Langsung ke konten utama

Berkaca dari Neng Koala : Semangat ! Kesempatan Kuliah di Australia Itu Ada



Neng Koala, Kisah-Kisah Mahasiswi Indonesia di Australia yang inspiratif untuk dibaca (dok.windhu)

ENTAH kenapa, perlahan muncul rasa malu sekaligus iri begitu membaca lembar demi lembar buku pink berjudul Neng Koala, Kisah-Kisah  34 Mahasiswi Indonesia di Australia,  yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.

Malu karena saya mengakui betapa hebatnya perjuangan perempuan-perempuan ini menggapai pendidikan tingginya. Iri yang positif karena timbul keinginan untuk bisa seperti mereka. Para perempuan yang mampu mewujudkan keinginannya meraih pendidikan di luar negeri, dengan berbagai kondisi yang dimiliki.

Kuliah di luar negeri? Anganan itu pernah ada. Ya, setidaknya saat saya (dulu) masih duduk di bangku sekolah menengah.  Jerman merupakan salah satunya. Kemudian Amerika Serikat, dan Australia.

Inilah sebagian Nengs yang menulis dalam buku Neng Koala (dok.windhu)

Sederhana saja, karena banyak orang hebat yang lulusan dari negara itu di Indonesia.  Lulusannya menghasilkan karya yang luar biasa di dalam negeri. Memiliki pikiran cemerlang dan tindakan yang lebih maju.

Selain itu, lulusan luar negeri dikagumi, disegani, dan pastinya menduduki posisi pekerjaan kelas atas bila sudah kembali ke negeri Indonesia. Hal itu tentunya berpengaruh pada penghasilan yang  juga  tinggi. Hidup yang semakin mapan. Setidaknya itu anggapan saya, yang mungkin sama dengan  banyak pandangan orang.  

Namun semua itu berlalu seiring dengan waktu karena merasa semuanya  tidak memungkinkan. Terlalu banyak yang harus dihadapi. Terlalu banyak yang membuat langkah saya harus terhenti.

Peluncuran Buku Neng Koala yang menghadirkan 5 Nengs dipandu oleh MC Gloria Oyong, di Aussie Corner lantai 8 , Bina Nusantara, tanggal 25 April 2018 (dok.windhu)

Ya, bila mengingat satu persatu banyak sekali yang harus menjadi pertimbangan. Berpikir realistis (atau coba meyakinkan diri mengenai itu) menjadi salah satu yang menjadi pegangan agar tidak menyusahkan orang tua.

Kebutuhan ekonomi dan rutinitas tak berkesudahan setiap hari, membuat keinginan kuliah ke luar negeri semakin memudar dan terasa menjauh.  Ah, itu hanya berlaku bagi yang mampu saja. Baik secara finansial, maupun nilai akademi. Itu pikiran yang terlintas dan semakin menjauhkan keinginan.

Kuliah lagi? Sudahlah, nanti saja. Bahasa halusnya, lupakan saja. Lagipula, kalau harus kuliah lagi, sedikit banyak orang tua yang benar-benar semakin tua dari segi usia pasti mau tidak mau akan direpotkan secara (tak) sengaja.  

Para pengunjung saat peluncuran buku Neng Koala di Bina Nusantara (dok.windhu)

Hahaha, mungkin terdengar miris. Namun, itu juga yang pernah disampaikan salah seorang kerabat saat anaknya ingin melanjutkan jenjang S2. Sebenarnya lebih berharap anaknya untuk punya pasangan saja dan mempersiapkan keluarga.

Alasannya, takut jodoh semakin menjauh bila pendidikan semakin tinggi. Jadi, perempuan usia matang menikah yang ingin menempuh pendidikan semakin tinggi, harus 
mempertimbangkannya dengan baik-baik.Namun, saya yang suka menulis blog ini, tercerahkan ketika membaca Neng Koala.

Indah Erniawati, menempuh S2 dengan tetap mengurus dua anak dan suami (dok.windhu)

Masak, Manak, Macak
Saya ingat, pernah ada seorang rekan kerja laki-laki beberapa tahun lalu yang seraya tertawa mengatakan, jika setinggi apapun perempuan menempuh pendidikan, ujung-ujungnya ya dapur, sumur, dan kasur.   

