Langsung ke konten utama

Gundala, Jagoan Lokal yang Siap Mengguncang Sinema Indonesia



Gundala, film yang diangkat dari novel berjudul Gundala karya Hasmi didiskusikan di Gramedia Writers Readers Festival 2019 di Perpustakaan Nasional, Sabtu 3Agustus 2019 (dok. windhu)


Penasaran, bahagia, dan rasa ingin tahu. Semua itu muncul tatkala Gundala, jagoan lokal 

yang berasal dari komik top karya Hasmi untuk pertama kalinya bakal ditayangkan di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai Kamis, 29 Agustus 2019. Ini akan menghapus kerinduan lama diangkatnya kisah komik lokal ke layar lebar.

Adalah Jagat Sinema Bumilangit alias Bumilangit Cinematic Universe, yang memiliki properti intelektual yang siap menggetarkan layar lebar Indonesia melalui tokoh-tokoh superhero alias jagoan yang berasal dari komik lokal Indonesia.


Gundala akan mengawali karakter Jagat Bumi Langit (dok.windhu)

 
Sebelum sempat mengalami masa suram dan mati suri dunia komik akibat gempuran komik gempa, belum ada lagi komik yang diangkat ke layar lebar. Padahal komik Indonesia sangat kaya dan pernah sangat terkenal, terutama di era tahun 1960-an dan tahun 1970-an.

Nama komikusnya pun dikenal hingga kini, mulai dari Harya Suryaminata (Hasmi), Ryan Mintaraga, Ganes TH, RA Kosasih. Maka sejak tweet Joko Anwar selaku sutradara pada April 2018 akan memboyong Gundala Putra Petir ke layar lebar, hal ini seakan menjadi kejutan sekaligus kado yang ditunggu oleh para penonton bioskop Indonesia.


Abimana Aryasatya pemeran Gundala dan beberapa pemeran lainnya di film Gundala (dok.windhu)


Auditorium Perpustakaan nasional penuh disesaki penonton terkait Movie Review Gundala. Sejumlah pemeran Gundala hadir menyapa, antara lain Abimana Aryasatya (Gundala/Sancaka).  Gundala diproduksi oleh Screenplay Films, Bumilangit Studios, dan Legacy Pictures

Secara keseluruhan, flm Gundala, melibatkan 1800 pemain yang di antaranya adalah Ario Bayu (Ghani Zulham), Rio Dewanto (Bapak Sancaka), Aqi Singgih (Ganda Hamdan) dan Lukman Sardi (Ridwan Bahri).

Gundala berasal dari komik klasik karya Hasmi pada tahun 1968 (dok.windhu)


Gundala  hadir sebagai Patriot Pertama yang membuka jalan bagi Jagat Sinema Bumilangit. Antusiasme terlihat begitu tinggi lantaran generasi saat ini lebih lekat dengan tontonan superhero impor, seperti  Ironman, Captain America, Thor, Hulk,  X-Men, Spiderman.  

Kenapa harus Gundala? Gundala diyakini bisa mengawali munculnya karakter-karakter selanjutnya. Akan ada jagoan lokal selanjutnya, seperti  Sri Asih, Godam, dan Mandala. Gundala menjadi sangat istimewa karena tahun 2019 ini merupakan peringatan 50 tahun karakter karya Hasmi itu.


Perjalanan Film Gundala untuk ditayangkan (dok.windhu)


Kisah Gundala terinspirasi dari Ki Ageng Selo, sosok legenda di Jawa. Nama Gundala berasal dari kata Gundolo, yang memiliki arti petir. Gundala semula adalah Sancaka, seorang peneliti yang kemudian terserang petir dan akhirnya memiliki kekuatan menyalurkan petir melalui telapak tangannya.

Imansyah Lubis dari Bumilangit Entertainment mengatakan, selain mengangkat Gundala Putra Petir ke layar lebar, juga dikeluarkan komik komik Gundala Son of Lightning yang dapat diakses di Line dan Webtoon.

