Langsung ke konten utama

Santapan Cinta Indonesia dan Ala Jepang di Best Western Plus Kemayoran

Soto Abah, soto kuah susu yang rasanya ringan di Best Western Plus Kemayoran (riapwindhu)


Slurp... Sesendok kuah soto terseruput sempurna. Terasa ringan di lidah dan mulut. Kuah yang berwana kuning tidak kental, seperti umumnya soto yang terdiri dari campuran babat dan daging.

“Kuah sotonya bukan dari santan, tapi dari susu,” kata Chef Hiriyanto, dalam food tasting media, di Onyx Restaurant Best Western Plus kemayoran Hotel, akhir Februari lalu.


Kuah susu yang banyak dapat dicampur dengan sambal bila suka (dokpri)

Pantas saja rasanya tidak seperti kuah soto pada umumnya, yang lebih pekat.  Disajikan dalam keadaan masih panas dengan asin yang pas, perut yang lapar semakin tergoda untuk menyantapnya. Dalam soto kuah susu yang dinamakan soto Abah, dagingnya terasa empuk. Begitu juga dengan babat dan kikil yang direbus.

Paduan rasa rempah pilihan yang khas dan tetap mempertahankan pengolahan secara tradisional, cita rasa soto tetap dipertahankan. Dengan tambahan ketupat dan mie putih sebagai pelengkap makan siang, soto kuah susu menjadi menu yang cocok untuk makan siang. Potongan daun bawang dan tomat merah dapat juga disertakan untuk memperkaya rasa.


Mie Udon yang lembut dengan daging ayam (dokpri)

Rasa soto abah  kuah susu semakin mantap saat diberikan tambahansambal dan jeruk nipis, sesuai dengan selera. Apalagi saat tahu soto abah bisa dinikmati hanya dengan harga Rp. 59.000 nett/porsi.

Selain hidangan Indonesia berupa soto abah kuah susu, ada pula hidangan istimewa lainnya yang saya dan kawan-kawan cicipi siang itu. Hidangan khas Jepang  Udon, yakni olahan jenis mie yang terkenal di Jepang, sudah ditata apik di piring yang disajikan.


Udon daging kuah kari yang enak (dokpri)

Udon Kuah Kari pun menjadi santapan mie kuah yang segar  yang terbuat dari kaldu serta kecap asin dan irisan cabai. Chef yang mengolahnya menyajikan dan mengkreasikan udon menjadi menu yang lezat dan sesuai dengan lidah orang Indonesia. Saya menyukai lembutnya udon dan taburan daging di atasnya yang berharga Rp.79.999 nett/porsi.

Usai menyantap makanan yang mengenyangkan perut lapar, hadir desert Brownie White Choco. Potongan cokelat brownies yang disajikan dengan ice cream dan whipped cream.  Manisnya cokelat berpadu dengan empuknya tekstur brownies menyatu dalam mulut. Penyuka kue manis dapat menjadikannya sebagai pilihan desert yang berhata Rp.49.000 nett/porsi.  

Brownie White Coco, Brownies manis dengan hiasan buah strawberry (dokpri)

Sebagai pelengkap santapan di Onyx Restaurant, disajikan pula mocktail bernama  Rising Sun. Rasa minuman yang merupakan campuran orange dan lime ini terasa segar di udara siang hari yang panas. Dinginnya mocktail  seharga Rp.49.000 nett/gelas membasahi tenggorokan yang haus.

Bagi penyuka cocktail ada pilihan minuman Rusty Nail. Minuman yang merupakan campuran Jack Daniel dengan Drambuie dapat dinikmati seraya melihat pemandangan Jakarta. Dengan Rusty Nail dengan harga Rp.79.000 nett/gelas, siapa pun yang meminumnya akan lebih indah menyaksikan malam hari dari Skylounge, yang ada di lantai 21.

Chef Hiriyanto memegang dua menu udon, masakan Jepang yang disesuaikan dengan lidah Indonesia (dokpri)


Best Western Plus Kemayoran, setiap tiga bulan sekali menciptakan berbagai macam kreasi menu masakan. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan para tamu sehingga mampu memberikan kesan yang berbeda.

Best Western Plus Kemayoran kali  ini menyajikan makanan khas masakan Indonesia yang dalam promosinya bertema I Love Indonesia, untuk mengembangkan dan memperkenalkan beragam kuliner Indonesia. Selain menghadirkan cinta Indonesia, juga menyediakan ala Jepang. Coba, deh...


Komentar

  1. Wah sedap tuh makanannya.

    BalasHapus
  2. Hmm, iya mpo ratne. Bolehlah jadi alternatif makan siang

    BalasHapus
  3. duuh..tuh soto banyak santennya kayanya
    eh..tp browniesnya menggugah selera :D

    BalasHapus
  4. Luar biasa anda sukses menggoda iman sayah.

    BalasHapus
  5. Ini dimana toh lokasinya, Mba? Saya orang Depok, kali aja nanti bisa mampir kemari. Kuah susu pada soto ini menggoda selera. ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…

Menyantap Martabak yang Bikin Bahagia di Martabak Factory

Potongan martabak itu langsung lumat di dalam mulut. Manisnya langsung menguasai dan larut. Seulas senyum kemudian muncul di wajah Melinda, perempuan manis berkerudung itu. Masih ada sisa martabak di piring yang sedang dipegang. Seakan tak ingin berhenti untuk segera menghabiskannya.
“Martabaknya Enak. Green tea-nya terasa,” ujarnya.
Saya pun mengangguk-angguk. Sepotong green tea martabak dari piring yang sama, juga baru saja masuk ke dalam mulut saya. Kami pun tertawa. Sesimpel itu tawa terlepas di Martabak Factory.


Saya jadi ingat tulisan besar berlatar warna ungu yang ada di dinding lantai dasar kafe. Money can’t buy happines, but it can buy Martabak which is pretty much the same thing.
Betul juga, pikir saya. Bahagia itu sederhana. Uang pun tidak bisa membelinya.  Namun lewat martabak yang dibeli pakai uang, bahagia bisa datang. Setidaknya lewat rasa manis yang menyatu  dalam mulut.  
Apalagi bila disantap bersama teman-teman. Martabak, kuliner yang sangat populer di Indonesia ini mem…