Langsung ke konten utama

Menikmati Wisata Sejarah, Kuliner, dan Belanja Cirebon dengan #BigBirdJalanJalan

Keraton Kasepuhan Cirebon, merupakan salah satu tujuan dalam #BigBirdJalanJalan (dokpri)

Cirebon memang menggoda untuk dikunjungi. Daerah yang dulunya lebih dikenal sebagai tempat transit kini semakin menarik sebagai tempat kunjungan wisata. Tidak cuma aneka kulinernya yang menjadi tujuan, melainkan wisata belanja maupun wisata sejarahnya pun begitu memikat.

Karenanya, sejak awal tahun 2017 saya dan teman-teman penggila kuliner yang juga senang jalan-jalan ke suatu daerah, sudah ramai merencanakan untuk pergi ke Cirebon. Namun ternyata tidak kunjung mencapai kesepakatan.

Alasannya ?  Tidak mendapatkan titik temu sarana transportasi yang mudah dan murah, untuk menjangkau berbagai tempat menarik dan lokasi jajanan yang bisa dikunjungi.

Banyak moda transportasi yang bisa digunakan untuk melakukan sejumlah perjalanan wisata. Salah satunya bus (dokpri)

Ada yang memberi usul untuk naik sarana kereta api saja dari Stasiun di Jakarta dengan tujuan Stasiun Cirebon. Ada juga yang menyarankan untuk naik bus saja sampai ke Cirebon, tapi harus dipastikan bus yang nyaman sehingga tidak membuat kaki bengkak karena perjalanan jauh.

Cirebon, Sebuah Keinginan Wisata

Itu baru sampai di daerah Cirebon, lalu  bagaimana untuk menjangkau beberapa tempat wisata dan kuliner di Cirebon? Apa iya, harus naik turun angkot. Menyewa kendaraan  alias carter mobil kemudian menjadi pertimbangan.

Begitupun halnya dengan kemungkinan untuk keliling Ciebon dengan kendaraan yang dipesan melalui aplikasi online. Kebetulan, sudah ada teman yang pernah melakukannya.

Sayangnya, kesepakatan moda transport yang cukup sulit itu membuat rencana jalan-jalan ke Cirebon tertunda cukup lama. Cari pilihan transportasi yang pas dan terjangkau untuk banyak orang seakan tidak mudah. 

Kawasan Batik Trusmi Cirebon adalah lokasi wisata yang jadi pilihan pelancong (dokpri)

Pucuk dicinta ulam tiba ketika komunitas Indonesia Lifestyle Digital Influence (ILDI)
membuka kesempatan untuk berwisata ke Cirebon bersama #BigBirdJalanJalan. Ini merupakan pengalaman saya menggunakan bus Big Bird dengan program perjalanan wisata. Sebelumnya, saya lebih banyak menggunakan taksi untuk keperluan berbagai kegiatan di Jakarta. 

Layanan bus Big Bird merupakan bagian dari Blue Bird Group, yang  merupakan salah satu perusahaan penyedia transportasi  darat terkemuka. Dengan adanya #BigBirdJalanJalan, siapa pun yang ingin melakukan perjalanan wisata ke beberapa daerah, mulai dari Jungleland, Bandung, Cirebon, hingga Yogyakarta.


Memilih transportasi darat yang bersih, nyaman , dan  aman merupakan syarat mutlak perjalanan wisata (dokpri)

Perjalanan dengan Bus

Senang? Sudah pasti karena akhirnya kesempatan jalan-jalan ke Cirebon terlaksana. Apalagi dengan #BigBirdJalanJalan ke Cirebon, mengunjungi beberapa lokasi sekaligus, yakni Nasi Jamblang, Masjid Agung Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon, Empal Gentong, dan Batik Trusmi. 

Semua lokasi tujuan sangat identik dengan ciri Cirebon, yang menawarkan wisata lengkap dari sejarah, kuliner, dan belanja yang sudah dikenal di nusantara. Selain tentunya, kuliner lain seperti tahu gejrot ataupun mengunjungi makam Sunan Gunung Jati, salah seorang Wali Songo. Cirebon juga merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam. 