Film Gundala mulai tayang tanggal 29 Agustus 2019 (dok.windhu)


Adaptasi dari komik ke layar lebar lantas ke komik lagi, merupakan strategi untuk menyesuaikan pasar  yang ditargetkan akan menarik hati para generasi muda. Selain itu, komik Gundala Official Adaptation bergaya US comics yang ditulis Goklas Sujiwo dengan Ardiansah sebagai ilustrator yang pernah memegang komik Marvel X-Men Gold.

Lalu bagaimana dengan para pemeran Gundala? Abimana Aryasatya selaku Gundala mengakui perlunya stamina untuk melakoni adegan. Apalagi, dalam adegan pertarungan yang melibatkan banyak orang.

Lantaran itu semua, maka para pemeran dalam film Gundala kompak menyatakan lebih memilih untuk tutup mata dan mendengarkan dengan fokus dan disiplin arahan-arahan yang disampaikan sutradara Joko Anwar. Trailer film Gundala Putra Petir senditi telah dirilis melalui kanal YouTube Screenplay films sejak 20 Juli 2019.  

Pegiat literasi Maman Suherman dan Firman Venayaksa di GWRF 2019 (dok.windhu)
Pegiat literasi Maman Suherman dan Firman Venayaksa di GWRF 2019 (dok.windhu)


Menghidupkan karya literasi Melalui Komunitas

Nah bila literasi cerita bergambar semakin terbuka dengan diadaptasi menjadi layar lebar,  menghidupkan karya pun bisa melalui komunitas literasi. Maman Suherman, pegiat literasi terkenal mengatakan, menghidupkan karya sastra dapat melalui taman baca-taman baca.

Gerakan literasi tetap bisa berjalan dengan baik kendati jumlah buku yang dimiliki sebuah taman bacaan hanya sedikit. Misalnya hanya ada 10 judul buku. Namun, jika ada 100 taman baca yang bisa melakukan perputaran buku secara berjejaring, maka buku bacaan yang bisa dibaca sebuah taman baca sangat banyak.  

Menghidupkan karya literasi bisa melalui komunitas (dok.windhu)


Selain itu, untuk menghidupkan literasi maka bisa dilakukan upaya seperti musikaliasi puisi. Upaya literasi akan terus dilakukan agar tak lagi terdengar sentilan jika perpustakaan adalah tempat yang sepi selain kamar mayat dan kuburan. Meski demikan, Maman menggarisbawahi untuk menyediakan topik buku yang tepat untuk para pembaca taman bacaan.

Firman Venayaksa dari Rumah Dunia mengatakan,  upaya menghidupkan literasi telah dilakukan oleh Rumah Dunia. Untuk menghidupkan taman bacaan masyarakat, Rumah Dunia tidaklah dengan mengajukan proposal kesana kemari, melainkan mengajarkan kemandirian dengan menghasilkan karya.

Tiga penulis muda, yakni Bayu Permana, Achi, dan Alnira (dok.windhu)


Dari karya itulah yang kemudian bisa dijual dan menjadi sumber dana keberadaan TBM. Istilahnya, tidak perlu untuk menunggu-nunggu datangnya  bantuan dari pemerintah ataupun sokongan pihak swasta.

Impress Millenials with Your Story

Ragam buku bisa dihadirkan di sebuah taman bacaan. Tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi  TBM yang ada. Berbicara mengenai  banyaknya genre buku saat ini, kehadiran sebuah bacaan yang  cocok dan diterima oleh pembaca terutama generasi milenial akan menjadi catatan sendiri.

Tiga penulis muda, yakni  Alnira, Asri Aci, dan Bayu Permana punya strategi untuk bisa menarik minat generasi milenial melalui karya tulisan yang dihadirkan. Ketiganya mengaku menulis karena hobi.
Dalam kesempatan diskusi di GWRF 2019, baik Alnira maupun Aci mengakui awa mulai menulis adalah saat membaca buku dari karya penulis lain Merasa kurang sreg, menganggap ada yang kurang, dan menilai ada yang perlu ditambahkan, hal itulah yang menggugah untuk ikut menulis sebuah buku.