Nah saat membaca salah satu tulisan Ellis Indrawati, yang merupakan tulisan pertama di Buku Neng Koala, bagian pertama bertema Berburu Beasiswa saya tersentuh dengan tulisannya yang mengatakan, jika banyak yang mengomentari masa depannya.

Saat berkeinginan menempuh S2, Elis memiliki status yang belum menikah sedangkan di sisi yang sama, memiliki umur yang sudah waktunya menikah. Anggapan banyak orang, sebanyak 99, 9 %  lulusan S-2, terlebih lulusan luar negeri itu pastinya akan banyak uang, dan memiliki posisi di pekerjaan.

Lalu, siapa yang berani mendekati kamu?  Jodoh pasti makin jauh saja. Sudahlah, perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Paling jatuh-jatuhnya 3 M (Masak, Manak, dan Macak), yang dalam bahasa Indonesia artinya memasak, memberi keturunan, dan mempercantik diri. Itu yang diterima Ellis. Istilah yang tidak jauh berbeda dengan dapur, sumur, dan kasur.

Hubungan kasih Ellis akhirnya memang kandas. Namun, Ellis yakin bila jodoh, rejeki dan maut di tangan Tuhan. Siapa yang sangka jika Ellis kemudian bertemu dengan kekasih hatinya di Canberra. Siapa yang bilang sekolah tinggi menjauhkan jodoh?  

Ellis mampu mewujudukan keinginannya berkuliah di luar negeri yang pernah diangankannya sejak sekolah menengah, namun sempat melupakannya karena kondisi ekonomi orang tua. Bertahun-tahun kemudian, asisten dosen penelitian yang bekerja di sektor pemerintahan ini bahkan waktu cukup panjang untuk bisa mendapatkan beasiswa.

Sejak tes pertama baru bisa lolos 4 tahun kemudian pada tahun 2009. Ellis selalu lulus pada seleksi tes administrasi, tapi selalu gagal di tes wawancara. Semua itu tak mengendurkan semangatnya.

Mindset  dan anggapan memarginalisasi posisi perempuan hingga kini memang masih ada. Tingginya pendidikan dan status perempuan seringkali dikhawatirkanmembuat perempuan lupa dengan kodratnya. Mungkin ada beberapa kasus,  lelaki yang merasa harga dirinya terluka bila kalah dalam hal-hal semacam ini dengan pasangannya. 

Padahal, pendidikan adalah modal penting bagi perempuan. Sebagai ibu, perempuan agen transfer knowledge bagi anak-anak yang di kemudian hari akan menjadi penerus bangsa. Kisah Ellis menginspirasi perempuan lajang usia matang untuk tak ragu melangkah.

Tiga perempuan yang memiliki perbedaan kondisi, tapi mampu menyelesaikan pendidikan di Australia  (dok.windhu)

Lajang Kuliah, Punya Anak pun Kuliah
Kondisi lajang (belum menikah), berkeluarga dengan punya anak dan suami, atau bahkan seorang single parent (orang tua tunggal) menjadi tantangan masing-masing bagi para Nengs  (sebutan bagi kontributor buku Neng Koala).

Namun, semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, di Australia yang terkenal dengan hewan koala. Sehingga terciptalah tulisan-tulisan dibukukan dalam Neng Koala.    

Nah, bagi para perempuan yang sudah memiliki anak dan juga harus mengurus suami tentunya lebih berat. Karenanya, tak berlebihan jika Kisah-Kisah Keluarga, yang merupakan bagian 2 buku Neng Koala yang memilliki tebal keseluruhan 254 halaman. Ada 15 kisah para perempuan yang sudah berkeluarga yang harus melakukan peran ganda sebagai ibu dan  juga sebagai mahasiswa.

Mereka tidak hanya harus menyesuaikan dengan keadaan. Mengurus anak, memasak dan menyiapkan makanan, mengantarkan anak sekolah dan ke day care, mengurus suami, sambil sekaligus mengejar deadline assignment.

