Langsung ke konten utama

Turnamen eSports Bergengsi Asia Pasific Predator League 2019 Digelar, Ikuti Kesemarakannya!

Asia Pacific Predator League 2019 diikuti  sebanyak 14 negara. Penyisihan sudah mulai di masing-masing negara dmulai November 2018.  Kompetisi final akan digelar di Bangkok, Thailand  pada Februari tahun 2019. (dok.windhu)
Asia Pacific Predator League 2019 diikuti  sebanyak 14 negara. Penyisihan sudah mulai di masing-masing negara dmulai November 2018.  Kompetisi final akan digelar di Bangkok, Thailand  pada Februari tahun 2019. (dok.windhu)



Sorak sorai gemuruh dari barisan penonton terdengar. Suara dari dua balon tepuk yang dipertemukan secara bersamaan, membuat suasana gegap gempita. Suara dua caster alias komentator saling menimpali. 

Kesemarakan itu hadir pada pertandingan pertama tim Indonesia untuk qualifier Dota 2, antara PG Barracx dan The Prime, dalam turnamen Asia Pacific Predator League 2019, di auditorium Graha Niaga Thamrin, Selasa 30 Oktober 2018. 


Kemeriahan Kick Off Match Team antara PG Baracx dan ThePrime (foto:Acer)


Tahun 2019 merupakan penyelenggaraan APAC Predator League untuk yang kedua kalinya. Makin spektakuler dari jumlah peserta berbagai negara dan total hadiah.  Tahun lalu, Indonesia sukses sebagai tuan rumah APAC Predator League yang pertama.

Pada Asia Pacific Predator League 2019 ini, sebanyak 14 negara mengikutsertakan seluruh bakat-bakat eSports terbaiknya untuk berpartisipasi dan berlaga. Dua kategori game populer yang dipertandingkan, yaitu DOTA 2 (Defense of The Ancients 2) & Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG).


Kick-off Match Pro Team antara PG Barracx dan The Prime yang dimenangkan oleh PG Barracx.
Kick-off Match Pro Team antara PG Barracx dan The Prime yang dimenangkan oleh PG Barracx.


Asia Pacific Predator League 2019 merupakan turnamen game kelas dunia terbesar di Asia Pasifik. Ke-14 negara yang terlibat, yaitu Australia, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Vietnam, Thailand, Hong Kong, China, Jepang, Korea dan Taiwan.

Untuk tahun ini , hadiah yang diperebutkan lebih besar dari tahun sebelumnya. Totalnya tak main-main, yakni  sebesar USD 400.000 atau sekitar Rp 6 Miliar. Jumlah yang cukup menggiurkan untuk diraih dari sebuah pertandingan esports.


Melondoto memaparkan sistem  permainan kualifikasi menuju kualifikas utama (dok.windhu) 


Pada tahap eliminasi Asia Pacific Predator League 2019, nantinya akan digelar di masing-masing negara.  Thailand pada tahun ini, terpilih menjadi tuan rumah dan akan menyelenggarakan  babak final Predator League 2019 di Bangkok pada Februari 2019 mendatang.

Sebagai informasi, pada Januari 2018 lalu, Acer berhasil menyelenggarakan Grand Final Asia Pacific Predator League 2018 untuk pertama kalinya di Jakarta, Indonesia.
Tahun 2018, sebanyak 1.197 tim berpartisipasi, yang kemudian  menjadi 8 tim dari 8 negara berkompetisi di babak grand final untuk memperebutkan title tim DOTA 2 terbaik. 


Dua caster yang Brand Ambassador Predator Warrior Acer, yakni Dimas Dejet dan Melondoto memeriahkan jalannya Kick Off  Match Pro PG Baracx dan The Prime (dok.windhu)  


Euforia dan kesuksesan penyelenggaraan #APACPredatorLeague tahun 2018, telah  dibuktikan dengan popularitas No. 1 di Instagram pada pertandingan final yang berlangsung di Indonesia.

