Langsung ke konten utama

Film Lima, Nilai-Nilai Pancasila, dan Arti Pancasila Untukku


Film Lima, besutan lima sutradara  mengenai Pancasila di kehidupan masa kini 


Film berjudul Lima, yang mengangkat mengenai Pancasila di kehidupan masa kini sukses membuat haru dan kagum sejak awal tayangan. Penggambaran realitas yang diangkat dalam film memperlihatkan, jika pendekatan solusi menggunakan nilai-nilai dalam pancasila,  bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang kaya dengan keberagaman.

Kondisi adanya keberagaman itu sudah terlihat sejak adegan awal dalam film drama Lima, yang mengisahkan tentang sebuah keluarga yang di dalamnya memiliki perbedaan agama, namun tetap utuh dalam kerukunan hidup.

Itulah yang saya tangkap saat datang Nonton Bareng film Lima bersama member community ShopBack The Smarter Way di Djakarta Theater XXI, Thamrin, Jakarta Pusat. Tayangan yang bertepatan hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni.

Film dibuka dengan adegan seorang ibu bernama Maryam Moehasan (Tri Yudiman), yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit ditemani anak bungsunya Adi.  Perempuan yang memiliki jari lentik ini senang sekali menggunakan kuteks kuku.

Saat di rumah sakit itu Maryam sempat berpesan jika seandainya meninggal,  gigi palsunya jangan dilepas karena orang lain tidak tahu. Setelah diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter, Maryam sempat didoakan oleh seorang pendeta kristen.

Dalam adegan selanjutnya, Maryam memang digambarkan telah meninggal dunia. Ketiga anak yang mencintainya, Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dam Adi (Baskara Mahendra), ada di dekat jenazah ibunya. Termasuk Khadijah alias Bi Ijah (Dewi Pakis).

Kisah mengenai adanya keberagaman pun bergulir. Maryam sebelum menikah beragama Islam, tetapi pernikahan kemudian membuatnya berpindah agama Kristen. Setelah suaminya meninggal dunia, Maryam kemudian menganut kembali agama asalnya sebagai umat muslim.

Ketiga anaknya memilih agama yang berbeda. Fara menganut Islam seperti ibunya, sedangkan Aryo dan Adi memeluk agama Kristen seperti ayahnya.  Tidak ada air mata berlebihan dari ketiganya atas kematian sang ibu.

Namun perbedaan agama yang terjadi sempat memunculkan berbagai pedebatan-perdebatan. Mulai dari mengabari sang tante yang beragama muslim, urusan kuteks, minta doa untuk jenazah, hingga saat penguburan.

Fara meminta Adi untuk membersihkan kuku ibunya dari kuteks karena tata cara pemakaman Islam menuntut segala sesuatunya serba bersih. Adi sempat menolak untuk melepas gigi palsu ibunya karena ingat pesan saat di rumah sakit.

Kekalutan kedua terjadi ketika Aryo ingin turun ke liang lahat untuk ikut membawa keranda dan menguburkan ibunya. Fara mengatakan hal itu tidak bisa karena tidak Aryo tak seiman dengan ibunya.

Aryo tidak terima dan mempertanyakan kenapa dirinya haram dan Fara halal padahal lahir dari rahim yang sama. Apakah karena berbeda agama? Selanjutnya, upacara pemakaman jenazah Maryam dengan penuh haru.

Saat di makam, tante beragama muslim menegaskan Aryo tidak bisa turun ke liang lahat,  Fara mengatakan biarlah ketiga anaknya yang menanggung dosa  karena Aryo ikut menguburkan ibunya.

Semakin haru karena setelah tata cara pemakaman secara Islam kemudian dilanjutkan dengan cara pemakaman sesuai dengan agama kristen, agama yang dianut keluarga suami Maryam.

Sebelum jenazah Maryam dibawa ke pemakaman, Bi Ijah pembantu rumah tangga keluarga itu mendatangi sebuah masjid untuk meminta jenazah didoakan. Sayangnya, pengurus masjid menolak karena Maryam sempat jadi orang kristen. Meskipun Bi Ijah mengatakan, Maryam sudah memeluk Islam kembali dan sudah menjadi hajah, tetap tak bisa diterima karena adanya perbedaan mazhab.

Kehidupan keluarga yang terdiri atas tiga anak yatim dan piatu serta seorang pembantu rumah tangga itu, tetap berlanjut setelah kepergian sang ibu dan permasalahan kehidupan yang harus dilalui.