Dua bus Big Bird ini digunakan untuk program wisata #BigBirdJalanJalan ke Cirebon (dokpri)

Sabtu 22 April,  pukul 6.00, lobi gedung Bluebird Group, Jl. Mampang Prapatan sudah ramai. Perjalanan jauh antar kota antar provinsi menggunakan dua buah bus Big Bird yang sudah siaga di depan kantor. 

Sebelum perjalanan dimulai, supir bus menyapa para penumpang. Kami pun berdoa agar perjalanan lancar sampai tujuan. Ini menguatkan rasa aman dalam perjalanan jauh. Bus dengan masing-masing dua kursi di kiri dan kanan terlihat bersih. 

Sebuah layar video yang mengalunkan lagu-lagu lembut maupun penyemangat diputar di sepanjang perjanan. Sejuknya AC menambah kenyamanan, sambil menikmati kotak berisi kue dan air mineral yang dibagikan kepada setiap penumpang #BigBirdJalanJalan. 


Penumpang banyak yang terlelap  di bus dalam perjalanan (dokpri)

Tak butuh lama untuk sejumlah penumpang jatuh tertidur dibuai alunan musik. Perjalanan menuju Cirebon pagi itu, memang agak macet. Bus pun singgah di Rest Area untuk membeikan kesempatan yang ingin ke toilet. Meski sempat tersendat, saya cukup menikmati perjalanan. Benar apa yang banyak orang katakan, jika dengan perjalanan darat lebih banyak hal yang bisa dilihat. 

Berbagai pemandangan menarik kota yang bisa dilihat dari kaca jendela merupakan hal yang menyenangkan. Tak hanya sekedar gemerlap sebuah kota, sosok kehidupan kota bisa tergambar dari yang terlihat di pinggiran jalan. 


Pemandangan sawah yang bisa dilihat dari kaca bus sepanjang perjalanan (dokpri)

Memasuki wilayah Cirebon di sepanjang jalan, saya melihat banyak sekali warung atau toko penjual Empal Gentong. Jajaran toko oleh-oleh sebagai kota wisata, hingga banyaknya para pengemudi becak kayuh yang sedang menunggu atau mengantarkan penumpang. Sebuah tulisan besar Kawasan Batik Trusmi terpampang. 

Batik pesisir Cirebon yang kaya warna memang sangat menaik dan menjadi pilihan bagi para penyuka batik.  Ini pula yang membuat saya selalu ingin ke Cirebon. Tidak sekedar tahu Batik Trusmi hanya dari yang dipajang di toko batik Jakarta.  


Para pengemudi becak kayuh di sepanjang jalan Cirebon (dokpri)

Nikmatnya Nasi Jamblang Ibu Nur

Setelah menempuh waktu beberapa jam, akhirnya bus tiba di lokasi wisata kuliner pertama. Sudah jam 12.00, sekaligus makan siang di Nasi Jamblang Ibu Nur. Tempat ini termasuk salah satu favorit untuk dikunjungi wisatawan saat di Cirebon.

Benar saja, saat saya dan teman-teman sampai, rumah makan Nasi Jamblang Ibu Nur sangat penuh. Di parkiran, berjajar banyak mobil. Di dalam rumah makan, lebih banyak lagi orang yang ingin mencicipi Nasi Jamblang.  


Nasi Jamblang Ibu Nur dipadati pengunjung (dokpri)

Puluhan orang rela mengantri untuk mendapatkan makan siangnya. Dua petugas rumah makan di sisi kiri dan sisi kanan sudah siap melayani antrian para pengunjung. Kalau orang dewasa mampir kesini saat lapar, sebaiknya mintalah dua  porsi nasi kepada petugasnya. Satu porsi nasi yang diletakkan di atas daun jati yang ada di piring, nggak akan cukup karena porsinya yang memang sedikit.