Kualifikasi di Indonesia
Bagaimana tahap kualifikasi menuju main event  ASPAC  Predator League 2019 di Indonesia? Ada tahap kualifikasi penyisihan untuk peserta yang akan berlangsung sekitar tiga bulan sejak November  2018. 

Mereka akan bertanding sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan  di 16 warnet game iCafe yang tersebar di 14 kota di Indonesia. Selanjutnya, akan dipilih tim yang akan mewakili Indonesia.  

Herbet  Ang (Presiden Direktur Indonesia) dan Yohan Wijaya (Acer Consumer Lead, Intel Asia Pasific, Japan) (foto:Acer)  


Herbet  Ang, Presiden Direktur Acer Indonesia mengatakan, digelarnya kembali Asia Pacific Predator League untuk kedua kalinya adalah bukti konsistensi dalam memajukan industri gaming. Selain tentunya juga mendukung perkembangan gamers melalui platform yang mempertemukan talenta-talenta terbaik di kawasan Asia Pasifik.

“Melalui turnamen semacam ini, kami percaya mampu menggugah minat para remaja untuk serius menekuni hobi eSports mereka,” ujar Herbet Ang, Presiden Direktur Acer Indonesia.


Dua caster Dimas Dejet dan Melondoto, serta dua Predator Warrior cantik  Jeanice Ang dan Edelyn (dok.windhu)


Baik Herbet dan Yohan  Wijaya (Acer Consumer Lead, Intel Asia Pasific Japan)  tak menutupi  rasa bangga jika Acer telah mencatatkan sejarah sebagai tuan rumah pertama penyelenggaraan turnamen bergengsi ini tahun lalu. Tentu saja,  sekaligus menetapkan benchmark yang tinggi bagi penyelenggaraan selanjutnya.

Pada Asia Pacific Predator League 2019,  ada delapan tim profesional dari Indonesia yang akan bertanding, yakni PG Barracx, The Prime, RRQ, Juggernaut, Boom.ID, EVOS, Capcorn, dan Alter Ego.


Ada delapan tim profesional dari Indonesia pada Asia Pasific Predator League 2019 (dok.windhu)


Dalam Kick-off Match Pro Team antara PG Barracx dan The Prime yang dimenangkan oleh PG Barracx. Komentar dari  dua caster yang Brand Ambassador Predator Warrior Acer, yakni  Dimas Dejet dan Melondoto meramaikan suasana pertandingan . Sebelumnya, dua Predator Warrior cantik ikut hadir, Jeanice Ang dan Edelyn juga ikut memberikan pendapat.

Potensi eSports Indonesia
Eddy Lim, Chairman IeSPA (Asosiasi eSports Indonesia) menyampaikan jika saat ini potensi e-sport dan industri gaming  di Indonesia sangat besar.  Banyak generasi muda semakin menggandrungi olahraga elektronik yang sedang bergengsi di tingkat lokal maupun internasional.

Peluang esports di Indonesia masih terbuka (dok.windhu)


Saat ini, nama olahraga esports masih belum banyak dikenal masyarakat secara luas Indonesia. Namun, penyelenggaraan eksibisi di Asian Games 2018 beberapa waktu lalu, menjadi bukti olahraga ini sudah mendapatkan tempat. Olahraga yang bisa dimainkan siapapun asal berlatih, memiliki passion, dan menjaga konsentrasi.

Peluang untuk berkiprah di dunia eSports masih sangat terbuka karena sangat luas, mulai dari caster (komentator pertandingan), pembawa acara, analis pertandingan, pelatih, content creator, manajer tim, dan atlet e-sport itu sendiri.  