Adi, yang masih duduk di bangku SMU melihat seorang pencuri sejumlah buku yang dikejar secara bersama-sama oleh warga. Nasib pencuri itu kemudian berakhir tragis karena harus menemui ajal karena dikeroyok massa dan dibakar hidup-hidup secara sadis.  

Di sisi lain, Fara pun tengah mengalami dilema sebagai pelatih renang. Fara dihadapkan pada pilihan sulit untuk menentukan seorang atlet renang yang layak untuk mewakili Indonesia  di ajang Asian Games.

Ada “pesan” untuk memilih Andre yang lebih pribumi meskipun kemampuannya masih di bawah sedikit daripada Kevin, yang merupakan warga keturunan dan memiliki catatan waktu renang lebih baik.

Suasana bersitegang pun muncul saat kakak beradik Fara, Aryo, dan Adi menerima kedatangan Fajar, seorang notaris yang mengabarkan wasiat warisan orang tua. Adi merasa tidak terima pembagian warisan dilakukan saat ibunya meninggal belum lama.

Adi tak ingin menandatangani surat warisan dan menuduh Aryo memang sedang membutuhkan uang karena baru saja dipecat dari pekerjaan, setelah ibunya meninggal.

Di saat yang sama, Bi Ijah pamit hendak pulang ke kampung. Sebuah adegan film menggambarkan seorang remaja laki-laki dan adik perempuan kecilnya, berjalan mengendap untuk mengambil sesuatu tanpa izin di sebuah perusahaan perkebunan.

Remaja lelaki dan adiknya yang masih di bawah umur secara hukum ini, ditangkap dan diadili ke meja hijau. Menghadapi tuntutan hukum yang pedas dari jaksa sebagai seorang pencuri meski dalam jumlah kecil.


Meski kakak beradik, ketiganya  berberda agama, sehingga harus mengamalkan sila ke-1 Pancasila


Butir-Butir Pancasila
Menonton adegan demi adegan dalam film Lima yang disutradarai lima orang dengan lima cerita, penonton seakan larut terbawa dalam jalinan cerita utuh mengenai pengamalan Pancasila  dalam kehidupan sehari-hari, yang disajikan secara apik.

Lima sutradara masing-masing berperan memegang  sebuah cerita berkaitan dangan nilai Pancasila, yakni Shalahuddin Siregar (sila ke-1), Tika Pramesti (sila ke-2), Lola Amaria (sila ke-3) Agustriansyah (sila ke-4), dan Adriyanto Dewoini (sila ke-5).

Dalam Lima, penonton diajak kembali mengingat butir-butir dalam sila Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa, yakni : 1.Ketuhanan yang Maha Esa, 2.  Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, 3.Persatuan Indonesia,4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat Indonesia.

Ya, menyaksikan film Lima yang digarap sejak Oktober 2017 ini semua tergambar jelas dalam jalinan cerita. Menghargai perbedaan agama dalam satu keluarga saat pemakaman masuk dalam pengamalan sila ke-1. Mencegah pengeroyokan yang berujung kematian seorang pencuri masuk dalam pengamalan sila ke-2.

Menghindari dikriminasi ras yang bisa memecah persatuan saat penentuan atlet renang masuk dalam pengamalan sila ke-3, Mencapai mufakat melalui musyawarah saat pembahasan warisan keluarga masuk dalam pengamalan sila ke-4. Memunculkan keadilan bagi anak remaja bi ijah yang terlibat hukum di pengadilan masuk dalam pengamalan sila ke-5.

Terus terang, semula sebelum menonton saya menganggap film mengenai Pancasila akan biasa-biasa saja atau malah berat untuk dipahami. Namun, ternyata saya justru larut dan tergugah dalam rangkaian lima cerita yang dihadirkan oleh lima sutradara. Film Lima bagus banget!

Salut  untuk Lola Amaria dan sutradara lainnya yang berani menghadirkan kisah-kisah sensitif yang sebenarnya memang ada dan terjadi di masyarakat. Film Lima mampu menjadi pengingat mengenai pancasila di kehidupan masa kini.  

Nilai-nilai Pancasila perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Arti Pancasila Untukku

Buatku nilai-nilai pancasila itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik dari tingkatan terkecil dalam rumah bersama keluarga inti, dalam kehidupan bertetangga, saat bersekolah, dalam dunia kerja, maupun alam dunia usaha. Pokoknya semua yang ada di lini kehidupan kehidupan masyarakat  Indonesia.