Untuk lauk, banyak yang menjadi pilihan. Aneka pepes,mulai dari pepes tahu, pepes jamur, hingga pepes ikan tersedia Aneka olahan telur, dari telur puyuh hingga telur ayam. Aneka jerohan, seperti hati dan paru. Olahan daging, aneka sate, dan udang pun ada. Juga olahan kedelai, seperti tempe dan tahu. 


Mintalah dua porsi nasi agar kenyang (dokpri)

Jangan lupa menambahkan sambal untuk menemani nasi Jamblang karena itulah yang menandakan kekhasannya. Tentu saja, selain penggunaan daun jati sebagai alas makanan yang disajikan.

Banyak menu makanan yang tinggal dipilih dan diambil sendiri oleh setiap pengunjung. Semua lauk itu diletakkan berderet-deret di atas meja. Di ujung meja, nantinya akan ada petugas rumah makan yang akan menghitung harga yang harus dibayar berdasarkan pilihan makanan yang diambil pengunjung. 


Menu makanan tinggal dipilih oleh pengunjung (dokpri)

Setelah itu mencari tempat duduk. Bukan yang mudah, lho! Semua bangku terisi penuh. Rumah makan tidak bergaya seperti restoran yang menyediakan pasangan meja dan kursi. Pengunjung yang sudah mendapatkan makanan dipersilahkan mencari sendiri tempat duduk. 

Begitu penuhnya, hingga petugas terpaksa mengeluarkan sejumlah kursi plastik untuk para pengunjung yang tidak mendapatkan tempat duduk. Siapa cepat, yang dapat lebih dulu. 


Rumah makan Nasi Jamblang Khas Cirebon Ibu Nur yang sangat ramai dan padat (dokpri)

Ah, akhirnya saya mendapatkan tempat duduk bersama teman-teman. Untuk soal minuman, tidak perlu khawatir, selain ada air mineral, tersedia juga teh hingga berbagai jus buah ataupun minuman ringan. 

Saya memilih menu makan pepes jamur dan telur puyuh, dengan minum berupa air mineral. Di dinding rumah makan terpampang foto sepasang laki-laki dan perempuan, yang agaknya pemilijk rumah makan Nasi Jamblang Ibu Nur. 


Menu nasi jamblang dengan lauk pilihan saya (dokpri)

Banyaknya pengunjung rumah makan yang terus datang dan semakin panjang juga mengantri, membuat tidak bisa lama-lama untuk duduk. Begitu nasi jamblang dengan lauk yang nikmat sudah tersuap habis, segera bangkit karena ada pengunjung lain yang siap menggantikan. 
Selain itu, udara yang panas karena penuh orang akan membuatmu segera menyudahi bila makan sudah selesai. 

Tak jauh dari rumah makan Nasi Jamblang Ibu Nur, saya tertarik dengan penjual manisan mangga dan emping gerobakan pinggir jalan yang ramai pembeli. Di sebelahnya, juga ada penjual kopi gerobakan dengan pilihan kopi ala sebuah cafe. Akhirnya, saya pun membeli untuk teman camilan dalam perjalanan sekaligus oleh-oleh.


Manisan mangga asli Cirebon, kuliner gerobakan rakyat (dokpri)

Shalat di Masjid Agung Cipta Rasa

Kenyang makan nasi jamblang, tujuan wisata selanjutnya adalah Keraton Kasepuhan Cirebon. Nah, ini termasuk bagian dalam wisata sejarah Cirebon. Namun sebelum ke Keraton Kasepuhan ini, saya dan teman-teman melaksanakan ibadah shalat di Masjid Agung Cipta Rasa, yang letaknya bersebelahan langsung dengan keraton..

Masjid yang juga dari zaman dulu kala ini, termasuk salah satu wisata sejarah juga. Siang itu, untuk pertama kalinya saya shalat di  Masjid Agung Kesultanan Cirebon yang dibangun pada tahun 1489.