PG Barracx dan The Prime (dok.windhu)

Disebutkan Edi Lim, Indonesia berada pada  peringkat ke-16 dalam daftar industri game di dunia. Hal ini  adalah bukti jika gaming di Indonesia begitu menjanjikan. Karenanya, dari ajang bergengsi seperti Asia Pasific Predator League diharapkan dapat muncul talenta-talenta baru dari dunia e-sport Indonesia.

Berdasarkan data Statista (2018), pendapatan global dari pasar game pada tahun 2018 sebesar USD 137.9 miliar atau tumbuh 13.3% dari tahun sebelumnya (yoy). Berdasarkan wilayah, Asia Pasifik masih merupakan pasar game terbesar dengan pendapatan mencapai USD 71.4 miliar pada 2018, bertumbuh 16,8% secara year-on-year.

Dua kategori game populer yang dipertandingkan dalam Asia Pasific Predator League 2019, yaitu DOTA 2 (Defense of The Ancients 2) & Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG). (Dok. windhu)
Dua kategori game populer yang dipertandingkan dalam Asia Pasific Predator League 2019, yaitu DOTA 2 (Defense of The Ancients 2) & Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG). (Dok. windhu)


Melihat  potensi pasar seperti Indonesia dan India, Asia Pasifik adalah rumah bagi pasar game yang tumbuh paling cepat secara global. Dengan pertumbuhan yang signifikan ini, kata Herbert,  Acer melihatnya sebagai potensi yang besar untuk mengakselerasi kemajuan industri ini.

Caranya,  melalui turnamen sebagai platform untuk mengasah bakat para gamers, yang tentunya  didukung oleh perangkat game terbaik dari Predator. Selain juga,   peningkatan adopsi smartphone, infrastruktur internet yang lebih baik, dan permainan berbasis selular yang kompetitif dan imersif. 

Meriahnya Kick Off Match  Asia Pasific Predator League 2019 (foto:Acer)


Pasar-pasar yang terbuka ini telah mendorong kawasan untuk menangkap 52% dari pasar global. Sementara Amerika Utara adalah wilayah terbesar kedua dengan USD 32,7 miliar dalam pendapatan game, mengungguli  Eropa Barat di posisi ketiga.


PUBG dan DOTA 2
Dua kategori game populer yang dipertandingkan dalam Asia Pacific Predator League 2019, yaitu DOTA 2 (Defense of The Ancients 2) & Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG). Kenapa  kedua game itu?


Predator Shield (foto:Acer)

Saat ini, PUBG merupakan salah satu judul game terbesar di dunia, yang sukses mengamankan tempatnya sebagai fenomena game global.  Terdapat  lebih dari 400 juta pemain di semua platform di seluruh dunia dan lebih dari 50 juta eksemplar terjual.

Sementara,  DOTA 2  pada tahun 2016 telah mendapatkan pengakuan sebagai platform game terbaik karena menarik jumlah pemain terbanyak, yaitu, 1,3 juta gamer. Di sisi lain, DOTA 2 telah menjadi platform permainan popular yang sudah terbiasa dinikmati oleh para gamers, dalam komunitas game dan eSports. Karenanya, sudah pasti turnamen bergengsi ini akan menarik banyak  jumlah pemain dan penggemar eSports.

Perangkat gaming predator (dok.windhu)

Untuk meramaikan kampanye Asia Pacific Predator League 2019, Acer Indonesia juga menghadirkan beragam aktivitas on-ground dengan berbagai promo menarik. Ada  promo gaming series berhadiah monitor gaming, gaming gears Predator dan game PUBG untuk setiap pembelian perangkat gaming Predator, selama Oktober hingga 31 Desember 2018.

Nah, untuk informasi lebih lanjut tentang Asia Pacific Predator League 2019  bisa mengunjungi www.predator-league.com atau www.acerid.com/predator-league untuk situs resmi khusus pertandingan Indonesia.





Komentar

  1. Game aja udah menjadi ajang permainan yang sekarang masuk kategori sport ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. Kalau dulu gamers dianggap cuma sekedar main game. Sekarang sudah menjadi profesi yang cukup diperhitungkan.

