Langsung ke konten utama

GENGGAMAN TANGAN

Jari jemari dalam genggaman dan jari jemari terbuka (gambar:ciricara.com)


"LIHATLAH telapak tanganmu. Banyak garis disana. Ada garis rezeki, garis sehat, dan garis lainnya yang juga memiliki arti tersendiri. Sekarang tutuplah telapak tangan dengan bentuk menggenggam. Coba lihatlah," pinta perempuan itu.

Saya pun memperhatikan tangan saya yang berada dalam posisi menggenggam. Tidak seluruh tangan tertutup dalam genggaman.

Saya menatap perempuan itu.

"Apa artinya? Lakukan apa yang harus dan bisa dilakukan. Tugas kita adalah bertindak dan menjaga apa yang sudah ada di genggaman tangan. Sesuai dengan garis-garis tangan yang ada.Pasti selalu ada jalan," papar perempuan itu lagi.

Lalu bagaimana dengan garis tangan yang tidak tertutup dalam genggaman?

Perempuan itu tersenyum. "Itu untuk mengingatkan kita setelah melakukan yang seharusnya dalam genggaman. Kita harus mengakui ada kendali di luar manusia. Ada Tuhan. Lakukan saja bagian kita, sisanya serahkan pada Tuhan dengan keikhlasan."

Saya pun tertegun sambil memandangi genggaman tangan saya, seraya masih terngiang perkataan dari  perempuan itu.

"Selalu lakukan yang terbaik. Semua nya ada padamu mau atau tidaknya untuk menjadi TERBAIK."


#renunganjumat
#windhupunyacerita

Komentar

  1. Yup.. bener.. setuju.. lakukan saja bagian kita, selebihnya serahkan pada Tuhan. Yg penting usaha dulu ya :)

    Http://lovelyristin.com

    Http//lovelyristin.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mengagumi Indonesia Melalui Pameran Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan RI Senandung Ibu Pertiwi

Wow ! Sebuah lukisan Perkawinan Adat Rusia yang tampak megah dan berukuran sangat besar langsung memikat mata, saat langkah kaki baru memasuki gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta, untuk melihat pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan berjudul Senandung Ibu Pertiwi, Minggu 27 Agustus 2017.
Meski bukanlah karya asli pelukis Rusia Konstantin Yegorovich Makovsky yang dibuat tahun 1881 dan hanya ditampilkan melalui LED, dalam pameran yang diselenggarakan untuk umum 2-30 Agustus 2017, lukisan itu seakan menyapa saya dan setiap pengunjung yang baru datang. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk ruangan paling depan galeri nasional.
Karya asli abad ke-19 dengan ukuran 295 cm x  450 cm yang ditaksir bernilai sekitar Rp.18 Miliar itu sudah sangat tua, sehingga tak bisa dipindahkan dari Istana Bogor.



Untunglah, saya bisa datang tidak kesorean. Jelang siang, pengunjung Galeri Nasional semakin banyak. Saya memandang cap bertuliskan Senandung Ibu Perti…

Menyantap Martabak yang Bikin Bahagia di Martabak Factory

Potongan martabak itu langsung lumat di dalam mulut. Manisnya langsung menguasai dan larut. Seulas senyum kemudian muncul di wajah Melinda, perempuan manis berkerudung itu. Masih ada sisa martabak di piring yang sedang dipegang. Seakan tak ingin berhenti untuk segera menghabiskannya.
“Martabaknya Enak. Green tea-nya terasa,” ujarnya.
Saya pun mengangguk-angguk. Sepotong green tea martabak dari piring yang sama, juga baru saja masuk ke dalam mulut saya. Kami pun tertawa. Sesimpel itu tawa terlepas di Martabak Factory.


Saya jadi ingat tulisan besar berlatar warna ungu yang ada di dinding lantai dasar kafe. Money can’t buy happines, but it can buy Martabak which is pretty much the same thing.
Betul juga, pikir saya. Bahagia itu sederhana. Uang pun tidak bisa membelinya.  Namun lewat martabak yang dibeli pakai uang, bahagia bisa datang. Setidaknya lewat rasa manis yang menyatu  dalam mulut.  
Apalagi bila disantap bersama teman-teman. Martabak, kuliner yang sangat populer di Indonesia ini mem…