Ada kisah perempuan yang membawa serta anak dan suaminya ke Australia, yang tentu saja kemudian beasiswa yang didapatkan tak cukup untuk menanggung biaya hidup. Harus bekerja sambil kuliah dan suamipun harus mencari pekerjaan untuk menutupi biaya hidup.

Ada juga yang harus meninggalkan keluarganya di tanah air selama berkuliah. Ada juga yang bahkan harus meninggalkan bayinya baru berusia 45 hari demi mewujuskan pendidikan tinggi yang diinginkan.

Ada yang harus menjalani kehamilan, mengalami masa sulit hamil besar saat kuliah, melahirkan, hingga mengurus bayi di negeri orang. Ada single parent yang harus sibuk mengurus dua anaknya yang balita, sekaligus kuliah. Semua memiliki tantangan dan kendala yang membuahkan hasil manis.  

Cucu Saidah, perempuan difabel yang mampu menempuh pendidikan S2 di Australia (dok.windhu)


Kesempatan Itu Ada
Salut saya muncul saat mengetahui Cucu Saidah, dengan studi inklusif di Australia Perempuan yang sudah menggunakan kursi roda ini mampu meraih Master Kebijalan Publik di Universitas Flinders Australia melalui beasiswa.

Kisah cucu dalam bagian Kehidupan Kampus cukup menggetarkan. Suami Cucu ternyata  juga pengguna kursi roda, yang membutuhkan pendamping. Awal di negeri koala, cucu sempat kesulitan untuk mendapatkan akomodasi dan kecewa tidak bisa ikutnya pendamping yang biasa mengurus karena berusia kurang 21 tahun.

Namun ternyata di Adelaide, tugas personal care mampu dilakukan sendiri oleh Cucu dengan hoist dan sling atau alat mengangkat badan hidrolik untuk mengurus suaminya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, pasangan ini tidak memerlukan bantuan orang lain dalam menjani hidup sehari-hari.

Tentu saja ini dibantu dengan akses dan kondisi seperti transportasi di Australia yang ramah pada difabel. Perempuan ini mampu mengeksistensikan dirinya. Tak surut semangat untuk meraih pendidikan tinggi S2 hingga selesai.

Antusiasme tinggi pengunjung, termasuk mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Australia (dok.windhu)

Kisah Inspiratif Perempuan
 Membaca buku Neng Koala yang berwana pink, lecutan semangat akan muncul. Dalam hati berdesir, mereka bisa melewati segala kendala dan tantangan.  Berani mengambil pengalaman yang membuahkan inspirasi, Seharusnya yang lain juga bisa, kan?  

Buku Neng Koala layak dibaca bagi semua perempuan yang ingin memiliki pendidikan tinggi di luar negeri, khususnya di Australia. Semua perempuan yang pernah bermimpi meraih jenjang perkuliahan S2 dan S3 luar negeri, pertukaran pelajar, ataupun short course.

Status apapun yang dimiliki, seperti lajang, menikah dengan atau tanpa anak, punya suami dan anak, ataupun single fighter dengan anak sudah sudah menuangkan kisah inspiratifnya.  dalam buku yang terdiri atas 7 bagian ini.

Buku yang berisi kisah-kisah para mahasiswi Indonesia di Australia, yakni Berburu Beasiswa (6), Kisah-kisah Keluarga (15), kehidupan Kampus (3), Keseharian di Australia (4), Tips Praktis (4), Pertukaran Pelajar, Magang,Short Course, dan Volunteering (5), Kembali ke Indonesia (2 orang).

Neng Koala muncul karena adanya keresahan kaerna keputusan seorang teman perempuan di Indonesia yang melepas tawaran beasiswa kuliahnya ke Australia. Melati, kemudian menggagas buku Neng Koala, yang semula berupa blog kisah-kisah yang diterbitkan via blog. www.nengkoala.id .

Perlunya berbagi tentang kisah perempuan lainnya, yang berjuang keras dalam situasi yang berbeda-beda untuk meraih pendidikan di luar negeri. Sebagian besar merupakan penerima beasiswa yang menempuh studi Master atau PhD. Perempuan yang menulis dengan apa adanya. Jujur tanpa ditutupi.