Shalat di Masjid Agung Cipta Rasa sebagai syukur sampai ke Cirebon (dokpri)

Saat memasuki gapura masjid, tampak sejumlah santri berdiri di depannya menyambut. Saya terkesan dengan bangunan yang arsitekturnya mirip dengan Masjid Agung Demak.
Memiliki atap berbentuk limas, Masjid Agung Cipta Rasa yang dibangun tanpa menara ini begitu memikat.

Bangunan utamanya dari batu bata dan berwarna merah. Terasnya sangat luas dan juga digunakan untuk shalat oleh para jemaah, selain tentunya bangunan utama masjid. Tiang-tiang masjid yang diarsiteki Sunan Kalijaga terbuat dari kayu yang disambung-sambung dengan pasak. Orang masa kini menyebutnya dengan istilah Knock Down. Tanpa paku dan tinggal dirakit.


Tiang-tiang kayu Masjid Agung Cipta Rasa yang dibangun dengan sistem Knock Down (dokpri)

Saya shalat di dekat salah satu tiang masjid yang kurang panjang kayunya. Sejumlah pengunjung berdoa disitu. Ah, saya mengagumi adanya oranamen dan kaligrafi pada dinding. 

Masjid Agung Cipta Rasa memiliki keunikan karena memiliki tradisi Azan Pitu atau yang disebut adzan tujuh yang dilakukan setiap hari Jumat. Tujuh muadzin mengumandangkan adzan secara sekaligus. Sayangnya saya datang hari Sabtu, jadi tidak sempat mendengarkan keindahan lantunan adzan bareng itu. 


Salah satu pintu Masjid Agung Cipta Rasa (dokpri)


Bukan hanya bangunan Masjid Agung Cipta Rasa yang menarik, pagar batu bata yang mengitari masjid dengan pintu masuk yang bagus juga menimbulkan kekaguman. Tak urung, saya dan teman-teman mengabadikan kenangan di masjid ini.

Belajar Sejarah di Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan menjadi lokasi wisata sejarah wajib bagi siapa pun yang singgah di Cirebon. Di keraton yang letaknya dekat dengan Masjid Agung Cipta Rasa ini, setiap pengunjung masih dapat merasakan kemegahan Keraton yang didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana. 

Tentu saja, untuk masuk ke area Keraton Kasepuhan harus membayar tiket masuk sebesar Rp.2000 untuk umum dan Rp.10.000 untuk pelajar. Untuk wisatawan asing lebih tinggi, yakni Rp 70.000. 

Bagian pintu pagar Keraton Kasepuhan Cirebon (dokpri)

Seorang pemandu wisata berbaju daerah yang berasal dari Keraton Kasepuhan Cirebon siap menemani setiap rombongan yang berkunjung. Saat itu sambil berjalan kaki, mas Wawang yang menjadi pemandu berhenti di setiap bagian keraton untuk menjelaskan kisah sejarah keraton.

Semua bagian dari Keraton Kasepuhan memiki cerita dan nilai sejarah. Keraton Kasepuhan dulunya adalah perluasan dari Keraton Pakungwati, keraton tertua di Cirebon, yang sebutannya diambil dari nama Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana.

Pakungwati menikah dengan Sunan Gunung Jati, yang mengabadikannya sebagai nama Keraton, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon.  Tembok bata merah mengelilingi keraton ini. 


Wawang, Pemandu Wisata asal Keraton Kasepuhan sedang menjelaskan sejarah keraton (dokpri)

Konflik internal Kesultanan Cirebon pada tahun 1969, telah menyebabkan kesultanan terbelah dua, yakni Kesultanan Kasepuhan Cirebon dan Kesultanan Kanoman. Setiap Kesultanan memiliki gelar masing-masing.  

Siang itu, kami hanya mengunjungi Keraton Kesultanan kasepuhan Cirebon. Keraton ini pun ternyata sangat luas. Ada dua pendopo sebelum memasuki gerbang keraton, yaitu Pancaratna dan Pancaniti.


