  3. Waaaaaah... beruntungnya mbak bisa datang. Sarat akan sejarah sekali ya ini. Semoga tahun depan saya berkesempatan hadir :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak Ica. Selain menikmati lukisan, bisa sekaligus belajar sejarah bangsa. Makin bangga dengan Indonesia yang indah dan kaya alamnya

      Hapus
  4. Sebuah mahakarya seniman bertalenta Indonesia, sebuah kesempatan bisa menyaksikan langsung koleksi yg selama ini tersimpan apik di istana negara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kesempatan langka bisa melihat langsung koleksi lukisan dari 5 istana kepresidenan, di galeri Nasional. Nggak tahu kapan kesampaian keliling istana kepresidenan di lima daerah

      Hapus
  5. Lukisan Senandung Ibu Pertiwi ini sangat menawan dan bagus sekali. Karya seni yang patut dihargai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Lukisan-lukisan koleksi Istana Kepresidenan RI dalam Senandung Ibu Pertiwi memang bagus banget. Karya seni luar biasa yang dihasilkan oleh para pelukis yang juga luar biasa. Beruntung sempat mengunjungi pameran dan mengagumi karya lukisan yang indah.

      Hapus
  6. Sedih sekali melewatkan pameran lukisan keren ini. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tulisan ini bisa mewakili, ya mbak Atemalem. Semoga saja, tahun depan ada lagi dengan tema yang berbeda. Aku berharap begitu.

      Hapus
  7. Wah ngiri aku sama acara ini. Menggagumi Tokoh2 yang luar biasa melalui karya seni lukisan yang diciptakan adalah kebanggaan yang luar biasa ya. Sebagai penikmat kita jadi tahu tiap personal akan peran2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus banget karya-karya maestro lukisan yang mengangkat Indonesia sebagai obyek lukisan. Mudah-mudahan setiap tahun pameran lukisan istana kepresidenan ada,

      Hapus
  8. wow, suka dengan artikel ini.. selain narasi, gambar lukisan lumayan lengkap, makasih banggeett

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Unggul sudah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat tentang pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan.

      Hapus
  9. pertama lihat2 foto lukisannya seneng bgt
    skrg jadi asset ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, mbak Avy. Koleksi lukisan milik pribadi Presiden Soekarno, termasuk pemberian dari sejumlah negara kini menjadi milik dan aset negara tak ternilai. Masyarakat Indonesia bisa ikut menikmatinya.

      Hapus
  10. ada guide yang memandu gak kak? buat cerita tentang lukisan yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, om Satto. Makanya tulisannya bisa panjang, berkat tambahan penjelasan para pemandu. Setiap subtema pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan sudah dilampirkan beberapa contoh lukisan.

      Hapus
  11. Lukisannya bagus - bagus belum sempet kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, lukisan bagus karya pelukis legendaris Indonesia dan dunia. Semoga tahun depan ada pameran serupa, kakak Andri.

      Hapus
  12. Oh ternyata gratis ya? Aku sering banget lewat dan pengen masuk tapi takut bayar mahal hahaa. soalnya dulu pernah nemenin bu boss ngeliat pameran disini dan bayar mahal banget wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan RI gratis. Kalau pameran lainnya kurang tahu karena Galeri Nasional memang banyak kegiatan. Jadi, kalau ada pameran disitu, lebih baik dicek dulu bayar atau tidaknya kakak Putri.

      Hapus
  13. Wah, perlu nih datang kesana, biar lebih tahu tentang berbagai karya yang di miliki negara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, lukisan milik negara ini bagus-bagus. Semoga tahun ada digelar lagi pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan RI

      Hapus


  14. akh gak sempet dateng ... hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga, artikel ini bisa mewakili, ya kakak Idfi. Semoga tahun depan ada pameran koleksi Istana Kepresidenan RI lagi.

      Hapus
  15. Senangnya mbak berkesempatan untuk mengunjungi pameran lukisan di Istana Kepresidenan. Koleksi lukisannya bagus-bagus ya meski sudah berumur puluhan tahun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, mbak Ivonie. Senang banget bisa datang lihat pameran koleksi Istana Kepresidenan RI. Kagum banget, sudah lebih dari seabad tapi masih terjaga baik.