Penggemar meminta tanda tangan buku ke penulis muda Bayu Permana (dok.windhu)


Istilahnya, mengisi celah dari karya yang dibaca sebelumnya. Tidak perlu ribut untuk mengoreksi atau mengkritik karya orang lain, melainkan buktikan dan hadirkan melalui karya nyata yang bisa mengimpresi para generasi milenial.

Dalam pembuatan karya yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah buku, percaya diri sangat dibutuhkan oleh penulis. Tidak perlu merasa terluka ketika ada yang melontarkan kritikan ke karya yang telah dibuat. Kunci paling penting adalah mencintai karya sendiri yang telah dihasilkan.





Komentar

  1. Gak sabar mau nonton, kalau liat trailernya tuh seru banget filmnya. Apalagi kalau nonton langsung nih.

    BalasHapus
  2. Gak sabar mau nonton, kalau liat trailernya tuh seru banget filmnya. Apalagi kalau nonton langsung nih.

    BalasHapus
  3. Ini salah satu film yang aku tunggu-tunggu. Gundala. Kalau lihat trailernya di youtube keren dan seru. Berarti Kamis minggu ini ya rilis di bioskop bioskop Indonesia. Nonton ah...

    BalasHapus
  4. Aku nunggu2 anget nih tayang besok. Siap berburu tiket 😎😎

    BalasHapus
  5. Aki nunggu Gundala tayang nih..mau ajakin anak-anak biar kenal tokoh komik yang pernah jadi idola di jaman muda emaknya.. Biar merela tahu jagoan lokal dan enggak hanya superhero impor saja.

    BalasHapus
  6. Yeayy akhirnya ada superhero movie made in Indonesia... Layak diapresiasi. Memang betul tuh, anak² zaman now lebih familiar sm Ant Man, Iron Man daripada Gatot Kaca, Gundala, dll. Tfs yaa

    BalasHapus
  7. Akhirnya bakal keluar super hero asli Indonesia. Semoga fpembuatan filmnya berjalan lancar.

    BalasHapus
  8. Sudah di wanti-wanti ama anak ku kalo harus nonton film Gundala ini, liat dari trailer nya aja dah seru apalagi liat keseluruhan film ini, rekomemded deh

    BalasHapus
  9. Akhirnya yaaaa muncul filmnya. AKu besar dengan sering mendengar tokoh animasi "Gundala Putra Petir" tapi zaman kecil aku gak terlalu baca itu apaan, pokoknya tau dia tokoh pahlawan2an gtu asli Indonesia. Besok ya mulai tayangnya? Moga sukses filmnya.

    BalasHapus
  10. Tadi sudah mau nonton ini. Eh ada tugas mendadak jadi lembur di kantor. Lihat reviunya bagus katanya

    BalasHapus
  11. Kalau inget Gundala selalu terbesit si putra petir ya itu. Gak sabar pengen nonton ngajak suami . Liat trailer nya di tv nikin penasaran

    BalasHapus
  12. Wah sudah tayang ya? Aku tunggu2 nih saat liat trailernya aja udah seru banget, penasaran sama superheronya Indonesia.

    BalasHapus
  13. Gak sabar pengen nonton Gundala. Akhirnya Indonesia ngangkat film lokal bertema super hero. Dan ga sabar juga lihat series lainnya. Berasaa nunggu nunggu film Marvel deh hehehe

    BalasHapus
  14. rasanya cocok de pemeran gundala itu si mas abimana hehehehe
    moga-moga bisa nonton, dan pak su mau diajakin nonton

    BalasHapus
  15. Jadi itu ada 3 workshop di PerPusNas yang iikuti ya mbak?

    Aku pikir mbak Windhu udah nonton Gundala duluan nih. Soalnya aku baru mau nobar besok*

    BalasHapus
  16. Saya salah satu yang penasaran banget dengan film Gundala ini, apalagi pas baca superhero berikutnya yang ngantri muncul, Ada Nicholas Saputra sebagai Aquaman hihihi makin semangat deh xD

    Hari ini ya berarti, 29 Agustus, semoga filmnya bisa sukses dan diterima masyarakat dengan baik

    BalasHapus
  17. Cocok nih ditonton sama seluruh anggota keluarga mumpung weekend otw nonton ah

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan memberikan komentar positif demi kemajuan dan kenyamanan pembaca.