      Hapus
  2. Para pecinta game pasti seneng nih adanya ajang ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang banget karena turnamen bergengsi dengan banyak negara ikut memang sudah lama ditunggu-tunggu.

      Hapus
  3. Pasti para gamers sejati bertarung mati matian untuk jadi juara. MAen game yang berfaedah. terus biasanya penontonnya pada nongkrong deket situ atau wajib beli kli ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaps, sekarang bukan cuma sekedar main game. Sudah jadi olahraga elektronik. Hadiahnya juga guede. Silakan pantengin di icafe ya...

      Hapus
  4. Baru tau kalau game itu merupakan e-sport, yang ternyata ada turnamennya juga.. Makanya, anak-anak muda sekarang banyak yang hobby main PUBG dan DOTA 2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, PUBG dan DOTA 2 populer banget saat ini. Sudah masuk sebagai cabang olahraga esport dan merupakan turnamen internasional.

      Hapus
  5. 6 milyar... ck...ck...ck...
    Pantas generasi jaman now ngegame mulu. Wajar kalau gemar membaca kalah telak dengan video game ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru turnamen eSports malah bagus diadakan sebagai penyaluran hobi dan passion. Dari hasil gaming, bisa jadi profesi yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

      Hapus
  6. Wuih, turnamen game. Anakku yang cowok, yang pertama, kalo tahu in bakal mupeng deh. Taraf Asia Pasific pula. Kebayang deh serunya persaingannya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget. Gaming sekarang sudah bukan cuma sekedar permainan atau hobi, sudah bisa jadi profesi dan mendapatkan penghasilan

      Hapus
  7. Daku seneng main games, cuma kalau udah level kayak gini, haddeh nyerah deh. Banyak yang lebih jago 😂. Mudah-mudahan turnamen ini ada terus yah biar #SemangatCiee

    BalasHapus
  8. Huwaaa hasiahnya gak main-main ya mbak. Bukan jutaan lagi total hadiahnya,tapi milyaran! Perlu alih profesi apa nih dari bloger jadi gamer? Haha

    BalasHapus
  9. aku baru tahu ada istilah olahraga kayak gini kak, masih belum paham, kayaknya seru ya, penonton juga seru

    BalasHapus
  10. Main games DOTA dulu waktu jaman aku kuliah sampai-sampai sempat terlambat UAS gara-gara teman ngajak mabar.

    BalasHapus
  11. aih ketinggalan aku akan ajang e-sport terbesar se-asia ini. lengkap ya peluang terjun ke lapangan olahraga dunia maya ini, mulai dari komentator hingga atletnya

    BalasHapus
  12. Sekarang segala hal telah berubah banyak ya kak. Ajang E-sport bahkan sudah diakui keberadaannya. Padahal kalau dulu permainan game semacam dota hanya sebatas permainan di warnet. Tapi sekarang udah jadi turnamen tingkat dunia. Keren deh.

    BalasHapus
  13. Pastinya jagoan2 ngegame semua ini...keren ya mereka... bisa sampe cinta gitu sama game...

    BalasHapus
  14. Wah baru tahu game sampai jadi e sport seperti ini...taunya sdh jd mata pencaharian saja...hmmm asal pinter ngatur wkt n berdampak positif its ok aja sih

    BalasHapus
  15. para gamer beraksi nih..keren ya...jadi pengen tahu meriahnya kalau olipiade besok 2020 ada esportnya juga

    BalasHapus
  16. Bermain game bagi sebagian orang adalah aktivitas yang menyenangkan.. Bisa menghilangkan kejenuhan dan kita bisa berimajinasi juga ya saat memainkan game favorit..

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan memberikan komentar positif demi kemajuan dan kenyamanan pembaca.