Pancasila yang  telah disepakati secara nasional sebagai dasar negara tanggal 18 Agustus 1945 melalui sidang PPKI (Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia), menurut saya, memiliki butir-butir yang sangat luar biasa bermakna sebagai pedoman pengamalan pancasila.   

Pancasila merupakan lima sila yang menjadi Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa. Suatu bangsa mampu menjadi negara yang kokoh karena punya dasar negara. Suatu bangsa memiliki pandangan hidup sebagai sebuah tujuan yang jelas.

Namun, pancasila yang terdiri atas lima sila ini, tidak bisa hanya dihapalkan saja setiap silanya. Cara seperti ini tidak bisa membuat butir-butir pancasila mudah meresap masuk, seperti halnya pengamalan pancasila yang digunakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu  kesadaran dan kemauan dalam menerapkannya. Itulah yang masih perlu dibangun lagi saat ini, terutama pada generasi muda setelah reformasi. Saat ini berdasarkan Tap MPR No I/MPR/2003, jumlah butir pancasila yang merupakan penjabaran lima sila pancasila sebanyak 45 butir

Dalam hidup keseharian, aku memiliki sahabat yang berbeda agama. Disini, kami yang berbeda agama harus mengedepankan toleransi beragama dan menjaga kerukunan dengan agama lain. Aku wajib menerapkan sila pertama pancasila Ketuhanan yang Maha Esa, yakni menjunjung tinggi agama dan kepercayaannya masing-masing.

Dalam keseharian, sesuai dengan sila kedua aku memiliki teman dan saudara yang berbeda latar belakang, maka harus bisa menerima persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan, merupakan salah satu butir sila ketiga yang harus dilakukan.

Seringkali sebagai mahluk hidup, aku memang dihadapkan pada suatu hal-hal yang bisa menempatkan itu semua demi sebuah keutuhan dan persatuan,minimal dalam lingkup keluarga, pertemanan, dan kerja.

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan bersama dengan tidak memaksakan kehendak yang merupakan salah satu butir sila keempat, harus diterapkan ketika terlibat dalam suatu perbincangan yang melibatkan banyak orang.

Aku juga harus bisa menerapkan butir sila kelima yang antara lain, bersikap adil terhadap sesama, serta menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jadi, Pancasila dengan butir-butirnya memang sangat bagus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ternyata, pancasila tetap selaras dengan perkembangan zaman yang kekinian. Namun, untuk bisa bilang saya Indonesia, saya pancasila memang tak bisa sekedar dihapal dan omong doang. (rwindhu)

Keterangan gambar : 1). 2). 3).


Komentar

  1. Huahhhhh ternyata kisahnya begini yaaaa jadi makin pengen nonton, sy liat trailernya aja sih, saya pikir pasti koonspiirasi lagi niih film, tp pas baca blog mbak windhu ternyta pesan-pesan yg disampaikan itu tentang menjaga keberagaman kita di indonesia dengan rukun adil dan damai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, film Lima mengenai penerapan Pancasila dalam kehidupan di Indonesia

      Hapus
  2. Film yang sangat inspiratif ya.. bagaimana mengedukasi masyarakat dengan kembali mengamalkan sila pancasila dalam
    kehidupan sehari-hari dan melihat perbedaan sebagai suatu keindahan jika dapat disikapi dengan bijak, well note kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, film LIMA sangat inspiratif untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengamalan Pancasila dalam kehidupans ehari=hari.

      Hapus
  3. Dati awal udah penasaran nih mb saya. Eh nih film bisa ngajak daffa nonton gak yaa??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Filmnya sebenarnya bisa ditonton untuk anak di bawah usia 17 tahun dengan diberi pemahaman dulu. Bisa dicerna kok, tapi menurut LSF ditujukan 17 tahun ke atas.

      Hapus
  4. Aku baru dgr nih film Lima dan blm liat trailernya, pas baca ulasan ini cuss langsung liat trailernya. Film yg wajib ditonton, smga nilai pancasila bisa terserap dgn baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dengan tontonan seperti film LIMA, nilai pancasila bisa terserap dengan baik.

      Hapus
  5. Wah aku penasaran nih sama film ini. Masih tayang di bioskop tidak ya?
    Penasaran Pancasila kalau dari sudut pandang pembuat film dijadikan seperti apa hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pancasila ternyata bisa dibuat menarik dari sudut pandang sebuah film.