Komplek Siti Inggil Keraton Kasepuhan Cirebon (dokpri)

Sebuah gapura berupa pintu gerbang dari batu batas merupakan bagian dari komplek Siti Inggil, yang di dalamnya tedapat sejumlah bangunan yang awalannya Mande. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke gerbang kedua yang bernama Regol Pangada dan Gapura Lonceng. 

Setelah melewati sebuah gerbang yang memiliki dua pintu kayu, pengujung Keraton Kasepuhan melintasi taman Bunderan Dewandaru. Di tempat itu, terdapat dua macan putih yang merupakan lambang Pajajaran dan dua buah meriah yang diberi nama Ki Santomo dan Nyi Santoni.



Taman Bunderan Dewandaru dengan dua macan putih (dokpri)

Di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, banyak kisah sejarah yang bisa diambil dari tiap bangunan yang ada, yakni Museum Benda Kuno, Museum Kereta, Lunjuk, Tugu Manunggal, Sri Manganti dan bangunan Induk Keraton. 

Saya mengagumi kereta Poesaka Singa Barong yang megah. Kereta ini dibuat pada tahun 1954 oleh Panembahan Pakungwati I. Bentuknya yang unik merupakan perwujudan dari tiga bentuk binatang, yakni Gajah, Kepala Naga, dan Buroq.


Kereta Pusaka Singa Barong (dokpri)

Saat datang, bangunan Induk Keraton dalam keadaan tertutup dan tidak memperkenankan pengunjung untuk masuk ke dalam. Melalui pintu yang sebagian kaca, pengunjung hanya dapat mengintip bagian dalam induk keraton. 

Kunjungan terakhir di Keraton Kasepuhan adalah menyegarkan diri dengan air yang berada di Sumur Agung. Menurut petugasnya, sumur yang dibangun sejak keraton didirikan, tidak pernah mengering airnya. Banyak yang percaya, air dari sumur itu akan membuat wajah lebih bersinar. 


Mengintip isi dari bagian Induk Keraton Kasepuhan yang terkunci rapat (dokpri)

Lezatnya Empal Gentong dan Sate Kambing Muda

Berkeliling Keraton Kasepuhan yang luas sebagai bagian wisata sejarah, membuat perut kembali lapar. Menutup sore, mampir dulu ke rumah makan Empal Gentong H Apud. Inilah wisata kuliner kedua, yang merupakan makanan khas Cirebon.

Di depan rumah makan itu, selain Empal Gentong, tersedia juga Nasi Lengkong, Sate Kambing Muda, dan Tahu Gejrot yang dimasak di gerobakan langsung. Pengunjung rumah makan tinggal memesan dan memilih duduk di tempat yang luas, dan tersedia juga untuk yang merokok. 


Makan Empal Gentong khas Cirebon dan Sate daging kambing muda yang lezat (dokpri)

Pilihan sore itu jatuh pada Empal Gentong dan sate daging kambing muda. Empal gentong yang saya santap sore itu, disajikan dengan sepiring nasi. Bisa juga dengan lontong bila suka. Kuah makanan Empal Gentong berwarna kuning. Rasanya mirip dengan gulai, tapi tetap berbeda. 

Empal yang terdiri atas usus, babat, limpa,  dan daging sapi yang diberi kuah santan kuning ini dimasak di dalam gentong. Semakin lengkap cita rasanya ditambah dengan kecap dan sambal. Plus kriuk gigitan kerupuk setiap sendokan nasi dan empal.

Semangkuk Empal Gentong yang lezat (dokpri)


Empal Gentong cocok banget dimakan dengan nasi, terutama saat lapar (dokpri)


Makan pun tambah berselera dengan tambahan sate daging kambing muda. Potongan daging  kambing dalam setiap tusukan sate sangat empuk. Mudah dikunyah dalam mulut. memberikan  cita rasa yang lezat campuran gurihnya daging dengan manisnya bumbu kecap yang membalut seluruh sate. 

Bila penyuka pedas, bolehlah ditambah dengan memberi sambal. Pas juga bila ingin dimakan dengan lontong ataupun nasi. Sate semakin mantap rasanya bila dibubuhi air perasan jeruk limo.