Postingan populer dari blog ini

Meet Me after Sunset, Hadirnya Bad Boy yang Mengubah Hidup Freak Girl

Cewek remaja masa kini umumnya akrab dengan semua yang berbau gadget dan media sosial. Sedikit-sedikit selfie lalu upload di instagram ataupun membuat video blog (vlog) yang ditayangkan di channel  youtube. Namun, cewek satu ini sangat berbeda.
Vino (Maxime Bouttier) remaja ganteng asal Jakarta yang terpaksa pindah sekolah ke Rancaupas, Bandung, sangat penasaran melihatnya. Gadis (Agatha Chelsea), lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan bermain dengan alam. Anehnya, lebih memilih keluar di malam hari.

Ah, kenapakah?  Gadis hanya punya satu teman, yakni Bagas (Billy Davidson). Keunikan Gadis membuat Vino mendekatinya. Ingin melindungi sekaligus membantu Gadis untuk dapat mengejar banyak sekali mimpi-mimpi yang dipendam.
Kehadiran Vino sebagai anak baru di sekolah, sekaligus sosok baru dalam hidup Gadis dan Bagas mengubah segalanya. Bagas yang selama ini tinggal dengan nini-nya (Marini Sardi) merasa sangat tahu dan sangat mengerti Gadis.



Keduanya tumbuh besar bersamaan. Bagas…

Mbak Yani dan Kanker Leher Rahim Stadium 3 B-nya...

HARI  masih pagi. Masih belum pukul 6.00 tapi perempuan itu sudah bersiap-siap. Beranjak untuk segera membersihkan tubuh. Bersiap untuk mandi. Berpakaian yang baik dan sedikit berpupur bedak tipis. Menyantap sedikit makanan yang disediakan agar perut tidak kosong meskipun harus diiringi rasa mual.
“Sudah siap-siap, mbak?” sapa saya.
Perempuan  bertubuh kurus itu tersenyum  manis. Dia hanya tinggal menunggu adik perempuannya yang akan menemaninya.
Kamis 4 Februari 2016 ini, pada pekan ini,  adalah jadwalnya untuk kembali  menjalani transfusi darah di RS Kanker Dharmais, Jl S Parman, Slipi. Upaya penambahan darah itu sangat dibutuhkan perempuan ini untuk memperpanjang kelangsungan hidupnya. 
Pekan lalu, Mbak Yani menghabiskan suplai  tiga kantung darah. Harus ada yang terganti dari keluarnya pendarahan yang terus menerus dari bagian kewanitaan yang  ada di tubuhnya. Pendarahan yang selalu Pendarahan yang harus memaksanya selalu memakai pembalut.
Pendarahan yang secara p…

Menjaga Passion For Better Melalui Beasiswa Sharing The Dream

Melihat sosok Tasya Kamila, perempuan muda cantik yang bisa menggapai pendidikan tinggi hingga meraih gelar master Public Administration dari Columbia University melalui beasiswa, rasa kagum terselip.
Di usianya yang menjelang 26 tahun, Tasya yang dulunya penyanyi cilik ini, tetap bisa menjalani passionnya di bidang hiburan. Tetap senang bernyanyi dan tetap suka dengan kesempatan bermain sinetron, serta berakting di layar lebar.
Tak hanya itu, Tasyasaat ini juga sedang mengembangkan sebuah proyek energi di Sumba, NTT. Keinginannya untuk bisa berkontribusi kepada masyarakat dan bangsa diwujudkan melalui proyek-proyek yayasan miliknya yang bergerak di sektor lingkungan hidup, Green Movement Indonesia.
Kehadiran Tasya Kamila dengan sederet prestasinya itu menjadi salah satu inspirasi yang mengemuka dalam kegiatan SCG Sharing The Dreams Blogger Gathering di The Hook, Jl. Cikatomas No. 35, Senopati Area, Jakarta Selatan, Kamis 26 Juli 2018.



Menjadi seseorang yang memiliki pendidikan tinggi, …