      Hapus
  6. Aku jadi penasaran Ama film nya nih mbak... Semoga pengamalan sila ke satu yang ditampilkan di film ini tetap berjalan sesuai koridornya ya, maksudku jangan sampai justru 'merusak' akidah masing-masing karena menjunjung tinggi keberagaman itu sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film ini bagus mengangkat adanya keluarga yang berbeda agama dalam satu rumah. Kenyataannya, di Indonesia tidak cuma satu atau dua rumah tangga saja. Jadi pengamalan sila ke-1 Pancasila memang harus dipegang teguh.

      Hapus
  7. Jadi penasaran sama alur ceritanya kepingin tahu endingny dah gitu pemainny idola semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, nonton film LIMA soal Pancasila

      Hapus
  8. BAru tahu ada film yang mengambil tema Pancasila. cocok banget untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sepertinya cocok nih diputar disekolah sekolah untuk menanamkan cinta Pancasila

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya bisa diputar di sekolah tapi mungkin perlu disesuaikan agar lolos untuk anak di bawah usia 17 tahun versi LSF

      Hapus
  9. Yups, bener banget mbak. Pancasila hendaknya diterapkan bukan hanya dihapal aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, menerapkan itu lebih menantang daripada menghapal.

      Hapus
  10. Dari kemarin baca review film Lima jadi bikin penasaran dan pengen nonton filmnya nih mba.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film Lima memang bikin penasaran kalau baca reviewnya.

      Hapus
  11. Saya sud as h nonton film Lima ini, saya suka. Ada beberapa adegannya yang membuat saya tak mampu menangkis air mata. Layak ditonton film ini, selain sebagai bentuk merayakan hari pancasila, kita juga sudah dukung film Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sepakat dengan mas Imawan. Dukung Film bagus sperti LIMA!

      Hapus
  12. Klo gak salah aku baca tentang film ini di beranda twitter, Alhamdulillah ada film yang inspiratif untuk negeri ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah banget, mbak Eni. Ada film yang membuat pencerahan tentang Pancasila

      Hapus
  13. Film ini menurut aku sih ngajak mikir dan merenung. Jadi berat. Memang Pancasila bukan cuma dihafal, tapi dijadikan perilaku. Makanya. Berat. 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih mudah bila diterapkan, tanpa terlalu banyak mikir atau hapalan yang bisa bikin tambah jadi berat. :)

      Hapus
  14. Udah lihat teasernya dan makin penasaran deh mau nonton film ini. Kayaknya bagus ya, apalagi mengangkat kelima sila Pancasila yang diterapkan dalam kehidupan ... Semoga masih tayang di bioskop nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus, mbak Monica. Filmnya beda karena mengangkat kelima sila Pancasila.

      Hapus
  15. Bagus kayaknya filmnya. bagus juga ditonton. Apalagi di zaman sekarang yang lagi gonjang-ganjing nilai-nilai Pancasila yang terlupakan. Noted!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, film seperti LIMA bagus untuk di zaman sekarang yang nilai-nilai Pancasila kadang terlupakan.

      Hapus
  16. menarik sekali mbak, udah saya agendakan nih buat nonton ini hihi
    makasih buat info2nya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat mbaj Liana

      Hapus
  17. wah masih tayang g ya film ini.lupa mau nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan lewatkan kalau ada kesempatan untuk nonton film seperti LIMA.

      Hapus
  18. Spoiler banget nih, tapi memang sesuai koq sama kehidupan masyarakat di negara ini yang mulai melupakan Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Review hanya untuk memperjelas, bro Denny. Tetap lebih asyik kalau nonton langsung. Apalagi, terkait dengan Pancasila.

      Hapus
  19. Sempat baca pro & kontranya nih. Yang kabarnya BSF minta Lola menghilangkan adengan tertentu yang justru akan merusak benang merah dari film ini. Alhamdulillah tayang ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Alhamdulillah tayang. Membicarakan masalah sensitif, seperti beda agama dan lainnya yang pro kontra itu, memang sesuatu dan perlu pemikiran jernih.

      Hapus
  20. Film nya pasti bagus,, sebuah nutrisi terhadap negeri ini agar kembali lagi kepada fundamentalnya yaitu Pancasila :)

    Stop Perpecahan, Yes Kesatuan NKRI !!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Stop Perpecahan. Jaga Kesatuan NKRI!

      Hapus
  21. WHOAAAA! so detail kak review nya.. jd pengen nonton lima, masih ada ga sih di bioskop?