Buku Neng Koala tak hanya inspiratif bagi perempuan. Laki-laki pun bisa menemukan kisah menarik (dok.windhu)

Perempuan, Tak ada yang Menghentikanmu
Gaya penuturan dalam Neng Koala yang  bercerita, membuat tidak perlu waktu banyak untuk membacanya. Jauh dari kening berkerut. Namun tidak meninggalkan esensi muatan pesan yang disampaikan. Perjuangan untuk meraih pendidikan tinggi dengan berbagai kondisi.

Tidak ada kesan menggurui dan merasa hebat dari cerita yang disampaikan Mengalir begitu saja lembar demi lembar dengan cerita keseharian. Buku yang diberikan kata Paul Grigson (Duta besar Australia untuk Indonesia 2015-2018) ini juga unik karena menyajikan kamus dapur, tips-tips untuk bisa menjalani hidup sambil berkuliah dan membiayai anak di Australia, hingga mendapatkan pekerjaan untuk mencukupi biaya hidup.

Buat saya, rugi jika tidak membaca buku ini buat yang ingin menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya Australia. Juga pantas dibagi para lelaki yang memiliki istri,, anak, saudara, maupun teman perempuan yang bercita-cita punya pendidikan S2 dan S3.  

Tidak ada kalimat pas selain yang diucapkan oleh Butet Manurung, Direktur SOKOLA,  alumnus Australia National University, dalam akhir kata pengantarnya yang bilang : Ini bacaan wajib bagi mereka yang sedang mengejar beasiswa studi di luar negeri. Ingat ini tentang dirimu. Tak satupun yang dapat menghentikan cita-citamu selain dirimu sendiri. (rwindhu)


Sebagian  Nengs pengisi Buku Neng Koala yang inspiratif (dok.windhu)

DATA BUKU :

Judul           : Neng Koala. Kisah-kisah Mahasiswi Indonesia di Australia
Harga          : Rp 65.000
ISBN           : 978-602-03-8400-9
Terbit          : April 2018
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tebal          : 254 halaman
Cover         : Softcover  
Ukuran       : 14 x 21 cm








Komentar

  1. Aku beruntung sbnrnya krn keluarga dan suami juga mndukung banget utk meraih pendidikan setinggi2nya. Tp dlm caseku, akunya yg nolak ambil s2 krn keasyikan kerja dan dapet uang sendiri :D. Sayang memang, tapi kdg prioritas orang beda2. Kalo suami mentingin banget pendidikan, makanya dia bela2in kerja sambil kuliah. Tp aku ga deh.. Kalopun mau belajar lg, aku lbh seneng ambil yg short course aja :D. Makanya selalu salut ama wanita2 yg msh mau kuliah setinggi2nya. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…

Bayi Tabung, Upaya Saat Buah Hati Tidak Kunjung Datang

Setelah tiga tahun menikah tidak kunjung ada tanda kehamilan, Alvita akhirnya memutuskan untuk mempunyai anak melalui bayi tabung. Kala itu, sudah berbagai upaya yang dilakukannya agar hamil, baik melalui medis, alternatif, maupun tradisional.
“Waktu itu umur sudah 29 tahun. Saya memutuskan untuk ikut bayi tabung karena kansnya lebih besar dan lebih mudah untuk hamil,” kata Alvita, saat memberikan testimoninya di Women & Health Talkshow, bertajuk Your Greatest Wealth is Your Health, yang diselenggarakan di Elbombon Cafe, Rasuna Said Jakarta, 20 Mei 2017.


Alvita menjajal program bayi tabung tahun 2010. Sebelumnya, Alvita pernah mengikuti seminar edukasi mengenai bayi tabung dan akhirnya merasa tertarik. Dari 7 sel telur yang dapat diperoleh, sebanyak 3 sel telur dapat dimasukkan kembali, dan akhirnya berhasil 1.
Seorang bocah perempuan bernama Naura yang berasal dari bayi tabung itu kini berusia 6 tahun. Anak yang lucu itu turut hadir di samping Alvita. Perempuan berkerudung itu  ki…