      Hapus
  16. Bagus-bagus ya.... sayangnya aku gak sempet kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus-bagus, mbak Wian. Semoga tulisan ini bisa mewakili. Mudah-mudahan tahun depan diselenggarakan lagi pameran koleksi Istana Kepresidenan RI

      Hapus
  17. Lukisannya bagus-bagus ya, aku belom pernah datang ke galeri lukisan lagi, sudah lama banget, jadi pengen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, lukisannya bagus-bagus karya legenda lukis yang top. Yuk, ke galeri lukisan lagi.

      Hapus
  18. Yha! Ga sempet mampir liat koleksi lukisannya deh hiks ... Mudah2an taun dpn bisa ah.

    Btw, suka sama lukisan pantai di Floresnya <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lukisan Pantai Flores itu yang buat pak Presiden Soekarno sendiri pakai cat air, kemudian beliau minta ke Basuki Abdullah untuk dibuatkan lukisan kanvasnya. Semoga tahun depan bisa liat koleksinya langsung, kakak Timo

      Hapus
  19. Bagus2 banget ya lukisannya, nyesel tidak tahu info ada pameran ini :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua lukisannya memang keren. Perupanya kan top semua dan legendaris sampai saat ini. Semoga tahun depan ada pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan RI, ya...

      Hapus
  20. Cakep-cakep lukisannya. Baru kali ini lihat pameran lukisan sarat pengunjung. Rasa penasaran ingin tahu lukisan koleksi istana dari pelukis terbaik Indonesia jadi salah satu alasannya. Ayo mba Windhu kapan nih bikin pameran lukisan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pameran lukisan ini menyedot banyak pengunjung karena seluruhnya merupakan koleksi lukisan dari 5 Istana Kepresidenan RI. Kalau berkunjung satu per satu ke berbagai istana presiden di daerah-daerah, entah kapan terlaksana. Nah, momen seperti ini biasanya yang ditunggu masyarakat (termasuk aku sih). Suatu saat, aku bikin pameran lukisan juga, ya.. :)

      Hapus
  21. penjelasan yang apik, plus tulisan-tulisan yang menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mas Ipong. Semoga bermanfaat tulisan ini

      Hapus
  22. Keren semua lukisannya! Apalagi ini koleksi lukisan yang nggak semua orang bisa lihat kan karena adanya di Istana Kepresidenan. Beruntung banget deh bisa menyaksikan langsung.... Duh jadi kepingin main ke Galeri Nasional deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, mbak tya main ke Galeri Nasional. Banyak yang bagus dipamerkan di situ. Kalau koleksi Istana Kepresidenan RI, mudah-mudahan tahun depan ada lagi.

      Hapus
  23. Selali kagum liat lukisan... pelukis itu punya daya imaginasi tinggi.. ada lukisan pak Tino Sidin ya.. jadi inget dulu acara pak tino di tipi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lukisan memang perlu daya imajinasi tinggi. Ya, ada lukisan pak Tino Sidin, guru menggambar kesukaan anak Indonesia di TVRI.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Menyantap Martabak yang Bikin Bahagia di Martabak Factory

Potongan martabak itu langsung lumat di dalam mulut. Manisnya langsung menguasai dan larut. Seulas senyum kemudian muncul di wajah Melinda, perempuan manis berkerudung itu. Masih ada sisa martabak di piring yang sedang dipegang. Seakan tak ingin berhenti untuk segera menghabiskannya.
“Martabaknya Enak. Green tea-nya terasa,” ujarnya.
Saya pun mengangguk-angguk. Sepotong green tea martabak dari piring yang sama, juga baru saja masuk ke dalam mulut saya. Kami pun tertawa. Sesimpel itu tawa terlepas di Martabak Factory.


Saya jadi ingat tulisan besar berlatar warna ungu yang ada di dinding lantai dasar kafe. Money can’t buy happines, but it can buy Martabak which is pretty much the same thing.
Betul juga, pikir saya. Bahagia itu sederhana. Uang pun tidak bisa membelinya.  Namun lewat martabak yang dibeli pakai uang, bahagia bisa datang. Setidaknya lewat rasa manis yang menyatu  dalam mulut.  
Apalagi bila disantap bersama teman-teman. Martabak, kuliner yang sangat populer di Indonesia ini mem…