    BalasHapus
  22. Keberagaman, justru akan lebih mewarnai kehidupan ya, seperti keluarga bu Maryam ini. Ahh penasaran sama konflik cerita di pelemnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keberagaman membuat hidup lebih berwarna dan mesti mampu dan mau menerima

      Hapus
  23. Dih ternyata keran banget ya film Lima, aku belum nonton. Penasaran bagaimana 5 sutradara merepresentasikan nilai-nilai Pancasila dalam tiap adegan film yang mereka buat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cakep banget, mbak Yunita. Film Berjudul Lima dengan Lima Sutradara membahas Lima Sila Pancasila.

      Hapus
  24. Film kayak gini yang harus diperbanyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget, bro Andri Mastiyanto.

      Hapus
  25. Aku belum sempet nonton film ini, jadi pengen nonton deh, masih tayang ga yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm.... perlu cek ke sinema yang ada.

      Hapus
  26. Dari kemarin masih maju mundur mau nonton film ini karena kuatir terlalu berbau politis. Tetapi ternyata dari trailer dan tulisan ini aku jadi tertarik mau nonton. Kira-kira masih tayang di bioskop nggak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Filmnya tidak bermuatan politis, mbak Atisatya. Semoga masih ada yang tayang, ya...

      Hapus
  27. Harus ditonton nih film seperti ini. Biar makin paham ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, menonton dulu supaya lebih paham.

      Hapus


  28. Hmmm dari resensi film di atas tampaknya ini film yg bagus dan kaya akan nilai. Sayang belum sempet nonton euy. Apalagi ada setting dunia renang ya? Waaah itu masa lalu gue banget. 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fimnya bagus. Pernah mengalami hal yang sama, setting di dunia renang? Cerita dong...!

      Hapus
  29. Tulisannya keren, sangat pantas jadi juara

    BalasHapus
  30. Yang pasti, Pancasila adalah dasar dan ideologi bangsa Indonesia yang memiliki makna mendalam dalam menjaga persatuan bangsa.

    BalasHapus
  31. film ini wajib ditonton mulai dari anak remaja biar mereka juga memaknai nilai luhur Pancasila yang sudah mulai pudar di masyarakat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, film yang bagus banget sebenarnya untuk ditonton juga oleh remaja.

      Hapus
  32. adik2ku yg masih sekolah penting nih nonton film LIMA eh tetap kudu didampingin ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut LSF yang nonton 17 tahun ke atas, tapi menurutku sih bisa sebenarnya usia di bawah itu asalkan ada pendampingan.

      Hapus
  33. wahh jadi makin penasaran dengan film Lima ini. Sayang saya tinggal di kota kecil yang gak punya bioskop.
    nunggu filmnya resmi keluar di TV aja deh jadinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya sudah ada di televisi, jangan lupa onton. Bagus deh filmya.

      Hapus
  34. Filmnya menginspirasi ya mbak..bahwa keyakinan itu tidak untuk memecah belah persatuan baik di keluarga dan bermasyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mbak Hida, menginspirasi banget.Perbedaan yang ada justru menyatukan.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan memberikan komentar positif demi kemajuan dan kenyamanan pembaca.

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mbak Yani dan Kanker Leher Rahim Stadium 3 B-nya...

HARI  masih pagi. Masih belum pukul 6.00 tapi perempuan itu sudah bersiap-siap. Beranjak untuk segera membersihkan tubuh. Bersiap untuk mandi. Berpakaian yang baik dan sedikit berpupur bedak tipis. Menyantap sedikit makanan yang disediakan agar perut tidak kosong meskipun harus diiringi rasa mual.
“Sudah siap-siap, mbak?” sapa saya.
Perempuan  bertubuh kurus itu tersenyum  manis. Dia hanya tinggal menunggu adik perempuannya yang akan menemaninya.
Kamis 4 Februari 2016 ini, pada pekan ini,  adalah jadwalnya untuk kembali  menjalani transfusi darah di RS Kanker Dharmais, Jl S Parman, Slipi. Upaya penambahan darah itu sangat dibutuhkan perempuan ini untuk memperpanjang kelangsungan hidupnya. 
Pekan lalu, Mbak Yani menghabiskan suplai  tiga kantung darah. Harus ada yang terganti dari keluarnya pendarahan yang terus menerus dari bagian kewanitaan yang  ada di tubuhnya. Pendarahan yang selalu Pendarahan yang harus memaksanya selalu memakai pembalut.
Pendarahan yang secara p…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…