![]() |
Sarasehan Tokoh Bangsa'Merajut Kebersamaan Newujudkan Kemerdekaan dari Kemiskinan (dok.windhu) |
Republik Indonesia berusia 80 tahun pada 17 Agustus 2025. Meski demikian, negara ini belum merdeka dari belenggu penjajahan kemiskinan. Mengembangkan industri komunal, pengelolaan zakat, hingga kewirausahaan dapat menjadi cara untuk mengatasinya.
“Merdeka dari belenggu penjajahan kemiskinan dalam berbagai bentuk,” tegas Inisiator dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Parni Hadi saat keynote speech dalam Sarasehan Bersama Tokoh Bangsa “Merajut Kebersamaan mewujudkan Merdeka dari Kemiskinan” di Sasana Budaya Rumah Kita, Philantrophy Building, Jakarta, 13 Agustus 2025.
Sarasehan yang dimoderatori Dede Supriadi (Senior Jurnalis) ini menghadirkan tokoh nasional lintas bidang lainnya, yakni Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A (Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI), Dr. H. Rahmat Hidayat, SE., MT. (Sekjen Dewan Masjid Indonesia), Yudi Latif, Ph.D. (Aktivis dan Cendekiawan), Dr. Bambang Widjojanto (Aktivis Hukum dan Demokrasi), dan Ahmad Juwaini (Ketua Pengurus YDDR).
![]() |
Parni Hadi, Inisiator Dompet Dhuafa (dok.windhu) |
Menurut Parni Hadi, jangan sampai terlena pada zona nyaman dan harus selalu tumbuh agar tidak lengah. Pernyataan ini juga terkait dengan usia lembaga filantropi Dompet Dhuafa yang sudah berusia 32 tahun.
Merdeka itu dari beberapa segi. Perlu diingat, kata Parni Hadi mengutip Presiden RI Soekarno, perjuangan saat ini lebih berat karena harus melawan bangsa sendiri. Beda dengan zaman dulu yang berhadapan dengan penjajah.
Untuk itu, kata Parni, dikembangkanlah DD Goes Communal Industry, betuknya industri komunal yang dimiliki para mustahik, yang penyiapannya antara lain melalui pendidikan, pembibitan, pembudayaan. Selain tentunya, melibakan perempuan.
Masjid Penggerak Ekonomi Umat
Lalu
bagaimana dengan jumlah kemiskinan di Indonesia? Dari segi data angka
kemiskinan di Indonesia seringkali masih jadi kontroversi. Data angka
kemiskinan per Maret 2025 sebesar 22,3 juta jiwa. Jumlah ini turun dibandingkan tahun 2024 sebesar 24,6 juta jiwa.
Indikator
yang digunakan BPS adalahgaris kemiskian yang diturunkan setara Rp 600.000 per
bulan atau Rp.20.000 sehari. Sementara jika menggunakan indikator jumlah
penduduk miskin akan lebih besar, yakni Bank Dunia dengan 2,15 USD per hari, bisa
lebih besar.
![]() |
Peluncuran dua buku Dmpet Dhuafa (dok.windhu) |
“Data
angka kemiskinan masih menjadi kontroversi vesi Bank Dunia atau BPS. Satu hal
yang jelas dan pasti adalah jumlah penduduk miskin di Indonesia masih banyak.
Jadi perlu mengatasinya bersama-sama,” kata Ahmad Juwaini (Ketua Pengurus YDDR).
Di sisi
lain, Dr. H. Rahmat Hidayat, SE., MT. (Sekjen Dewan Masjid Indonesia) mengatakan,
seberapapun angka kemiskinannya, tetap mayoritas adalah warga muslim. Kemiskinan
menjadi permaslahan. Kelaparan dan ketakutan saling berkaitan. Mengenai kemiskinan
disinggung dalam Al Quran, salah satunya Al Maun.
Lalu
dimana peran masjid? Menurut Rahmat Hidayat, berdasarkan data Sistem Informasi
Masjid (SIMAS) Kementerian Agama (Kemenag), jumlah masjid di Indonesia minimal
satu juta masjid. Jika masjid bisa menggerakan ekonomi umat dampaknya akan dahsyat.
Dalam pengembangan masjid sebagai pusat ekonomi umat, disadarinya kemampuan masjid tidak semua sama sebagai rumah wirausaha. Karena itu, ada masjid utama yang membina 5 masjid di sekelilingnya sehingga diharapkan menjadi snowball. Hal senada disampaikan Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A (Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI) yang menekankan peran lembaga dan para muzaki dalam pengentasan kemiskinan.
![]() |
Persembahan lagu nasional perempuan DD (dok.windhu) |
Merdeka dan Pendidikan
Sementara,
cendekiawan Yudi Latif mengatakan, kelemahan kita terus menerus terjebak dalam
kemiskinan karena kita tidak berhasil mengembangkan kemerdekaan yang positif.
“Caranya keluar ada di dalam kata Merdeka itu sendiri Mahardika dari Sansekerta yang artinya terdidik, terpelajar, tercerahkan, dan bijak. Tidak ada negara yang berhasil keliar dari kemiskinan kalau bangsanya tidak terdidik,” kata Yudi.
undation), berupa perjalanan kiprah
lembaga dalam membangun kemandirian umat.