Lezatnya sate daging kambing muda (dokpri)

Wisata Belanja Oleh-Oleh dan Batik Trusmi

Usai menuntaskan dua wisata kuliner khas Cirebon, yakni Nasi Jamblang dan Empal Gentong, tidak lengkap rasanya bila tidak sekaligus berbelanja. Banyak toko di sepanjang jalan menyajikan wisata belanja oleh-oleh, baik berupa makanan ataupun pakaian. 

Sore itu rombongan bus mampir di toko oleh-oleh Daud. Banyak sekali, jajanan khas Cirebon yang ada di toko yang luas ini. Ada kerupuk melarat yang digoreng dengan menggunakan pasir, kerupuk kulit,  terasi khas Cirebon, sirup Tjampolay tiga rasa dalam bentuk botolan, dan ikan asin. Selain itu, masih ada aneka jajanan yang dapat dijadikan oleh-oleh. 

Belanja aneka oleh-oleh khas Cirebon (dokpri)

Setelah wisata belanja oleh-oleh kuliner, sebelum kembali ke Jakarta menyempatkan untuk singgah ke Pusat Grosir Batik Trusmi. Gedungnya sangat luas dan menawarkan batik dalam berbagai bentuk, mulai dari baju, kemeja, rok, celana pendek, ataupun celana panjang. Batik dalam bentuk bahan pun tersedia jika ingin menjahit baju yang sesuai dengan ukuran.

Batik Mega Mendung yang merupakan khas Cirebon menjadi incaran sebagai oleh-oleh pernah berkunjung ke Cirebon. Soalnya, setiap daerah memiliki ciri khas batik sendiri, bukan? Berkeliling di tempat ini cukup lelah, tapi terhibur dengan adanya tawaran diskon. 

Aneka pilihan kemeja Batik Trusmi (dokpri)
Haha, saya pun akhirnya sukses membeli tiga celana yang sedang diskon. Sebenarnya sih, saya ingin memborong semuanya. Banyak baju, kain, dan rok Batik Trusmi yang cantik-cantik yang ingin sekali dibeli bila dana mencukupi. 

Saya kagum melihat ribuan batik yang tinggal dipilih. Ini sebuah kekayaan khas daerah sekaligus Indonesia, yang mendunia. Di tempat ini, lantai bangunan pun bercorak batik. 

Pilah pilihlah aneka batik warna warni khas Cirebon (dokpri)

Wisata belanja ke Batik Trusmi merupakan kegiatan terakhir dari #BigBirdJalanJalan ke Cirebon. Dalam satu langkah perjalanan, beberapa wisata dapat dilakukan sekaligus, mulai dari wisata sejarah, wisata kuliner, hingga wisata belanja. 

Program wisata dengan menggunakan bis dari Jakarta pulang balik ternyata menyenangkan. Saya jadi ingin menjajal program di daerah laiinya, misalnya saja Yogyakarta atau Bandung. Kenapa? karena saya nggak perlu bingung dan ribet mencari kendaraan lokal atau carteran saat sudah tiba di suatu lokasi wisata.



Komentar

  1. Udah lama ga ke Cirebon kangen empal gentong aku si mba hahaa enak pisan

    BalasHapus
  2. Hahah, empal gentong Cirebon memang enak mbak. Besok-besok jadi ingin ke Cirebob lagi...

    BalasHapus
  3. Membaca tulisanmu rasanya aku ikut dalam perjalanan ini mbak. Kompliiit. Tfs ya mbak, ntar kalo ke Cirebon udah ga kagok lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat, mbak Merida. Terima kasih sudah membaca

      Hapus
  4. Ramai banget ya nasi jamblang bu Nur. Btw batik Trusmi cakep-cakep ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bu Nur. Ramai banget. Pembeli harus rela antri buat milih menu, bayar, sampai dapat tempat duduk. Bukan Trusmi, batik khas Cirebon, memang keren banget!