Postingan populer dari blog ini

D’Flora, Lipstik Untuk Bibir Hitam dengan Pilihan Warna Bagi Perempuan Aktif

Awalnya saya tidak begitu memperhatikan mengenai masalah bibir hitam. Semua itu baru saya sadari saat Arni, salah seorang kakak perempuansayamengeluhkan warna bibirnya. Jika warna lipstiknya sudah memudar, warna bibir aslinya langsung terlihat. Kakak merasa perlu lipstik untuk bibir hitam yang tepat digunakan sehari-hari. 
“Pernah merokok, kali,” ucap saya asal sambil bercanda. Ups, jelas kakak saya tidak terima.Kakak tidak pernah menyentuh ataupun mencoba-coba rokok. Bahkan mencium bau asap rokok di suatu tempat keramaian umum,kakak sudah tidak suka.
Mungkin saya cukup beruntung karena warna bibir saya tidaklah segelap bibir kakak. Saya tahu usaha kakak untuk membuat warna bibirnya lebih merah dan menarik. Sesekali saya juga mengikutinya.
Buat perempuan, memiliki warna bibir hitam, bibir gelap, ataupun kusam dan kering tidak jarang mengganggu penampilan sehari-hari. Ujung-ujungnya, penampilan yang tidak oke ini juga akan mengurangi rasa percaya diri saat sedang berkumpul dengan banyak o…

Minggu Pagi di Aksi #TolakPenyalahgunaanObat Car Free Day

MATA saya menatap kemasan kotak bertuliskan Dextromethorphan yang ada di meja BPOM. Di atas meja itu terdapat sejumlah obat-obatan lain bertuliskan warning, yang berarti peringatan. Ingin tahu saya memegangnya. Membaca kotak luar kemasan obat itu.
 “Ini obat apa?” tanya saya.
Adi, petugas BPOM itu memperlihatkan isi kotak kemasan. Menurutnya, obat Dextromethorpan sudah ditarik dari pasaran. Sudah tidak digunakan lagi karena dapat disalahgunakan oleh pemakainya.
Dextromethorpan yang di kotak kemasannya tertera generik dan terdiri dari 10 blister ini masuk dalam kategori daftar G. Banyak yang menyalahgunakannya untuk mendapatkan efek melayang (fly).

Fly? Pikiran saya langsung teringat kepada peristiwa penyalahgunaan obat yang menghebohkan negeri ini satu bulan lalu di Kendari, Sulawesi Tenggara. Korbannya yang anak-anak masih pelajar dan mahasiswa ini.
Pertengahan September 2017, semua terkaget-kaget dengan kabar yang langsung menjadi topik pembicaraan dimana-mana. Meluas dari satu grup wa k…

Go-Box, Solusi Pindahan Nggak Pakai Repot

SENYUM mengembang dari wajah Ani, saat sudah pasti akan segera pindah rumah. Maklum, menjadi kontraktor alias orang yang mengontrak selama ini cukup melelahkan. Mimpi tinggal secara tenang di rumah milik sendiri menjadi kenyataan. Di rumah baru, segala sesuatunya pasti lebih tenang. Apalagi setelah menikah 5 tahun.
Memang, bukanlah rumah besar. Punya dua kamar tidur, dengan ruang tamu, ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Sedikit halaman kecil buat menanam tumbuhan ataupun bunga. Sudah pasti membahagiakan.  
Lokasi rumah baru di wilayah Gunung Putri, Bogor. Selama ini, tinggal di Pluit, pada lokasi cukup padat dan nyaris tidak memiliki halaman. Ah, betapa menyenangkan, pikir Ani.
Segera, semua barang yang ada di rumah pun dikemas. Packing ini dan itu. Tidak ada yang boleh tertinggal karena sebenarnya tidak banyak juga barang yang dibeli. Pertimbangannya saat itu, khawatir repot jika akan pindahan ke suatu tempat. Jadi yang penting-penting saja dan betul-betul bisa menunjang hidup sehari…