Selain sarasehan diskusi, Dompet Dhuafa juga meluncurkan dua buku terbaru: Catur Windu Dompet Dhuafa dan Senyum Nabi (dhu)
Alhamdulillah Dompet Dhuafa bisa bersinergi dengan para tokoh bangsa dalam membahas masalah akut di negeri kita: Kemiskinan. Semoga semua lini bisa saling bahu membahu dalam mengentaskannya, termasuk Dompet Dhuafa sebagai lembaga amilin dan filantropi nasional Indonesia
BalasHapusAlhamdulillah masih ada yang tergerak hatinya untuk ikut membantu agar negara ini keluar dari kemiskinan. Harapan kita semoga negara ini benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bukan memperhatikan perut dan isi rekening masing-masing (buat para pejabat)
BalasHapusTulisanmu tentang tumbuh bersama Indonesia di usianya yang semakin matang, apalagi bersama Dompet Dhuafa, mengingatkan dan mengajak refleksi diri.
BalasHapusKalimat : "usia Republik itu sebagai “ajak untuk beraksi nyata” terasa menyentuh—menumbuhkan rasa cinta tanah air sambil mengundang refleksi. Tulisannya terasa seperti undangan halus untuk menjadikan cinta bukan sekadar kata, tapi tindakan kecil sehari-hari yang berdampak. MERDEKA!
Problem kemiskinan masih saja menjadi momok bagi bangsa ini meski sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Memang diperlukan sinergi dari semua lembaga baik, swasta, masyarakat maupun pemerintah. Dompet Dhuafa menjadi salah satu contoh aksi nyata dalam upaya mengurangi angka-angka kemiskinan tadi, semoga segala hal baik dimudahkan dan kondisi Indonesia makin hari makin baik.
BalasHapusWaaah, tokoh senior Dompet Dhuafa pada hadir yaa. Keren memang Dompet Dhuafa ini, lembaga zakat yang diinisiasi oleh Republika dan sekarnag sudah jadi lembaga independen dan berkembang pesat. Banyak bermanfaat bagi umat.
BalasHapusPas banget nih momen bangsa kita lagi ulang tahun ke-80. Usia udah matang, tapi masih ada PR besar: merdeka dari kemiskinan. Dompet Dhuafa sampai menginisiasi industri komunal, masjid penggerak ekonomi, hingga pendidikan supaya masyarakat makin mandiri dan cerdas. Semangatnya bener-bener bikin hati bergetar dan pengin ambil bagian!
BalasHapusDi tengah ekonomi yang lagi sulit begini, memang imbas yang paling parah adalah kelompok menengah ke bawah. Kita memang tidak bisa mengandalkan sepenuhnya sama pemerintah, ada kalanya kita harus mulai bergerak untuk diri sendiri, lalu menolong orang lain yang rentan.
BalasHapussecara di Indonesia, penggerak pemikiran yang paling dekat dengan masyarakat memang dari masjid. Masyarakat dekat dengan ceramah dan kajian ustadz atau tokoh masyarakat. Buat saya ini pendekatan dan edukasi yang bagus. Semoga Dompet Dhuafa terus menyebarkan edukasi dan uluran tangan yang tulus kepada masyarakat.
Saya sepakat dan sering kepikiran dari dulu, Masjid itu harus jadi fungsi sosial. Kadang suka ngebatin, kalau tiap Jumatan ada masjid yang ngumumin saldo kasnya hingga ratusan juta rupiah. Padahal di sekelilingnya masih ada saja yang kekurangan.
BalasHapusSungguh memang untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata itu ternyata perlu peran serta berbagai pihak ya. Alhamdulillah ada bagian dari masyarakat yang berinisiatif ikut bergerak untuk mengatasi masalah kemiskinan, sekaligus merangkul warga lainnya untuk bisa ikut berpartisipasi berbuat sesuatu.
BalasHapusMemaknai kemerdekaan negeri juga turut andil pada keperdulian kesejahteraan sosial masyarakatnya. Melalui berbagai instrumen seperti Ziswaf yang dikelola secara tepat dan benar
BalasHapusSangat penasaran sama kedua buku yang di launching. Pastinya bermanfaat serta inspiratif sekali ya mba.
BalasHapusBener nih, negeri Indonesia udah merdeka 80 tahun tapiii masalah kemiskinan jadi momok yang kian hari meresahkan. Dompet Dhuafa selalu oke kalau bikin acara. Semoga saja semakin berperan dalam peretasan kemiskinan ya. Semakin menurun dan berkurang angka kemiskinan.
Peran lembaga philantropi seperti Dompet Dhuafa ini membantu pergerakkan ekonomi, karena negara pun tidak bisa bergerak sendiri
BalasHapusSemoga dengan adanya program dari Dompet Dhuafa dapat membantu percepatan perbaikan ekonomi untuk merdeka dari kemiskinan
Setuju nih, merdeka bukan hanya bebas dari penjajah, tapi lebih jauh lagi merdeka dari kemiskinan, kebodohan, kesejahteraan. semoga programnya dompet dhuafa terus berkembang menjangkau masyarakat luas untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya
BalasHapusKalau lihat ekonomi yang sekarang, sedih asli. Kemiskinan di mana-mana, padahal Indonesia katanya kaya. Semoga adanya Dompet Dhuafa membantu mereka, menyalurkan bantuan dengan semestinya
BalasHapusMashaAllaa.. aku baru tau kalau Ustqadz Zaitun kini jadi Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI. Beliau adalah ustadz para mahasiswa saat sekolah di Jepang.
BalasHapusHarapann besar bersama lembaga filantropi terpercaya Dompet Dhuafa untuk bisa bergerak membawa perubahan dan kebaikan bersama. Meski kini keadaan perekonomian kita sedang tidak baik-baik saja.