      Hapus
  5. huwaaa empal gentong
    jadi pengen ke ciebon lagi....
    lama tak ke sana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk ke Cirebon, bisa makan Empal Gentong yang enak :)

      Hapus
  6. Kendaraan yg nyaman bikin penumpang betah dan nggak bete ya mbak, Blue Bird emang jaminan mutu ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak Prima. Untuk perjalanan jauh, perlu kendaraan yang aman, nyaman, dan bersih. Jadi tenang selama perjalanan.

      Hapus
  7. huhuhuhu...saya syediiih ga bisa ikut bergabung
    klo cirebon inget bgt stasiun paling lama berhenti klo keretaan ��

    BalasHapus
  8. Yups, Stasiun Cirebon memang tempat transit yang cukup lama. Tahunya, Cirebon keren juga sebagai tempat wisata.

    BalasHapus
  9. gilaa, cape banget pasti ya win! ckckckck..

    tapi meski cape, kalo bisnya adem, kursinya empuk dan nyaman begini sih dijamin ga berasa capenya ya.. huuuuu, jadi sirik gw pengen naek bigbird juga hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak capek sih, mbak woro. Kalau senang jalan-jalan, pasti lupa capek :).

      Hapus
  10. Ngileer bingits itu lihat nasi jamblang, empal gentong dan sate. Cirebon memang salah satu kota yg kudu didatengin. Kota kecil tp mempesona. Ke Cirebon lagi yuks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuks ke Cirebon mbak Dewi. Banyak lokasi yang belum didatangi, kok :)

      Hapus
  11. Jalan Jalan naik busway Emang Harus milih yg nyaman, supir professional (Tahu Jalan, Jalan alternative, gak ugal ugalan Dan Tahu tempat makan yg enak).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, pejalanan jauh ke luar kota dan provinsi, perlu menggunakan kendaraan yang nyaman, aman, dan bersih.

      Hapus
  12. Seruuuuu aku pengin balik lagi ke sana loh Mba jalan2 maning hehehe

    BalasHapus
  13. Yuk, jalan-jalan maning ke Cirebon. Eksplorasi berbagai tempat yang masih banyak belum dikunjungi

    BalasHapus
  14. Support ubah jakarta menjadi lebih baik....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, iya, support semua wisata yang bisa dinikmati warga Jakarta

      Hapus
  15. Wah asyiknya jalan2 ke Cirebon pakai bus big bird :) Makan nasi jamblang Bu Nur, dll muter2in Cirebon. Ternyata seru ya naik bus? Batik Trusminya cantik2, ngeborong kah mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk jalan-jalan. Enak sudah sampai tempatnya langsung. Hmm, lumayan, ada yang dibeli dari Batik Trusmi, hehehe...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…

Menyantap Martabak yang Bikin Bahagia di Martabak Factory

Potongan martabak itu langsung lumat di dalam mulut. Manisnya langsung menguasai dan larut. Seulas senyum kemudian muncul di wajah Melinda, perempuan manis berkerudung itu. Masih ada sisa martabak di piring yang sedang dipegang. Seakan tak ingin berhenti untuk segera menghabiskannya.
“Martabaknya Enak. Green tea-nya terasa,” ujarnya.
Saya pun mengangguk-angguk. Sepotong green tea martabak dari piring yang sama, juga baru saja masuk ke dalam mulut saya. Kami pun tertawa. Sesimpel itu tawa terlepas di Martabak Factory.


Saya jadi ingat tulisan besar berlatar warna ungu yang ada di dinding lantai dasar kafe. Money can’t buy happines, but it can buy Martabak which is pretty much the same thing.
Betul juga, pikir saya. Bahagia itu sederhana. Uang pun tidak bisa membelinya.  Namun lewat martabak yang dibeli pakai uang, bahagia bisa datang. Setidaknya lewat rasa manis yang menyatu  dalam mulut.  
Apalagi bila disantap bersama teman-teman. Martabak, kuliner yang sangat populer di Indonesia ini mem…